Islami

Peru Ganti Presiden 7 Kali dalam Sedekade, Jose Jeri Jadi Pemimpin Keempat yang Dimakzulkan

Advertisement

Peru kembali menghadapi guncangan politik hebat setelah Presiden interim Jose Jeri resmi dimakzulkan oleh parlemen pada Selasa (17/2/2026). Keputusan ini memperpanjang catatan kelam stabilitas politik negara tersebut yang telah berganti presiden sebanyak tujuh kali dalam kurun waktu hampir sepuluh tahun terakhir.

Sejak 2016, dinamika kekuasaan di Peru diwarnai oleh pemakzulan empat presiden, pengunduran diri dua pemimpin, dan hanya satu orang yang mampu menyelesaikan masa jabatannya sesuai rencana. Para analis menilai fenomena ini dipicu oleh ketegangan kronis antara Kongres dan pihak eksekutif, serta tingginya angka korupsi di kalangan elit politik.

Kronologi Krisis Kepemimpinan Peru (2016–2026)

Berikut adalah rincian tujuh pemimpin yang menduduki kursi kepresidenan Peru dalam satu dekade terakhir beserta alasan berakhirnya masa jabatan mereka:

  • Pedro Pablo Kuczynski (2016–2018): Mengundurkan diri sehari sebelum pemungutan suara pemakzulan akibat dugaan keterlibatan dalam skandal korupsi Odebrecht.
  • Martin Vizcarra (2018–2020): Dimakzulkan atas tuduhan ketidakmampuan moral dan suap proyek publik. Ia juga terseret skandal Vaccinegate terkait distribusi vaksin Covid-19.
  • Manuel Merino (2020): Menjabat hanya selama lima hari sebelum mundur akibat gelombang protes massa yang menewaskan dua orang.
  • Francisco Sagasti (2020–2021): Akademisi yang menjadi satu-satunya pemimpin yang berhasil menuntaskan masa jabatan interim hingga pemilu berikutnya.
  • Pedro Castillo (2021–2022): Dimakzulkan dan ditangkap setelah berupaya membubarkan Kongres secara ilegal untuk menghindari proses hukum korupsi.
  • Dina Boluarte (2022–2024): Presiden perempuan pertama yang dimakzulkan akibat skandal gratifikasi perhiasan mewah dan jam tangan Rolex.
  • Jose Jeri (2024–2026): Dimakzulkan parlemen atas dugaan korupsi, meski sebelumnya sempat populer karena kampanye pemberantasan kejahatan.

Penyebab Instabilitas Politik

Tingginya frekuensi pergantian pemimpin di Peru tidak lepas dari penggunaan pasal “ketidakmampuan moral” oleh Kongres untuk melengserkan presiden. Selain itu, rendahnya tingkat kepercayaan publik terhadap institusi politik memperburuk situasi keamanan dan ekonomi di wilayah tersebut.

Advertisement

Jose Jeri, yang kini berusia 39 tahun, awalnya diharapkan mampu membawa stabilitas hingga Juli 2026. Namun, tuduhan korupsi yang muncul di tengah masa jabatannya membuat parlemen mengambil langkah tegas untuk mengakhiri kekuasaannya lebih awal melalui mekanisme pemakzulan.

Informasi lengkap mengenai krisis kepemimpinan di Peru ini merujuk pada laporan resmi parlemen dan data yang dihimpun oleh AFP hingga Februari 2026.

Advertisement