Menjelang peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional pada 21 Februari, peran perempuan, khususnya ibu, kembali menjadi sorotan sebagai garda terdepan dalam pelestarian bahasa daerah. Riset sosiolinguistik menunjukkan bahwa pola komunikasi ibu memiliki pengaruh determinan terhadap kemampuan linguistik anak, melampaui pengaruh ayah dalam struktur keluarga multibahasa.
Dominasi Trajektori Bahasa Ibu dalam Keluarga
Penelitian bertajuk Modeling Social Factors in Language Shift yang dilakukan oleh Maya Abtahian, Abigail Cohn, dan Thomas Pepinsky (2016) mengungkap temuan krusial mengenai transmisi bahasa. Dalam keluarga dengan latar belakang bahasa campuran, anak cenderung mengikuti trajektori bahasa yang digunakan oleh ibu.
Data menunjukkan bahwa jika ibu menggunakan bahasa daerah, anak akan cenderung menguasai bahasa tersebut meskipun sang ayah merupakan penutur bahasa Indonesia. Sebaliknya, jika ibu beralih menggunakan bahasa nasional atau asing, transmisi bahasa daerah antargenerasi dipastikan akan terhambat. Fenomena ini menempatkan ibu sebagai penentu utama kesintasan sebuah bahasa vernakuler.
Ancaman Kepunahan dan Pergeseran Identitas
Urgensi penyelamatan bahasa daerah semakin mendesak mengingat prediksi dari Lindell Bromham dkk. (2022) dalam jurnal Nature Ecology & Evolution. Tanpa intervensi, tingkat kehilangan bahasa diprediksi meningkat tiga kali lipat dalam 40 tahun ke depan, dengan estimasi satu bahasa hilang setiap bulan.
Sensus BPS 2020 yang dirilis pada 2024 mengonfirmasi adanya pergeseran ini di Indonesia. Saat ini, penutur jati bahasa Indonesia mencapai hampir 72 juta orang, sementara bahasa asing berkisar di angka 340 ribu penutur. Kondisi ini menciptakan paradoks loyalitas berbahasa yang berdampak pada pengaburan identitas etnik.
Dampak pada Pengetahuan Lokal dan Sains
Kepunahan bahasa bukan sekadar hilangnya alat komunikasi, melainkan juga hilangnya sistem ilmu pengetahuan. Johan Iskandar dari Universitas Padjadjaran (2016) menekankan bahwa pengetahuan ekologi tradisional ditransmisikan secara lisan melalui bahasa ibu. Sebagai contoh, kajian ekolinguistik Titian B. Gea dan Kunjana Rahardi (2021) menemukan 10 leksikon tumbuhan obat tradisional di Nias yang mengandung falsafah hidup masyarakat setempat.
Revitalisasi Melalui Model Language Nest
Untuk mengatasi ancaman kepunahan, diperlukan pemberdayaan perempuan melalui pendekatan top-down dan bottom-up. Selain kebijakan pemerintah terkait kurikulum multibahasa, metode language nest atau sarang bahasa menjadi salah satu solusi praktis yang dapat diterapkan di tingkat keluarga.
Model ini, yang awalnya sukses menyelamatkan bahasa Maori di Selandia Baru pada 1973, dapat diadaptasi melalui aktivitas sederhana seperti read aloud atau membaca nyaring cerita anak berbahasa daerah. Melalui interaksi yang afirmatif dan penuh kasih, ibu dapat menghidupkan kembali penggunaan bahasa daerah dalam ruang domestik.
Kontribusi Bahasa Daerah terhadap Bahasa Indonesia
Bahasa daerah terus memperkaya khazanah bahasa nasional. Pada tahun 2025, kata ‘palum’ dari bahasa Batak Pakpak resmi diadopsi ke dalam KBBI sebagai antonim dari kata ‘haus’. Selain itu, kosakata seperti ngabuburit (Sunda), bablas (Jawa), sanak (Minangkabau), hingga porobibi (Papua) telah lebih dulu memperkuat identitas kebahasaan Indonesia.
Informasi mengenai pentingnya pelestarian bahasa daerah ini selaras dengan tema PBB tahun 2026 yang menyoroti suara generasi muda dalam pendidikan multibahasa sebagai upaya menjaga keberagaman budaya global.
