Islami

Pengerahan 70.000 Pasukan Israel-AS ke Iran: Benarkah Terkait Nubuat Dajjal di Media Sosial?

Advertisement

Pengerahan pasukan cadangan Israel dalam operasi militer bersama Amerika Serikat ke Iran kembali memanaskan situasi geopolitik Timur Tengah. Laporan mengenai sekitar 70.000 personel yang dikerahkan memicu diskusi luas di media sosial, bahkan sebagian warganet mengaitkannya dengan riwayat hadits tentang tujuh puluh ribu pengikut Dajjal pada akhir zaman. Namun, apakah benar ada keterkaitan antara dinamika politik kontemporer ini dengan nubuat eskatologis dalam Islam?

Ketegangan Israel-Iran dan Pengerahan Ribuan Pasukan

Laporan dari The Guardian menyebutkan bahwa operasi militer antara Israel dan Amerika Serikat telah dipersiapkan melalui koordinasi intensif dalam waktu yang cukup lama. Seorang pejabat militer Israel mengungkapkan bahwa sekitar 70.000 personel cadangan telah dipanggil, khususnya dari satuan pertahanan udara.

Angka pengerahan pasukan inilah yang kemudian ramai diperbincangkan di berbagai platform media sosial. Sebagian pengguna mengaitkannya dengan hadits tentang tujuh puluh ribu pengikut Dajjal yang disebutkan dalam literatur klasik Islam. Penting untuk dicatat, hingga saat ini tidak ada pernyataan resmi dari otoritas keagamaan arus utama yang menghubungkan peristiwa militer tersebut dengan tanda-tanda kiamat.

Riwayat Hadits tentang Pengikut Dajjal

Dalam literatur klasik Islam, riwayat mengenai jumlah pengikut Dajjal memang ditemukan. Kitab Al-Fitan karya Ibnu Katsir mengutip hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Samurah bin Jundab radhiyallahu ‘anhu.

“Bersama Dajjal ada tujuh puluh ribu dari orang Yahudi, pada setiap laki-laki dari mereka terdapat mahkota dan pedang yang terhunus.”

Riwayat ini dinilai memiliki sanad yang baik dan dibenarkan oleh Al-Hakim. Riwayat lain yang lebih populer terdapat dalam Shahih Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, di mana Rasulullah SAW bersabda:

“Dajjal akan diikuti oleh tujuh puluh ribu orang Yahudi dari Isfahan, mereka memakai thiyalisah (semacam selendang).”

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim. Perlu digarisbawahi, teks hadits menyebut angka tersebut dalam konteks peristiwa akhir zaman yang bersifat gaib (ghayb), bukan dalam kerangka konflik geopolitik modern.

Dajjal sebagai Tanda Besar Kiamat

Dalam kajian akidah Ahlus Sunnah, kemunculan Dajjal termasuk salah satu tanda besar kiamat (asyraath al-kubra). Hal ini ditegaskan dalam berbagai riwayat sahih, termasuk dalam Shahih al-Bukhari karya Imam al-Bukhari dan Shahih Muslim.

Salah satu hadits panjang dari Abu Hurairah menyebut berbagai tanda menjelang kiamat, seperti peperangan besar, banyaknya fitnah, hingga terbitnya matahari dari barat. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

هَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا السَّاعَةَ أَنْ تَأْتِيَهُمْ بَغْتَةً ۖ فَقَدْ جَاءَ أَشْرَاطُهَا

Hal yanzhuruuna illas saa’ata an ta’tiyahum baghtah, faqad jaa-a asyraathuhaa.

Artinya: “Mereka tidak menunggu melainkan datangnya hari Kiamat kepada mereka secara tiba-tiba, karena sungguh telah datang tanda-tandanya.” (QS. Muhammad: 18)

Advertisement

Ayat ini sering dijadikan rujukan bahwa tanda-tanda kiamat memang akan muncul, namun detail waktunya tetap menjadi rahasia Allah SWT.

