Umat Muslim seringkali merasa khawatir saat terbangun sahur atau bahkan pagi hari tanpa sempat berniat puasa Ramadhan pada malam sebelumnya. Pertanyaan mengenai keabsahan puasa dalam kondisi ini kerap muncul. Wakil Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Alhafiz Kurniawan, memberikan penjelasan penting berdasarkan pandangan mazhab fikih.
Anjuran Mazhab Syafi’i: Niat Setiap Malam
Menurut Alhafiz Kurniawan, para ulama Imam Syafi’i menganjurkan tiga hal dalam pelaksanaan puasa Ramadhan. Anjuran tersebut meliputi berniat setiap malam, melafalkan niat, serta berniat untuk berpuasa sebulan penuh di awal Ramadhan mengikuti pandangan Imam Malik.
Namun, bagi individu yang lupa berniat pada malam hari, Alhafiz menjelaskan bahwa tidak perlu membatalkan puasanya. Cukup memasang niat ketika ingat di pagi hari, kemudian melanjutkan puasa hingga waktu Maghrib. Dengan demikian, ibadah puasa tetap dapat diteruskan.
Pandangan Mazhab Hanafi: Sah, Namun Tidak Sempurna
Pendapat serupa juga disampaikan oleh Imam Abu Hanifa. Dalam pandangan mazhab Hanafi, seseorang yang tidak memalamkan niat sebelum fajar tidak berarti puasanya menjadi tidak sah. Sebaliknya, puasa tersebut dianggap tidak sempurna.
Solusi yang ditawarkan adalah niat cukup dipasang ketika ia ingat di pagi hari atau awal siang. Hal ini memberikan kelonggaran bagi umat Muslim yang mungkin terlupa.
Memahami Niat dan Pelafalan Niat
Alhafiz Kurniawan juga menegaskan pentingnya membedakan antara niat dan pelafalan niat. Niat merupakan kerja batin atau sikap hati yang ada di dalam diri seseorang. Sementara itu, pelafalan niat hanyalah pengucapan lisan atas niat yang sudah terbentuk di dalam hati.
Dalam praktik masyarakat Indonesia, pelafalan niat memang lazim dilakukan sebagai bentuk penguat. Namun, hukumnya hanya dianjurkan (sunah), bukan wajib, sesuai dengan penjelasan fikih.
Niat Puasa Ramadhan Hukumnya Wajib
Puasa Ramadhan termasuk kategori ibadah tunai (ada’) yang hukumnya wajib dilakukan pada waktunya. Oleh karena itu, niat juga menjadi bagian wajib dalam pelaksanaannya. Ketentuan ini berbeda dengan puasa qadha (pengganti) yang memiliki aturan tersendiri dalam fikih ibadah.
Penjelasan ini menjadi pengingat penting bagi umat Islam agar tidak panik ketika lupa berniat. Selama belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa dan segera memasang niat ketika ingat, ibadah tetap dapat dilanjutkan dengan tenang dan penuh keyakinan.
Informasi mengenai hukum lupa niat puasa Ramadhan ini disampaikan melalui pernyataan Wakil Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail PBNU, Alhafiz Kurniawan, yang dirilis pada Senin, 23 Februari 2026.
