Finansial

Mendag Budi Santoso Akan Temui Mendes Yandri Susanto, Bahas Wacana Penghentian Ekspansi Alfamart-Indomaret

Advertisement

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso berencana menemui Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto untuk meminta penjelasan terkait wacana penghentian ekspansi bisnis Alfamart dan Indomaret di desa. Pernyataan kontroversial Mendes tersebut sebelumnya disampaikan pada November 2025 dan kembali menjadi sorotan publik.

Mendag Budi Santoso Cari Klarifikasi

Mendag Budi Santoso, yang akrab disapa Busan, menyatakan akan segera bertemu Mendes Yandri Susanto. “Saya, saya rencananya ketemu Pak Mendes ya. Saya belum tahu maksudnya seperti apa sebenarnya,” kata Busan saat ditemui di Stasiun Gambir, Jakarta, Selasa (24/2/2026). Ia mengaku telah membuat janji untuk pertemuan tersebut.

Busan menambahkan bahwa dalam pertemuan itu, ia akan meminta penjelasan rinci mengenai permintaan agar dua raksasa ritel Indonesia tersebut menghentikan ekspansinya. “Saya dengan Pak Mendes kemarin tadi memang mau janjian ada acara lain sekalian saya mau nanya itu seperti apa maksudnya ya,” tuturnya.

Wacana Penghentian Ekspansi Ritel Modern

Wacana ini bermula dari pernyataan Mendes PDT Yandri Susanto dalam rapat dengan Komisi V DPR RI di Kompleks Parlemen pada 12 November 2025. Saat itu, Yandri menyatakan sangat setuju jika ekspansi bisnis Kopdes Merah Putih disetop.

Yandri berpendapat bahwa pemerintah harus berpihak kepada masyarakat desa dan menghentikan perkembangan ritel modern yang dinilai sudah merajalela. “Saya setuju Kopdes jalan, Alfamart cukup sampai di situ, sudah 20.000 lebih Alfamart dan Indomaret. Dan luar biasa itu merajalelanya, dia lagi, dia lagi, dia lagi. Betul itu. Kekayaannya sudah terlalu menurut saya untuk Republik ini,” tegas Yandri. Ia menilai minimarket dapat mengancam keberadaan Kopdes Merah Putih.

Tanggapan Kementerian Perdagangan

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri (Dirjen PDN) Kementerian Perdagangan, Iqbal Shoffan Shofwan, menjelaskan bahwa penyebaran toko ritel modern sudah diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 tentang Perdagangan maupun Undang-Undang tentang Perdagangan.

Advertisement

Menurut Iqbal, sebagian besar toko ritel modern menyebar di perkotaan, sementara koperasi desa beroperasi di wilayah pedesaan. “Jadi sampai sekarang kita masih jarang sekali menemukan ritel modern yang berjejaring, itu ada di desa-desa. Jadi saya pikir enggak ada masalah, justru kita malah meng-encourage kemitraan antara koperasi dengan ritel modern,” kata Iqbal.

Iqbal juga melihat bahwa Kopdes Merah Putih dan ritel modern memiliki pangsa pasar masing-masing. Koperasi menampung produk masyarakat setempat, sedangkan toko ritel modern menampung produk industri. “Pasarnya sudah ada masing-masing,” ujarnya, menambahkan bahwa “Ritel modern itu kan mungkin 80-90 persen itu yang mereka jual kan produk-produk yang dihasilkan oleh pabrikannya.”

Sikap Berbeda dari Menteri Koperasi

Mengutip Antara, Menteri Koperasi Ferry Juliantono memiliki pandangan yang berbeda. Ia menyatakan bahwa pemerintah tidak bermaksud menghentikan ekspansi jaringan Alfamart dan Indomaret.

Ferry memandang bahwa pasar di desa tidak didominasi oleh ritel modern karena sudah terdapat Kopdes Merah Putih. “Iya sebaiknya desa jangan Alfamart dan Indomaret karena sudah ada Kopdes, karena biar uang itu berputar di desa tidak ke pemilik saham yang di Jakarta,” katanya di Jakarta, Sabtu (21/2/2026).

Informasi mengenai polemik ekspansi ritel modern dan koperasi desa ini disampaikan melalui pernyataan resmi para menteri dan pejabat terkait yang dirilis dalam berbagai kesempatan publik.

Advertisement