Investasi perusahaan panas bumi global, Ormat Technologies, di Indonesia terus menunjukkan peningkatan signifikan. Hal ini seiring dengan penguatan proyek energi terbarukan di dalam negeri, termasuk penugasan pengelolaan Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Telaga Ranu berkapasitas 40 MW di Halmahera Barat, Maluku Utara. Penugasan ini mengacu pada Keputusan Menteri ESDM Nomor 8.K/EK.04/MEM.E/2026, sebagai bagian dari upaya pemerintah mengejar target net zero emission 2060 melalui pengembangan energi bersih berbasis panas bumi.
Riki Ibrahim, dosen senior Magister Energi Terbarukan Universitas Darma Persada, menilai perkembangan industri panas bumi perlu dilihat secara objektif. “Investasi Ormat meningkat, industri panas bumi semakin inovatif dan kompetitif,” ujarnya, dikutip Minggu (1/3/2026).
Struktur Kepemilikan Global Ormat Technologies
Ormat Technologies bermula dari pengembangan teknologi Organic Rankine Cycle (ORC) pada 1965 oleh Lucien dan Yehudit Bronicki. Teknologi ini kini digunakan di berbagai pembangkit panas bumi dunia, termasuk di Indonesia.
Pada 2004, anak usaha Ormat di Amerika Serikat resmi melantai di New York Stock Exchange dengan kode ORA. Struktur korporasi kemudian disederhanakan pada 2015 setelah Ormat Technologies mengakuisisi perusahaan induknya sendiri.
Perubahan signifikan terjadi pada Mei 2017 ketika ORIX Corporation mengakuisisi saham gabungan dua pemegang saham terbesar Ormat senilai 627 juta dollar AS atau sekitar Rp 9,78 triliun (kurs Rp 15.600 per dollar AS). Namun, pada 2026, kepemilikan ORIX menyusut menjadi sekitar 0,62 persen hingga 4,92 persen.
Kepemilikan terbesar Ormat Technologies kini dipegang oleh dua institusi investasi global asal Amerika Serikat, yakni BlackRock dan Vanguard. BlackRock tercatat memiliki saham sekitar 11,47 persen hingga 14,67 persen, sedangkan Vanguard sekitar 9,07 persen hingga 9,99 persen. Secara keseluruhan, sebanyak 95,49 persen saham Ormat dikuasai institusi keuangan global.
Ekspansi Proyek Panas Bumi di Indonesia
Ormat Technologies memiliki lebih dari 200 proyek energi dengan kapasitas total mencapai 3,2 GW di berbagai negara. Di Indonesia, PT Ormat Geothermal Indonesia (OGI) terlibat dalam sejumlah proyek panas bumi.
Beberapa proyek tersebut antara lain Sarulla berkapasitas 330 MW yang mulai beroperasi pada 2017, serta proyek Gunung Salak dan Ijen masing-masing berkapasitas 15 MW dan 35 MW yang telah beroperasi pada 2025. Selain sebagai penyedia teknologi ORC, Ormat juga berperan sebagai pengembang panas bumi di Indonesia, menunjukkan komitmen investasi jangka panjang di sektor energi terbarukan nasional.
Riki Ibrahim berpandangan, ke depan, pendirian pabrik Ormat di Indonesia perlu didorong guna meningkatkan investasi dan transfer teknologi di sektor panas bumi. Menurutnya, langkah tersebut berpotensi meningkatkan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) serta menekan biaya teknologi agar lebih kompetitif dibandingkan teknologi flash condensing dalam pengembangan pembangkit listrik panas bumi di Indonesia.
Kemitraan Strategis dengan Archi Indonesia
Sebagai gambaran bagaimana Ormat memperluas pijakan bisnisnya di Indonesia, kerja sama dengan mitra domestik juga terus bergulir pada 2025 lalu. Ekspansi ini salah satunya terlihat dari kemitraan PT Ormat Geothermal Indonesia dengan PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) dalam pengembangan proyek panas bumi di Bitung, Sulawesi Utara.
ARCI, yang selama ini dikenal sebagai perusahaan tambang emas, mulai masuk ke sektor energi baru terbarukan sebagai bagian dari strategi diversifikasi jangka panjang sejak 2024. Izin pengelolaan panas bumi tersebut diberikan kepada PT Toka Tindung Geothermal (TTG), perusahaan patungan yang dibentuk ARCI bersama PT Ormat Geothermal Indonesia pada 13 Juni 2025.
Melalui entitas ini, proyek ditargetkan mampu memproduksi listrik tenaga panas bumi sebesar 40 megawatt (MW). Direktur Utama Archi Indonesia, Rudy Suhendra, menegaskan langkah tersebut menjadi pijakan awal ekspansi energi bersih perseroan. “Ini menjadi langkah awal yang penting bagi diversifikasi energi bersih kami,” ujar Rudy dalam paparan publik di Rajawali Place, Jakarta, Kamis (19/6/2025) lalu.
Setelah mengantongi izin, TTG menargetkan segera memperoleh persetujuan lingkungan serta melanjutkan tahap eksplorasi untuk mengonfirmasi sumber daya dan cadangan panas bumi di wilayah konsesi. Dalam proyek ini, Ormat berperan sebagai mitra strategis dalam aspek teknis dan pengembangan.
Direktur Keuangan Archi Indonesia, Hidayat Dwiputro Sulaksono, menyatakan koordinasi dengan Ormat terus dilakukan, terutama dalam penyusunan anggaran dan pengerjaan proyek. “Untuk kegiatan geothermal kami harus saling berkoordinasi dengan Ormat untuk budget dan sebagainya,” ucapnya dalam kesempatan yang sama di Jakarta, Kamis (19/6/2025).
Pada 2025, ARCI mengalokasikan belanja modal sebesar 80 juta dollar AS atau sekitar Rp 1,25 triliun (kurs Rp 15.600 per dollar AS), lebih rendah dari realisasi 2024 sebesar 91,8 juta dollar AS atau sekitar Rp 1,43 triliun. Mayoritas belanja modal 2025 difokuskan pada eksplorasi dan pengembangan tambang bawah tanah, seiring tetap berjalannya persiapan proyek panas bumi bersama Ormat di Bitung.
Informasi lengkap mengenai peningkatan investasi dan struktur kepemilikan Ormat Technologies disampaikan melalui keterangan resmi perusahaan dan analisis industri yang dirilis pada Minggu, 01 Maret 2026.
