Pemerintah Indonesia berkomitmen memfasilitasi investasi Amerika Serikat dalam proyek hilirisasi nikel di dalam negeri. Langkah ini merupakan tindak lanjut dari kesepakatan dagang yang ditandatangani oleh Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 19 Februari 2026 lalu.
Fokus pada Hilirisasi Mineral Kritis
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjelaskan bahwa sektor nikel menjadi prioritas utama dalam kerja sama mineral kritis antara kedua negara. Selain nikel, investasi tersebut juga akan mencakup sektor logam tanah jarang dan tembaga.
Bahlil menyatakan bahwa pemerintah menyiapkan waktu 90 hari untuk menindaklanjuti rencana investasi ini. Investasi tersebut akan diarahkan secara spesifik pada pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian di dalam negeri agar tidak berhenti pada tahap penambangan bahan mentah saja.
“Nikel, ya. Nikel. Dan kita kalau sudah masuk 90 hari dari sekarang, saya sebagai menteri teknis dengan senang hati untuk bisa memfasilitasi mereka dengan baik. Jadi mereka melakukan investasi itu membangun hilirisasi,” ujar Bahlil dalam konferensi pers daring pada Jumat (20/2/2026).
Kerja Sama Sektor Energi dan Mandatori Etanol
Selain mineral, kesepakatan dagang ini juga mencakup sektor energi, termasuk rencana impor bahan bakar minyak dan etanol. Pemerintah saat ini tengah menghitung skema mandatori pencampuran etanol yang ditargetkan mulai berjalan pada 2028 dengan kadar 5 persen hingga 10 persen.
Terkait nilai impor energi yang diperkirakan mencapai 15 miliar dollar AS, Bahlil menegaskan akan melakukan kalkulasi matang sebelum memberikan penugasan kepada PT Pertamina (Persero). Tujuannya adalah untuk memastikan nilai pembelian tetap ekonomis dan kompetitif bagi industri dalam negeri.
| Komoditas Utama | Target Investasi |
| Nikel | Pembangunan Smelter |
| Logam Tanah Jarang | Fasilitas Pengolahan |
| Etanol | Mandatori 5-10% (2028) |
Mekanisme Impor dan Penyesuaian Tarif
Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, memastikan bahwa mekanisme impor akan tetap dilakukan melalui tender terbuka dan diversifikasi sumber pasokan. Hal ini dilakukan untuk memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat Indonesia dan mitra di Amerika Serikat.
Di sisi lain, Sekretaris Kabinet menyinggung peluang penyesuaian tarif perdagangan yang saat ini berada di level 19 persen. Pemerintah berharap koordinasi bilateral ini dapat memperbaiki kondisi tarif perdagangan Indonesia di masa depan agar lebih kompetitif di pasar global.
Informasi lengkap mengenai tindak lanjut investasi hilirisasi dan kerja sama energi ini disampaikan melalui pernyataan resmi Kementerian ESDM dan Sekretariat Kabinet pada Februari 2026.
