Teknologi

Nvidia Ungkap Visi Masa Depan Programmer: Jensen Huang Dorong Pengembang Tinggalkan Coding Manual, Beralih ke AI

Jensen Huang, CEO Nvidia, kembali melontarkan pernyataan kontroversial mengenai masa depan profesi di dunia teknologi. Ia secara terang-terangan meminta para programmer untuk berhenti menghabiskan waktu menulis kode secara manual, dan beralih fokus pada pemecahan masalah yang belum terjamah.

Visi Radikal Jensen Huang tentang AI

Huang menjelaskan bahwa kemajuan kecerdasan buatan (AI) telah mengubah lanskap pemrograman. Menurutnya, tugas manusia untuk menerjemahkan perintah ke dalam bahasa mesin seperti C++ atau Python kini telah sepenuhnya diambil alih oleh AI.

“Kami telah berhasil menutup kesenjangan teknologi,” ujar Huang dalam podcast No Priors AI yang dirangkum KompasTekno pada Minggu (31/1/2026). Ia menambahkan bahwa kini siapa pun bisa menjadi programmer, sebab bahasa pemrograman baru adalah bahasa manusia itu sendiri.

Di Nvidia sendiri, seluruh programmer telah menggunakan asisten coding berbasis AI bernama Cursor. Huang mengungkapkan kebahagiaannya jika tidak ada satu pun programmer di perusahaannya yang melakukan coding secara manual.

“Tidak ada yang lebih membahagiakan saya daripada jika tidak ada satu pun programer kami yang melakukan coding sama sekali,” kata Huang. “Dan mereka hanya murni memecahkan masalah-masalah yang belum ditemukan.”

Fokus pada Keahlian Spesifik dan Kolaborasi AI

Untuk generasi muda, Huang menyarankan agar mereka mengalihkan energi untuk memperdalam keahlian di bidang spesifik (domain expertise), seperti biologi, pendidikan, manufaktur, atau pertanian. Masa depan, menurutnya, adalah milik mereka yang mampu berkolaborasi dengan AI untuk memecahkan masalah di sektor-sektor tersebut.

Transformasi ini berarti insinyur masa depan harus menjadi pemecah masalah yang menggunakan AI sebagai alat kolaborasi utama untuk menciptakan solusi nyata, bukan sekadar penulis kode.

Visi ini bukan sekadar filosofi. Dalam beberapa bulan terakhir, termasuk saat tampil di acara Joe Rogan Experience, Huang gencar mempromosikan kerangka kerja “Tujuan vs Tugas”. Menulis kode dianggap sebagai “tugas”, sementara menemukan dan menyelesaikan masalah baru adalah “tujuan” utama. AI, kata Huang, seharusnya mengambil alih tugas-tugas teknis, membebaskan manusia untuk tujuan yang lebih besar.

Belajar dari Kasus Radiologi

Huang mengambil contoh dari dunia medis untuk membuktikan bahwa pendekatan ini justru dapat menciptakan lapangan kerja baru. Ia merujuk pada prediksi pionir AI, Geoffrey Hinton, yang bertahun-tahun lalu menyebut profesi ahli radiologi akan punah dalam lima tahun karena komputer bisa memindai gambar lebih cepat.

Namun, nyatanya jumlah ahli radiologi justru bertambah. Huang menjelaskan bahwa membaca hasil pindaian hanyalah tugas teknis. Tujuan sejatinya adalah mendiagnosis penyakit dan menyembuhkan pasien. Ketika AI mengambil alih pekerjaan kasar tersebut, kebutuhan akan keahlian manusia di baliknya justru meningkat.

Pandangan Berbeda dari Pakar Lain

Meskipun Huang optimistis, tidak semua pihak sependapat. Michael Truell, CEO Cursor, perusahaan pembuat alat AI yang dipakai Nvidia, justru memperingatkan bahaya “vibe coding“. Istilah ini merujuk pada kebiasaan pengembang yang membiarkan AI membangun perangkat lunak tanpa memeriksa hasilnya secara teliti.

“Jika Anda menutup mata dan tidak melihat kodenya, lalu membiarkan AI membangun sesuatu dengan fondasi yang lemah, hal-hal akan mulai runtuh,” kata Truell.

Mantan direktur AI Tesla, Andrej Karpathy, juga mengakui bahwa agen AI saat ini belum cukup mumpuni untuk bekerja sendiri sepenuhnya tanpa campur tangan manusia. Namun bagi Huang, taruhannya jelas: manusia yang fokus pada tujuan, bukan tugas, adalah mereka yang akan bertahan.

Informasi lengkap mengenai visi Jensen Huang ini disampaikan melalui pernyataan yang dirilis dalam podcast No Priors AI dan dirangkum oleh KompasTekno pada Minggu, 31 Januari 2026.