Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara melaporkan bahwa penerimaan pajak pada Januari 2026 menunjukkan pertumbuhan yang sangat solid. Secara neto, penerimaan pajak tercatat naik signifikan sebesar 30,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Realisasi penerimaan pajak neto pada Januari 2026 mencapai Rp 116,2 triliun, melampaui angka Rp 88,9 triliun yang tercatat pada Januari 2025.
Pertumbuhan Solid Penerimaan Pajak
Dalam Konferensi Pers APBN KiTa edisi Februari 2026 di Jakarta, Senin (23/2/2026), Suahasil Nazara menegaskan pertumbuhan ini. “Jadi kalau kita lihat penerimaan pajak, penerimaan pajak kita di bulan Januari itu tumbuh dengan sangat solid. Netonya 30,7 persen pertumbuhannya,” ujarnya.
Secara bruto, penerimaan pajak juga menunjukkan pertumbuhan sebesar 7 persen, yang dinilai sejalan dengan pertumbuhan ekonomi nominal. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV 2025 tercatat sebesar 5,39 persen, dengan tingkat inflasi di level 3 persen.
Suahasil menambahkan bahwa restitusi pajak dilaksanakan dengan prinsip kehati-hatian. Direktorat Jenderal Pajak terus menjaga tata kelola yang baik demi stabilitas penerimaan, dengan manajemen restitusi tetap menjadi perhatian utama pemerintah.
Kontribusi PPN dan PPh
Penerimaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Pertambahan Nilai atas Barang Mewah (PPN-BM) secara bruto mencapai Rp 82,6 triliun. Realisasi ini menandai pertumbuhan 7,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Suahasil menjelaskan bahwa PPN dibayarkan saat terjadi transaksi ekonomi, sehingga pertumbuhan PPN merefleksikan aktivitas ekonomi yang terus berjalan. “Jadi ini tanda saja bahwa di perekonomian kita transaksi berjalan terus,” katanya.
Sementara itu, Pajak Penghasilan (PPh) secara keseluruhan masih tercatat negatif, meskipun PPh badan secara neto menunjukkan angka positif. Pemerintah menyatakan akan terus memantau perkembangan ini.
Sektor Penopang Utama Penerimaan Pajak
Tiga sektor utama menjadi penopang signifikan terhadap total penerimaan pajak. Sektor industri pengolahan menyumbang 29,4 persen dari total penerimaan pajak, dengan pertumbuhan sebesar 18 persen.
Sektor perdagangan berkontribusi 25,5 persen, dan mencatat pertumbuhan neto enam kali lipat dibandingkan Januari tahun lalu. Sementara itu, sektor pertambangan menunjukkan pertumbuhan 10,6 persen, dengan kenaikan neto sebesar 10,9 persen.
“Tiga sektor ini sekitar 66 persen dari penerimaan pajak kita dan semua tumbuh dengan cukup kuat,” jelas Suahasil.
Kinerja APBN Januari 2026
Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga 31 Januari 2026 mencatat defisit sebesar Rp 54,6 triliun. Angka ini setara dengan 0,21 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Defisit APBN pada bulan sebelumnya tercatat lebih tinggi, yakni Rp 695,1 triliun atau 2,92 persen dari PDB. Pendapatan negara hingga Januari 2026 mencapai Rp 172,7 triliun, yang merupakan 5,5 persen dari target pendapatan negara tahun ini sebesar Rp 3.153,6 triliun.
Purbaya, dalam Konferensi Pers APBN KiTa edisi Februari 2026 di Jakarta, Senin (23/2/2026), menyatakan, “Dengan dinamika yang saya sebutkan tadi posisi defisit APBN tercatat Rp 54,6 triliun atau hanya 0,21 persen dari PDB, angka ini masih sangat terkendali.”
Informasi lengkap mengenai kinerja penerimaan pajak dan APBN ini disampaikan melalui Konferensi Pers APBN KiTa edisi Februari 2026 oleh Kementerian Keuangan.
