Pahami Mengapa Akun Digital Mudah Dibobol: Jenis Sandi dan Kebiasaan Pengguna Jadi Kunci Kerentanan
Banyak akun digital dilaporkan rentan terhadap pembobolan bukan karena sistem keamanannya lemah, melainkan akibat jenis sandi yang digunakan terlalu mudah ditebak. Sebuah ulasan dari laman Internxt, yang diuraikan KompasTekno, menyoroti praktik penggunaan password pendek dan pola umum yang masih lazim di kalangan pengguna.
Sandi Pendek dan Pola Umum: Celah Keamanan yang Kerap Terabaikan
Menurut ulasan Internxt, sebagian besar pengguna internet masih mengandalkan password yang mudah diingat, umumnya terdiri dari 6 hingga 16 karakter. Kombinasi sederhana seperti deretan angka, kata kamus, atau informasi pribadi seperti nama dan tanggal lahir masih menjadi pilihan utama.
Praktik ini, meskipun praktis, sangat rentan terhadap serangan siber. Internxt menyoroti bahwa sandi dengan pola umum mudah dipatahkan melalui serangan brute-force maupun dictionary attack. Alat peretas modern bahkan mampu menebak jutaan kombinasi sandi dalam waktu singkat, terutama jika sandi tersebut termasuk dalam daftar populer.
Passphrase: Solusi Keamanan yang Lebih Tangguh
Masalah utama pada password konvensional terletak pada panjang dan strukturnya. Semakin pendek sandi yang digunakan, semakin sedikit pula kemungkinan kombinasi karakter yang harus ditebak oleh sistem peretasan, membuat proses pembobolan relatif cepat.
Sebaliknya, passphrase menawarkan tingkat keamanan yang jauh lebih tinggi. Terdiri dari rangkaian kata acak yang lebih panjang, passphrase meningkatkan kompleksitas sandi secara signifikan. Waktu yang dibutuhkan untuk memecahkannya bisa melonjak dari hitungan tahun menjadi ratusan tahun, memberikan perlindungan yang lebih kuat.
Kebiasaan Pengguna: Titik Rapuh dalam Keamanan Digital
Selain jenis sandi, kebiasaan pengguna juga turut memperparah risiko pembobolan akun. Internxt mencatat banyak pengguna masih memakai password yang sama untuk beberapa akun, jarang mengganti sandi, serta abai menggunakan password manager dan autentikasi ganda.
Kombinasi antara sandi yang lemah dan kebiasaan ini menjadikan password sebagai titik paling rapuh dalam keamanan digital. Oleh karena itu, penguatan keamanan tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada cara pengguna memilih dan mengelola sandi mereka.
Pada akhirnya, kerentanan akun digital terhadap pembobolan bukan semata karena teknologi keamanan yang tertinggal, melainkan karena jenis sandi yang digunakan belum dirancang untuk menghadapi ancaman siber modern. Informasi ini diuraikan lebih lanjut oleh KompasTekno berdasarkan ulasan dari laman Internxt.