Wasit asal Somalia, Omar Artan, ditolak masuk ke Amerika Serikat setelah mendarat di Bandara Internasional Miami pada Sabtu (6/6/2026). Penolakan itu membuat mimpi Artan untuk terlibat dalam Piala Dunia 2026 buyar, meski ia telah tiba di AS usai terbang dari Turki.
Artan, 34 tahun, menjalani interogasi selama 11 jam oleh petugas perbatasan setibanya di Miami. Menukil New York Post, petugas menanyai Artan terkait politik Somalia dan dugaan keterlibatannya dengan organisasi teroris Al Shabaab.
Interogasi dan Deportasi di Bandara Miami
Selain diperiksa selama berjam-jam, Artan juga sempat ditahan di penjara bandara selama beberapa jam. Setelah proses itu, ia tetap tidak diizinkan masuk ke wilayah Amerika Serikat.
Omar Artan membantah keterlibatan dirinya dengan Al Shabaab. Namun, otoritas imigrasi AS tetap mengirimnya kembali ke Turki.
Pernyataan Andrew Giuliani
Direktur Eksekutif Gugus Tugas FIFA sekaligus pejabat Gedung Putih, Andrew Giuliani, ikut angkat bicara mengenai penolakan terhadap Omar Artan. Ia menilai keputusan petugas imigrasi di bandara sudah tepat.
“Meskipun saya tidak dapat membahas detailnya, saya dapat memberi tahu Anda bahwa itu adalah keputusan yang tepat oleh bea cukai dan patroli perbatasan dan saya mendukung keputusan itu,” kata Giuliani, dilansir dari New York Post.
“Siapa pun yang berkomunikasi dengan tokoh-tokoh jahat tidak akan diizinkan masuk,” tegasnya.
Konteks Kebijakan AS terhadap Somalia
Dalam laporan yang sama, Somalia disebut masuk daftar negara hitam oleh Presiden AS Donald Trump. Gedung Putih mengklaim negara di Afrika tersebut sebagai “tempat perlindungan teroris” yang mengancam keamanan nasional Amerika Serikat.
Di tengah konteks itu, kasus Omar Artan menjadi sorotan karena terjadi saat ia hendak mengejar peluang tampil sebagai wasit di Piala Dunia 2026. Artan sebelumnya disebut sebagai wasit terbaik Afrika 2025.
