PT Agrinas Pangan Nusantara (Persero) menargetkan kedatangan 1.000 unit mobil pikap impor dari India hingga akhir Februari 2026. Kendaraan ini dipersiapkan untuk mendukung operasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), sebagai bagian dari total pesanan 105.000 unit kendaraan yang telah disepakati.
Detail Pengadaan Kendaraan dari India
Secara keseluruhan, Agrinas telah memesan 105.000 unit kendaraan dari India. Pesanan tersebut terdiri atas 35.000 unit mobil pikap ukuran 4×4 dari produsen Mahindra & Mahindra Ltd. (M&M), serta 35.000 unit pikap 4×4 dan 35.000 unit truk roda enam dari Tata Motors.
Direktur Utama Agrinas Pangan Nusantara, Joao De Sousa Mota, menjelaskan bahwa sebanyak 200 unit mobil pikap dari Mahindra sudah tiba di Indonesia. Pengiriman akan berlanjut dengan 400 unit tambahan, menargetkan total 1.000 pikap dari Mahindra masuk ke Tanah Air hingga akhir Februari ini.
“Sampai akhir bulan ini (target) sudah 1.000 unit. Tahun ini 35.000 kita usahakan bisa sampai semua, yang Mahindra,” ujar Joao saat ditemui Kompas.com di kantornya, Jakarta, Senin (23/2/2026). Ia menambahkan, 70.000 unit pikap dan truk dari Tata Motors juga ditargetkan tiba di Indonesia pada tahun yang sama.
Alasan Pemilihan India dan Efisiensi Anggaran
Joao mengungkapkan bahwa pertimbangan utama dalam membeli kendaraan dari India adalah faktor harga yang kompetitif. Menurutnya, harga pikap 4×4 di pasaran Indonesia relatif mahal, sehingga pilihan impor dari India menjadi solusi untuk menghemat penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“Pertama masalah harga. Produk-produk yang ada, baik dari manapun yang men-supply pasar Indonesia, harganya kalau 4×4 sangat mahal,” ungkap Joao. Ia melanjutkan, “Dengan mengambil dari India, itu kita menjadi jalan tengah. Jadi adil untuk kita menggunakan biaya anggaran APBN ini secara bijak, karena kita beli dengan harga yang hampir setengahnya lebih murah daripada produk-produk yang ada di pasaran Indonesia.”
Keterbatasan Produksi Nasional dan Kebutuhan Medan Sulit
Selain harga, kapasitas produksi mobil nasional juga menjadi pertimbangan. Joao menyebut bahwa produksi mobil nasional saat ini belum mampu memenuhi pengadaan pikap 4×4 sebanyak 70.000 unit dalam kurun waktu yang ditetapkan Agrinas. Memaksakan produsen dalam negeri justru dikhawatirkan akan mengganggu aktivitas distribusi komoditas lainnya.
“Produksi mobil nasional kita juga sekarang ini cuma 70.000, kalau enggak salah. Kalau kita tambahkan lagi beli 70.000 dari pasar, yang ada itu stok sendiri tidak ada. Selain stoknya tidak ada, harganya mahal, nanti kita bisa memutus distribution yang lain gitu,” paparnya.
Sebagian besar mobil yang dipesan berjenis pikap 4×4 karena kebutuhan operasional di wilayah dengan medan menantang. Joao menjelaskan, kendaraan ini penting untuk distribusi ke area persawahan dan lokasi lain yang sulit dijangkau.
“Kenapa kita perlu 4×4? Karena memang kita perlu untuk digunakan di daerah-daerah yang kondisi lahannya memang sangat menantang, dan hampir di semua, baik di Jawa pun, kalau untuk ke sawah-sawah itu lahannya sangat menantang, sehingga kita perlu mobil 4×4,” kata Joao.
Jaminan Layanan Purnajual
Joao juga menekankan bahwa pemesanan kendaraan dari India ini dibarengi dengan kepastian penyediaan fasilitas perawatan (maintenance) dan layanan purnajual (after sales). Hal ini menjadi perhatian utama dan telah ditekankan dalam kontrak kerja sama.
“Jual-beli mobil itu kan bukan kayak minuman, sekali minum, selesai. Dia kan akan pakai ini untuk umur 20-30 tahun sampai 50 tahun. Nah bagaimana dia konsisten untuk men-supply after sales-nya, itu sudah menjadi pembicaraan kita dan dalam kontrak itu kita tekankan masalah itu,” jelasnya.
Informasi lengkap mengenai pengadaan kendaraan ini disampaikan melalui pernyataan resmi Direktur Utama Agrinas Pangan Nusantara, Joao De Sousa Mota, pada Senin, 23 Februari 2026.
