Eskalasi konflik Iran-Israel sempat mengguncang pasar keuangan global, menyeret pasar kripto ke dalam volatilitas tajam. Namun, CEO Tokocrypto Calvin Kizana menilai pasar aset digital ini mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah tekanan awal. Ia menyoroti bagaimana Bitcoin dan aset kripto lainnya bereaksi terhadap gejolak geopolitik terkini.
Reaksi Awal Pasar Kripto dan Posisi Bitcoin
Calvin Kizana menjelaskan bahwa reaksi awal pasar menunjukkan kripto belum sepenuhnya berfungsi sebagai safe haven klasik seperti emas. Saat serangan terjadi, nilai pasar kripto sempat tergerus tajam sebelum akhirnya pulih kembali. “Reaksi awal pasar menunjukkan bahwa kripto belum sepenuhnya berfungsi sebagai safe haven klasik seperti emas. Saat serangan terjadi, nilai pasar kripto sempat tergerus tajam sebelum akhirnya pulih,” ujar Calvin saat dihubungi pada Senin (2/3/2026).
Bitcoin (BTC) tercatat menguat sekitar 3,5 persen dalam 24 jam terakhir setelah sempat tertekan. Selain itu, arus masuk ETF spot Bitcoin mencapai 787 juta dollar AS dalam sepekan terakhir. Angka tersebut menjadi sinyal bahwa investor institusional mulai kembali menyerap suplai di tengah ketidakpastian global.
Menurut Calvin, posisi Bitcoin saat ini berada “di tengah”, tidak sepenuhnya menjadi aset lindung nilai utama seperti emas, tetapi juga bukan lagi sekadar aset spekulatif. “Jadi, alih-alih terpuruk permanen atau langsung menjadi aset pelindung utama. Bitcoin saat ini berada di tengah, masih sensitif terhadap gejolak, tetapi didukung fondasi permintaan yang mulai menguat kembali,” paparnya.
Korelasi dengan Pasar Saham dan Struktur Pasar yang Lebih Sehat
Arah pergerakan Bitcoin masih sangat bergantung pada sentimen global dan arus dana institusi. Dalam tujuh hari terakhir, korelasi Bitcoin dengan indeks saham AS S&P 500 tercatat sekitar 78 persen. Hal ini menunjukkan bahwa kripto masih bergerak seirama dengan aset berisiko.
Calvin menambahkan, jika pasar saham global kembali tertekan akibat eskalasi konflik, Bitcoin berpotensi ikut melemah. “Bergantung pada arah sentimen global dan arus dana institusi. Dengan korelasi sekitar 78 persen terhadap S&P 500, dalam tujuh hari terakhir, Bitcoin masih bergerak seirama dengan aset berisiko. Artinya, jika pasar saham global kembali tertekan, Bitcoin berpotensi ikut melemah,” beber Calvin.
Namun, struktur pasar kripto kini dinilai lebih sehat dibanding beberapa bulan lalu. Leverage berlebih telah banyak terlikuidasi dan indikator mingguan menunjukkan kondisi sangat jenuh jual. Dalam situasi seperti ini, jika tidak ada eskalasi besar lanjutan, Bitcoin justru berpeluang mengikuti pola historis “sell the rumor, buy the news“, yakni pulih setelah fase ketakutan ekstrem.
Lebih lanjut, Calvin memandang konflik Iran-Israel memang memicu sentimen risk-off global. Namun, dari sisi struktur, pasar kripto lebih siap menghadapi gelombang kepanikan. Likuidasi besar dalam beberapa pekan terakhir telah membersihkan posisi spekulatif berlebihan. Fear & Greed Index yang berada di zona extreme fear menunjukkan mayoritas pelaku pasar sudah bersikap defensif. “Dari sisi struktur, pasar terlihat lebih siap dibanding beberapa bulan lalu. Likuidasi besar telah membersihkan posisi spekulatif berlebihan, sehingga risiko efek domino akibat margin call lebih kecil. Fear & Greed Index yang berada di zona extreme fear menunjukkan banyak pelaku pasar sudah defensif,” katanya.
Peran Bitcoin sebagai ‘Katup Tekanan’ dan Prospek ke Depan
Karakter Bitcoin yang diperdagangkan 24 jam selama tujuh hari membuatnya kerap menjadi “katup tekanan” ketika pasar tradisional tutup. Volatilitas awal sering terjadi di kripto sebelum pasar saham global buka dan menemukan keseimbangan baru. Meski demikian, headline geopolitik tetap berpotensi memicu lonjakan volatilitas mendadak.
Ketahanan pasar kripto akan sangat bergantung pada konsistensi arus beli, terutama dari ETF saat bursa AS kembali aktif.
Informasi lengkap mengenai kondisi pasar kripto ini disampaikan melalui pernyataan resmi CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, pada Senin, 02 Maret 2026.
