Konflik bersenjata antara Iran dan Israel yang didukung Amerika Serikat (AS) berpotensi besar memicu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia. Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, memprediksi bahwa serangan awal dari Israel ke Iran pada Sabtu (28/2/2026) telah mendorong lonjakan harga minyak dunia secara signifikan.
Dampak Konflik pada Harga Minyak Dunia
Fahmy Radhi menjelaskan bahwa Iran merupakan salah satu dari 10 negara penghasil minyak terbesar di dunia. Posisi strategis negara tersebut di Selat Hormuz, jalur vital lalu lintas perdagangan minyak global, menjadikannya faktor penentu fluktuasi harga.
Menurut Fahmy, jika Iran membalas serangan dengan menargetkan pangkalan militer AS di Timur Tengah dan memblokir Selat Hormuz, harga minyak dunia berpotensi menembus angka 70 hingga 80 dollar AS per barel. Saat ini, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tercatat di level 67,02 dollar AS per barel.
“Kalau serangannya ke Iran, itu pasti akan mempengaruhi harga minyak secara signifikan,” kata Fahmy saat dihubungi Kompas.com pada Sabtu (28/2/2026) petang. Ia menambahkan, “Barangkali bisa di atas 70 (dollar AS per barel) atau bahkan sampai 80 (dollar AS per barel) gitu.”
Fahmy bahkan memperkirakan, harga minyak global bisa melonjak hingga 100 dollar AS per barel apabila Rusia, China, dan Korea Utara turut terlibat dalam eskalasi konflik. “Kondisi semacam itu saya prediksikan kemungkinan harga minyak bisa mencapai di atas 100 dolar per barel,” ujarnya.
Implikasi Kenaikan Harga BBM di Indonesia
Eskalasi konflik Iran-Israel juga akan berdampak langsung terhadap Indonesia sebagai importir 1,2 juta barel BBM per hari. Fahmy Radhi menegaskan bahwa jenis BBM yang harganya diserahkan pada mekanisme pasar global, seperti Pertamax dan varian di atasnya, akan menjadi yang pertama terdampak.
“Pertamax pasti naik. Misalnya sekarang saja 67 (dollar AS per barel) gitu ya, itu sesuai mekanisme pasar Pertamax ke atas naik, baik di SPBU Pertamina apalagi SPBU dari asing,” jelas Fahmy.
Pertalite dan Solar dalam Lindungan Subsidi
Berbeda dengan Pertamax, harga BBM jenis Pertalite dan Solar ditetapkan oleh pemerintah dan ditopang oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Oleh karena itu, kenaikan harga minyak dunia tidak serta-merta membuat harga Pertalite dan Solar di SPBU Pertamina ikut naik.
“Kecuali pemerintah memutuskan untuk menaikkan harga BBM subsidi Pertalite dan Solar, itu baru akan menimpa pada konsumen,” tutur Fahmy.
Meskipun demikian, kenaikan harga minyak dunia yang tidak diikuti penyesuaian harga Pertalite dan Solar akan menambah beban subsidi APBN. Fahmy memprediksi, jika harga minyak dunia tembus 100 dollar AS per barel, APBN kemungkinan tidak akan sanggup lagi menahan beban subsidi.
“Kalau sudah di atas 100 (dollar AS per barel) saya kira APBN sudah tidak mampu lagi, maka pada saat itu pemerintah harus menaikkan,” kata Fahmy. Ia menambahkan, “Meskipun tidak proporsional dengan kenaikan harga minyak dunia, tetapi perlu ada kenaikan agar beban tadi itu tidak terlalu berat.”
Kronologi Konflik Iran-Israel
Konflik terbaru antara Iran dan Israel memanas setelah Israel melancarkan serangan ke Ibu Kota Iran, Teheran, pada Sabtu (28/2/2026) waktu Indonesia. Serangan ini terjadi di tengah proses perundingan negosiasi nuklir antara Iran dan AS.
Tidak berselang lama, Iran membalas dengan menembakkan rudal balistik ke pangkalan militer AS di Bahrain, yang semakin memicu ketegangan di kawasan. Amerika Serikat sendiri terus menuntut Iran untuk menghentikan proyek nuklirnya, terutama pengayaan uranium yang telah mencapai 60 persen.
Informasi lengkap mengenai analisis dampak ekonomi ini disampaikan melalui pernyataan Ekonom UGM Fahmy Radhi yang dirilis pada Sabtu, 28 Februari 2026.
