Survei terbaru yang dilakukan Litbang Kompas pada Januari 2026 menunjukkan bahwa 23,3 persen responden berencana untuk mudik ke luar kota pada momen Lebaran 2026. Angka ini sedikit menurun dibandingkan tahun sebelumnya, namun tetap memotret potensi pergerakan jutaan masyarakat Indonesia.
Penelitian ini melibatkan 1.200 responden dari 38 provinsi melalui metode wawancara tatap muka, dengan tingkat kepercayaan 95 persen dan margin of error ±2,83 persen. Hasil survei memberikan gambaran komprehensif mengenai pola perjalanan dan preferensi pemudik menjelang hari raya Idul Fitri.
Puncak Arus Mudik Diprediksi Jelang Idul Fitri
Berdasarkan data survei, puncak arus mudik Lebaran 2026 diperkirakan akan terjadi pada H-1 Idul Fitri, yakni tanggal 20 Maret 2026, dengan 11,9 persen responden memilih tanggal tersebut untuk memulai perjalanan. Lonjakan signifikan juga terlihat pada H-2 dengan 10 persen dan H-3 dengan 7,6 persen pemudik.
Kecenderungan ini menunjukkan masyarakat memanfaatkan secara maksimal periode cuti bersama dan libur nasional untuk perjalanan pulang kampung. Pemerintah dan pihak terkait diharapkan dapat mengantisipasi kepadatan pada tanggal-tanggal krusial tersebut.
Kendaraan Pribadi Masih Jadi Primadona Pemudik
Dalam hal moda transportasi utama, sepeda motor mendominasi pilihan pemudik dengan persentase 25,5 persen. Disusul oleh mobil pribadi yang dipilih oleh 11,8 persen responden.
Sementara itu, bus antar kota menempati posisi ketiga dengan 9,6 persen, dan pesawat terbang dipilih oleh 5,2 persen responden. Dominasi kendaraan pribadi ini mengindikasikan potensi kepadatan lalu lintas di jalur darat, khususnya di Pulau Jawa yang menjadi pusat pergerakan mudik nasional.
Mayoritas Mudik Berkelompok Kecil dengan Durasi Sedang
Survei Litbang Kompas juga mencatat bahwa 78,6 persen responden berencana mudik bersama 1 hingga 5 anggota keluarga. Pola ini menunjukkan kecenderungan mudik keluarga inti yang berpotensi meningkatkan okupansi kendaraan pribadi.
Adapun durasi perjalanan yang paling banyak dipilih adalah 4 hingga 7 hari (48,6 persen), diikuti oleh 1 hingga 3 hari (35,1 persen). Data ini menggambarkan preferensi pemudik untuk menikmati waktu di kampung halaman dalam periode yang tidak terlalu singkat maupun terlalu panjang.
Anggaran Mudik Diprediksi Tembus Rp 2,5 Juta
Dari sisi anggaran, 38 persen responden memperkirakan biaya perjalanan mudik mereka akan melebihi Rp 2,5 juta. Angka ini menunjukkan bahwa pengeluaran rumah tangga selama Lebaran tetap tinggi.
Sebanyak 20,2 persen responden menganggarkan antara Rp 500.001 hingga Rp 1 juta, sementara 23,7 persen lainnya berada di kisaran Rp 100.000 hingga Rp 500.000. Kebutuhan ini mencakup transportasi, konsumsi, hingga oleh-oleh yang menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi mudik.
Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur Jadi Tujuan Favorit
Provinsi tujuan mudik terbanyak masih terkonsentrasi di Pulau Jawa, dengan Jawa Barat memimpin (22,7 persen), diikuti Jawa Tengah (21,8 persen), dan Jawa Timur (19,3 persen). Konsentrasi ini mengindikasikan potensi kepadatan lalu lintas antarprovinsi di wilayah tersebut.
Menariknya, evaluasi pelayanan Lebaran 2025 menunjukkan moda perkeretaapian mendapatkan nilai kepuasan tertinggi, terutama pada aspek sarana dan manajemen transportasi. Temuan ini dapat menjadi rujukan bagi pemerintah untuk mendorong pemanfaatan transportasi massal guna mengantisipasi lonjakan pemudik 2026.
Secara keseluruhan, survei Litbang Kompas memprediksi arus mudik Lebaran 2026 akan tetap signifikan, dengan dominasi kendaraan pribadi dan konsentrasi perjalanan di Pulau Jawa. Pemerintah dan pemangku kepentingan transportasi diharapkan dapat mengantisipasi potensi kepadatan, terutama pada H-2 hingga H-1 Idul Fitri.
Informasi mengenai potensi arus mudik Lebaran 2026 ini disampaikan melalui hasil survei Litbang Kompas yang dirilis pada Januari 2026.