Penjelasan Ulama: Jangan Mudah Mengaitkan Peristiwa Politik dengan Nubuat

Para ulama klasik maupun kontemporer mengingatkan agar umat Islam tidak tergesa-gesa mengaitkan setiap peristiwa besar dengan tanda kiamat. Dalam buku An-Nihayah fi al-Fitan wa al-Malahim, karya Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa fitnah Dajjal adalah peristiwa luar biasa yang memiliki ciri-ciri spesifik dan terjadi dalam rangkaian tanda besar lainnya, seperti turunnya Nabi Isa AS.

Sementara itu, dalam Syarah Shahih Muslim, Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa hadits tentang Dajjal harus dipahami sebagaimana zahirnya, tetapi tanpa menafsirkan secara spekulatif pada peristiwa tertentu kecuali ada dalil yang jelas. Ulama kontemporer seperti Yusuf al-Qaradawi dalam beberapa karya dan fatwanya juga mengingatkan bahaya “ta’wil politis” terhadap nash-nash eskatologis. Menurutnya, mengaitkan konflik aktual dengan tanda kiamat tanpa dasar ilmiah justru dapat menimbulkan kegaduhan dan ketakutan yang tidak proporsional.

Antara Angka dan Makna dalam Konteks Hadits

Secara numerik, angka 70.000 memang sama dengan yang disebut dalam hadits. Namun, kesamaan angka tidak otomatis menunjukkan keterkaitan makna secara substansial. Dalam ilmu hadis dan ushul fiqh, pemahaman terhadap nash harus mempertimbangkan konteks (asbab al-wurud), kualitas sanad, serta penjelasan para ulama.

Tanpa mempertimbangkan aspek-aspek tersebut, penarikan kesimpulan bisa bersifat spekulatif. Lebih jauh lagi, hadits tentang tujuh puluh ribu pengikut Dajjal berbicara tentang fase akhir sejarah manusia menjelang kiamat, bukan tentang satu episode konflik regional tertentu yang terjadi saat ini.

Sikap Bijak Menghadapi Isu Akhir Zaman

Fenomena viralnya isu ini menunjukkan besarnya perhatian umat terhadap tanda-tanda akhir zaman. Namun, Islam mengajarkan sikap kehati-hatian dan tidak mudah berspekulasi. Rasulullah SAW sendiri menekankan pentingnya memperkuat iman dan amal saleh, bukan sekadar berspekulasi tentang waktu kiamat.

Dalam banyak riwayat, beliau lebih sering mengarahkan umat untuk berlindung dari fitnah Dajjal melalui doa dan memperbanyak amal saleh. Doa yang dianjurkan antara lain:

“Allahumma inni a’udzu bika min ‘adzabi jahannam, wa min ‘adzabil qabri, wa min fitnatil mahya wal mamat, wa min syarri fitnatil masihid dajjal.”

Artinya: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab neraka, dari azab kubur, dari fitnah hidup dan mati, serta dari keburukan fitnah Al-Masih Dajjal.”

Konflik di Timur Tengah tentu membawa dampak besar bagi stabilitas global. Namun, mengaitkannya secara langsung dengan hadits tentang tujuh puluh ribu pengikut Dajjal memerlukan kehati-hatian ilmiah. Hingga kini, tidak ada dalil yang secara tegas menyatakan bahwa peristiwa militer kontemporer merupakan realisasi langsung dari nubuat tersebut.

Ajaran Islam mendorong umat untuk memperkuat iman, menjaga persatuan, dan tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang belum tentu memiliki dasar kuat. Di tengah derasnya arus informasi, sikap kritis dan literasi keagamaan yang memadai menjadi kunci agar umat tidak terjebak dalam spekulasi yang berlebihan.

Informasi mengenai keterkaitan pengerahan pasukan dan hadits Dajjal ini disampaikan berdasarkan penelusuran literatur klasik Islam dan pandangan ulama, serta laporan media internasional yang dirilis pada Senin, 02 Maret 2026.

Advertisement