Pandangan masyarakat Indonesia terhadap kesehatan dan masa depan kini mengalami pergeseran signifikan. Fokus tidak lagi semata pada panjangnya usia, melainkan pada kualitas hidup yang mandiri dan sehat, terutama dalam menghadapi risiko penyakit kritis yang tak terduga.
Pergeseran Prioritas Kesehatan Masyarakat
Hasil riset Manulife Asia Care Survey 2025 menunjukkan adanya perubahan cara pandang tersebut. Sebanyak 56 persen responden Indonesia menyatakan bahwa kebebasan finansial serta kemampuan untuk tetap aktif secara fisik, mental, dan sosial lebih penting dibandingkan sekadar memperpanjang usia. Hanya 6 persen responden yang menjadikan memaksimalkan usia hidup sebagai harapan utama di masa tua.
Presiden Direktur Manulife Indonesia, Lauren Sulistiawati, pada Rabu (5/2/2026), menegaskan bahwa temuan ini mengindikasikan usia panjang bukan lagi tujuan akhir. Masa tua kini dipandang sebagai perjalanan yang memerlukan persiapan matang. “Usia panjang bukan hanya soal hidup lebih lama, melainkan tentang bagaimana menjalani hidup yang bermakna dan mandiri,” ujar Lauren melalui keterangan tertulis.
Pergeseran ini juga mengubah makna kesehatan. Bagi banyak orang, sehat tidak lagi hanya berarti bebas dari penyakit, tetapi juga kemampuan untuk tidak bergantung pada orang lain dan tetap melakukan hal-hal penting bagi diri sendiri dan keluarga.
Kesenjangan Persepsi dan Praktik Hidup Sehat
Survei Manulife menunjukkan 84 persen responden Indonesia sepakat bahwa kemandirian merupakan inti dari kondisi sehat. Namun, terdapat kesenjangan antara persepsi dan praktik. Hampir 64 persen responden berusia 25 hingga 44 tahun mengaku mulai mengalami masalah kesehatan fisik atau mental yang memengaruhi gaya hidup mereka.
Meskipun demikian, 82 persen responden merasa upaya menjaga kesehatan yang dilakukan sudah cukup. Padahal, langkah pencegahan dan pemantauan kesehatan belum dilakukan secara merata dan menyeluruh. Kesenjangan ini dapat berdampak serius, terutama saat penyakit kritis seperti kanker muncul.
Penyakit kritis, termasuk kanker, tetap menjadi tantangan kesehatan terbesar. Banyak kasus terdeteksi pada stadium lanjut, yang membatasi pilihan terapi dan meningkatkan biaya perawatan secara drastis. Diagnosis kanker juga membawa konsekuensi emosional, sosial, dan finansial bagi keluarga, sering kali memaksa perubahan peran dan prioritas hidup.
“Di sinilah makna usia panjang yang diungkap dalam Asia Care Survey menemukan relevansinya,” jelas Lauren. Ia menambahkan, “Dalam menghadapi penyakit kritis, menjadi sehat tidak sekadar bertahan hidup, tetapi mampu untuk tetap mandiri, menjaga keharmonisan keluarga, dan menjalani hidup sesuai nilai yang diyakini.”
Peran Perlindungan Finansial Hadapi Penyakit Kritis
Dalam menghadapi risiko penyakit kritis, perlindungan yang memadai membantu keluarga mengambil keputusan dengan tenang, tetap mandiri, dan menjaga harga diri. Oleh karena itu, asuransi kesehatan dan perencanaan keuangan menjadi krusial.
“Tren portofolio perlindungan menunjukkan bahwa asuransi penyakit kritis semakin relevan. Pertumbuhan premi yang konsisten mencerminkan perubahan cara pandang nasabah yang kini melihat penyakit kritis sebagai risiko finansial jangka panjang, bukan semata risiko medis,” papar Lauren.
Inovasi Manulife dalam Solusi Perlindungan
Manulife menghadirkan Manulife Critical Care Protection (MCCP) untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan perlindungan penyakit kritis. MCCP mencakup perlindungan kondisi kritis sejak tahap awal hingga akhir, serta memberikan manfaat tambahan seperti perlindungan ICU dan pembaruan uang pertanggungan khusus untuk penyakit kanker.
Manulife juga bekerja sama dengan Bank Danamon menghadirkan Proteksi Prima Kritis Andalan. Produk ini menyediakan perlindungan atas empat penyakit kritis utama, yaitu kanker, jantung, stroke, dan gagal ginjal, dengan proses underwriting yang lebih sederhana. Produk ini juga memberikan perlindungan jangka panjang bagi anggota keluarga lain untuk menjaga ketahanan rencana finansial secara menyeluruh.
“Pendekatan yang fleksibel ini menunjukkan bahwa Manulife menyesuaikan ragam solusi kesehatan sesuai kebutuhan setiap keluarga. Manulife juga menyediakan akses ke layanan medis tambahan, seperti Medix untuk pendampingan kesehatan yang lebih holistik bagi nasabah,” terang Lauren.
Komitmen Manulife Melalui Pembayaran Klaim
Sebagai bentuk dukungan, Manulife Indonesia telah membayarkan klaim sebesar Rp 9,448 triliun (unaudited) selama tahun 2025. Secara spesifik, nilai klaim asuransi penyakit kritis tercatat mencapai Rp 23,5 miliar pada periode yang sama.
Jenis penyakit kritis yang paling banyak diklaim masih didominasi oleh penyakit jantung, kanker, stroke, dan gagal ginjal. Keempat penyakit ini merupakan penyakit katastropik dengan dampak jangka panjang terhadap kesehatan maupun stabilitas keuangan keluarga.
“Dalam konteks ini, klaim tidak dipandang sebagai beban, tetapi fungsi utama perlindungan dan wujud nyata komitmen untuk mendampingi nasabah pada fase kehidupan yang paling menantang,” terang Lauren.
Peningkatan biaya pengobatan dan kemunculan risiko penyakit serius di usia produktif semakin menguatkan relevansi perlindungan penyakit kritis. Kelompok usia produktif, khususnya pencari nafkah utama keluarga, menjadi segmen yang paling membutuhkan perlindungan ini. Perlindungan penyakit kritis akan lebih efektif dan terjangkau jika dimulai sejak dini.
Peringatan Hari Kanker Sedunia setiap Februari menjadi momen reflektif bahwa perlindungan adalah tentang kepedulian untuk menjaga kualitas hidup, kemandirian finansial, serta harga diri dan keluarga, bahkan di tengah ketidakpastian.
Informasi lengkap mengenai isu ini disampaikan melalui pernyataan resmi Manulife Indonesia yang dirilis pada Rabu, 5 Februari 2026.
