Islami

Mengenal Ragam Menu Buka Puasa Unik di Berbagai Belahan Dunia: Dari Kolak Indonesia hingga Kabsah Arab

Advertisement

Waktu Maghrib pada bulan Ramadan di berbagai belahan dunia menjadi ruang perjumpaan antara nilai spiritual, tradisi keluarga, dan kekayaan kuliner yang diwariskan lintas generasi. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 187 yang menegaskan batas waktu puasa hingga datangnya malam, momen iftar di setiap negeri memiliki karakteristik tersendiri. Rasulullah SAW juga menganjurkan berbuka dengan yang manis dan sederhana, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits tentang kebiasaan beliau berbuka dengan kurma sebelum menunaikan salat.

Dalam buku Ramadan: Reflections on the Holy Month karya Tariq Ramadan, dijelaskan bahwa tradisi berbuka di dunia Islam selalu menjadi ekspresi syukur sekaligus solidaritas sosial. Dari Asia Tenggara hingga Timur Tengah, meja iftar menjadi simbol kebersamaan umat yang terekam dalam berbagai hidangan khas berikut ini.

Bubur Lambuk Malaysia dan Harira Maroko

Di Malaysia, aroma bubur lambuk hampir selalu menguar menjelang waktu Maghrib. Hidangan ini berupa bubur nasi gurih yang dimasak bersama daging, santan, dan aneka rempah seperti serai, kayu manis, serta daun pandan. Bubur lambuk identik dengan tradisi berbagi di masjid-masjid, di mana komunitas setempat memasaknya dalam jumlah besar untuk dibagikan gratis. Menurut kajian Anissa Helou dalam buku Food of the Islamic World, praktik ini memperkuat solidaritas sosial sebagai bentuk ibadah kolektif.

Bergeser ke Maroko, iftar hampir tak pernah lengkap tanpa harira. Sup kental berbahan dasar tomat, lentil, buncis, daging, dan rempah-rempah ini menjadi menu pembuka utama. Harira biasanya disantap bersama kurma dan roti khas Maroko untuk mengembalikan energi secara bertahap. Peter Heine dalam Culinary Cultures of the Middle East menyebutkan bahwa harira telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas Ramadan di Afrika Utara selama berabad-abad.

Kolak Indonesia dan Kabsah Arab Saudi

Di Indonesia, kolak menjadi ikon berbuka puasa dengan campuran pisang, ubi, labu, santan, dan gula aren. Secara simbolik, kolak kerap dimaknai sebagai pengingat akan kelembutan dan rasa syukur. Sejarawan Fadly Rahman dalam buku Sejarah Makanan Indonesia menjelaskan bahwa hidangan manis seperti kolak berkembang pesat seiring tradisi Ramadan di Jawa dan Sumatera sebagai bentuk akulturasi tradisi lokal dengan nilai Islam.

Sementara itu, masyarakat Arab Saudi biasa menyajikan kabsah sebagai hidangan utama. Nasi berbumbu dengan ayam atau daging kambing ini dimasak bersama kapulaga, cengkeh, kayu manis, lada hitam, dan pala. Kabsah melambangkan keramahan khas Timur Tengah, di mana tradisi berbagi sepiring nasi besar untuk disantap bersama-sama bertujuan mempererat ikatan keluarga.

Advertisement

Ash Reshteh Iran dan Samosa India

Di Iran, menu khas yang disajikan adalah ash reshteh, yakni sup kental yang terbuat dari campuran kacang-kacangan, sayuran hijau, mi (reshteh), dan rempah-rempah. Dalam budaya Persia, mi panjang dalam hidangan ini dimaknai sebagai simbol harapan panjang umur dan keberkahan bagi yang menyantapnya.

Di kawasan Asia Selatan seperti India, samosa menjadi camilan favorit untuk berbuka. Kulit tepung yang digoreng renyah ini diisi kentang berbumbu, kacang polong, atau daging. Salma Husain dalam buku The Mughal Feast mencatat bahwa tradisi menyajikan makanan berbumbu kuat saat Ramadan di wilayah ini berkembang sejak era Kesultanan Mughal yang memadukan budaya Persia dan India.

Qatayef sebagai Penutup Manis

Qatayef adalah hidangan penutup populer di berbagai negara Arab, termasuk Yordania. Adonan mirip pancake mini ini diisi kacang, keju, atau krim, lalu digoreng dan disiram sirup manis. Kehadiran qatayef sangat identik dengan Ramadan, bahkan banyak pedagang musiman yang khusus menjualnya hanya selama bulan suci ini.

Keberagaman menu berbuka puasa di dunia menunjukkan bahwa Islam hadir dalam berbagai budaya tanpa menghilangkan identitas lokal. Prinsip utamanya tetap merujuk pada hadits riwayat Abu Dawud mengenai rasa syukur saat dahaga telah hilang dan pahala telah ditetapkan. Informasi mengenai ragam tradisi kuliner Ramadan ini dirangkum dari berbagai literatur sejarah makanan dan catatan kebudayaan Islam global.

Advertisement