Memasuki abad kedua perjalanannya, Nahdlatul Ulama (NU) tengah melakukan refleksi kritis terhadap pola dakwah yang selama ini dijalankan. Organisasi Islam terbesar di Indonesia ini menyoroti perlunya transformasi dari pendekatan seremonial menuju dakwah yang lebih substansial dan memberdayakan umat, guna menjawab tantangan kontemporer.
Dakwah Panggung: Antara Tradisi dan Kebutuhan Substansial
Selama satu abad, dakwah NU yang bercirikan Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) berhasil merawat tradisi dan menjaga keindonesiaan. Namun, refleksi internal menunjukkan maraknya dakwah panggung dan pengajian akbar yang, meski dengan persiapan melelahkan, seringkali minim manfaat substansial bagi peningkatan kualitas hidup umat.
Pendekatan kultural-tradisional seperti tahlilan dan haul, yang dominan di era milenium pertama NU, cenderung menjadikan dakwah sebagai tontonan, bukan tuntunan. Panggung megah dan konsumsi melimpah seringkali tidak sebanding dengan output edukasi yang dihasilkan, membuat umat pulang tanpa solusi konkret atas masalah kemiskinan, pendidikan rendah, atau adaptasi teknologi.
Dari Pemeliharaan Tradisi Menuju Pemberdayaan Umat
Tradisi ritual keagamaan adalah jangkar spiritual yang penting bagi NU. Namun, kritik muncul terhadap kecenderungan dakwah yang berhenti pada aspek konsumtif-seremonial. Sumber daya ekonomi umat yang besar kerap terserap untuk acara satu malam, sementara masalah kemiskinan ekstrem, stunting, dan putus sekolah masih menghantui di desa-desa yang sama.
NU abad kedua didorong untuk bertransformasi dari sekadar pelestarian tradisi (maintenance) menjadi pemberdayaan (empowerment). Dakwah harus mencerahkan dan memberikan solusi praktis, dengan menggeser anggaran seremonial ke program pemberdayaan umat. Ini mencakup pelatihan keterampilan, solusi ekonomi, serta peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan masyarakat.
Menjawab Isu Kontemporer dan Adaptasi Digital
Fokus dakwah NU perlu diperluas untuk menjawab persoalan kontemporer seperti keadilan ekologis, kesehatan mental, dan literasi digital. Generasi muda saat ini tidak lagi berkumpul di panggung-panggung tradisional, sehingga pemanfaatan platform digital untuk menyebarkan konten yang relevan, singkat, dan mudah dipahami menjadi sebuah keharusan.
Substansi dakwah modern tidak lagi cukup hanya menyentuh aspek ritual dan akidah secara teoritis. Pesan-pesan agama perlu dikontekstualisasikan ke dalam ranah yang lebih luas, mulai dari ketahanan keluarga melalui pola parenting yang tepat, hingga kemandirian ekonomi lewat semangat entrepreneurship. Dengan demikian, agama akan dirasakan sebagai solusi konkret bagi problematika sosial dan kemanusiaan.
Standarisasi Kompetensi dan Kurikulum Dakwah Terstruktur
Untuk mewujudkan transformasi ini, diperlukan standarisasi kompetensi bagi para penggerak dakwah melalui program training dan sertifikasi pendakwah yang komprehensif. Langkah ini bertujuan memastikan setiap pendakwah memiliki bekal keilmuan multidisiplin dan pemahaman kebangsaan yang utuh.
Kurikulum dakwah juga perlu dirombak agar lebih terstruktur, jelas capaian kompetensinya, serta mengintegrasikan ilmu fiqih, tasawuf, dan filsafat secara komprehensif. Metode pembelajaran interaktif seperti studi kasus berbasis role-playing fiqih muamalah, diskusi filsafat Islam kontemporer, dan meditasi tasawuf yang dikemas dalam bentuk gamification atau narasi visual yang menyenangkan dapat meningkatkan SDM dai secara drastis.
Revitalisasi dakwah NU bukan berarti meninggalkan tradisi, melainkan menjiwainya dengan substansi. NU abad kedua diharapkan berani melangkah dari
