Di tengah ancaman Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang meresahkan, Wahyudin, seorang sarjana akuntansi asal Desa Kalongliud, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, memilih jalur inovatif. Sejak 2022, ia memimpin Kelompok Taruna Muda untuk menghidupkan kembali 35 hektar lahan tidur, mengubahnya menjadi area pertanian produktif dan menggerakkan roda ekonomi lokal.
Inisiatif Wahyudin: Alternatif Ekonomi di Tengah Ancaman Tambang Ilegal
Lulusan sarjana akuntansi kelahiran 1988 ini kembali ke kampung halaman setelah melihat sebagian warga beralih ke tambang ilegal. Keputusan tersebut muncul setelah infrastruktur irigasi rusak akibat bencana pada 2020, memicu kegelisahan atas banyaknya lahan tidur dan terbatasnya lapangan pekerjaan.
“Kekhawatiran atas banyaknya lahan tidur dan terbatasnya lapangan pekerjaan menjadi penggerak saya untuk berkontribusi di Kalongliud. Saya khawatir, jika tidak ditangani segera, akan banyak masyarakat yang beralih menjadi PETI,” kata Wahyu, melalui keterangannya, Senin (23/2/2026).
Pria yang akrab disapa Kang Wahyu ini menegaskan, “Pencegahan PETI tidak cukup hanya dengan penertiban. Masyarakat butuh alternatif ekonomi yang lebih aman dan layak.” Gagasannya sejalan dengan visi PT Antam Tbk UBPE Pongkor yang pada 2022 menghadirkan program inovasi sosial Garitan Kalongliud, di mana Wahyu kemudian memimpin Kelompok Taruna Muda.
Inovasi Pertanian dan Tantangan yang Dihadapi
Upaya menghidupkan kembali 35 hektar lahan terlantar tidak lepas dari tantangan. Harga pupuk kimia yang melonjak, serangan hama keong mas, hingga keterbatasan pasokan air menjadi hambatan utama.
Berbekal pelatihan, Wahyu menginisiasi Pupuk Organik Cair (POC) Beko dari fermentasi keong mas dan urin domba. Sebanyak 25 ton limbah kotoran domba dimanfaatkan sebagai pupuk organik, yang berhasil memangkas biaya pupuk hingga 50 persen. Untuk mengatasi krisis air, warga merakit sistem irigasi tetes sederhana yang menghemat penggunaan air hingga 60 persen.
Dampak Signifikan: Peningkatan Ekonomi dan Jaring Pengaman Sosial
Perubahan yang dibawa Wahyudin dan Kelompok Taruna Muda tidak berhenti pada budidaya. Mereka memposisikan diri sebagai fasilitator pasar, memangkas rantai distribusi, dan menjual hasil panen langsung ke Pasar Induk Kemang serta Kramat Jati. Hasilnya, pendapatan kelompok tani meningkat 65 persen.
Sepanjang 2024–2025, unit usaha cabai yang mereka kelola membukukan keuntungan bersih Rp 246.258.000. “Program ini menjadi jaring pengaman sosial bagi anggota kelompok sebagai penerima manfaat langsung, maupun bagi masyarakat lainnya. Yang paling membanggakan, 8 mantan pelaku PETI kini telah beralih menjadi petani produktif,” ujar Wahyu.
Secara makro, inisiatif kolaboratif tersebut mencatatkan nilai Social Return on Investment (SROI) sebesar 4,34 dan berkontribusi menurunkan tingkat kemiskinan desa sebesar 6,52 persen. Atas dedikasinya, Wahyu menerima Environmental and Social Innovation Award (ENSIA) 2025 sebagai Local Hero Inspiratif.
Semangat itu terus berlanjut melalui Rumah Belajar Garitan yang telah dikunjungi lebih dari 696 orang. Regenerasi petani muda pun mulai tumbuh, termasuk Atang Sujai yang aktif menyempurnakan formula pupuk organik untuk desa-desa sekitar. “Kalau kita merawat tanah dengan hati, tanah akan merawat kehidupan kita. Dan kalau kita bergerak bersama, desa ini akan selalu punya harapan,” tutup Wahyu.
Informasi lengkap mengenai inisiatif ini disampaikan melalui keterangan resmi Wahyudin pada Senin, 23 Februari 2026, yang juga merinci dukungan dari PT Antam Tbk UBPE Pongkor.
