Islami

Putaran Ketiga Perundingan Rusia-Ukraina di Jenewa Masih Alami Kebuntuan Terkait Isu Wilayah

Advertisement

Putaran ketiga perundingan damai antara Rusia dan Ukraina yang dimediasi oleh Amerika Serikat di Jenewa, Swiss, berakhir tanpa terobosan signifikan pada Rabu (18/2/2026). Pertemuan yang berlangsung selama enam jam tersebut diwarnai ketegangan diplomatik di tengah eskalasi serangan udara yang terus berlanjut di medan tempur, hanya beberapa hari sebelum genap empat tahun invasi Rusia.

Negosiasi Enam Jam di Tengah Ketegangan

Delegasi Ukraina yang dipimpin oleh Rustem Umerov memfokuskan pembahasan pada mekanisme solusi praktis untuk mengakhiri konflik. Meski demikian, Umerov menyatakan bahwa pihaknya bekerja tanpa ekspektasi berlebihan terhadap hasil pertemuan bilateral maupun trilateral tersebut.

Di sisi lain, delegasi Rusia dipimpin oleh Vladimir Medinsky, ajudan Presiden Vladimir Putin. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menyatakan bahwa Moskwa berencana mengangkat spektrum isu yang lebih luas, termasuk status wilayah yang saat ini dikuasai Rusia. Sejauh ini, sekitar 20 persen wilayah Ukraina berada di bawah kendali Rusia sejak 2014.

Sikap Zelenskyy dan Tekanan Diplomatik Amerika Serikat

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menegaskan kesiapan negaranya untuk mencapai kesepakatan yang layak guna mengakhiri perang. Namun, ia mempertanyakan keseriusan Rusia dalam proses negosiasi ini. Zelenskyy juga mengisyaratkan adanya tekanan besar bagi Ukraina untuk memberikan konsesi wilayah.

Amerika Serikat menurunkan utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner sebagai mediator dalam pembicaraan ini. Presiden AS Donald Trump terus mendorong kedua belah pihak untuk segera mencapai kesepakatan. Dalam pernyataannya di Air Force One, Trump mendesak Ukraina untuk segera mengambil langkah di meja perundingan guna mengakhiri perang terbesar di Eropa sejak 1945 tersebut.

Advertisement

Eskalasi Serangan dan Hambatan Teritorial

Di tengah upaya diplomasi, pertempuran di lapangan dilaporkan masih berlangsung sengit. Ukraina menuduh Rusia meluncurkan 29 rudal dan 396 drone sesaat sebelum negosiasi dimulai, yang mengakibatkan puluhan ribu warga di Odesa kehilangan akses air dan pemanas. Sebaliknya, Rusia mengklaim telah menangkis 150 drone Ukraina yang menyasar wilayah selatan dan Semenanjung Krimea.

Hambatan utama dalam perundingan ini tetap tertuju pada status wilayah Donetsk. Rusia menuntut penyerahan sisa wilayah Donetsk yang belum mereka kuasai, sebuah tuntutan yang ditolak keras oleh Kyiv. Pihak Ukraina memandang kompromi teritorial tanpa jaminan keamanan yang jelas sebagai langkah yang tidak tepat secara strategis.

Kelelahan Publik dan Skeptisisme Warga

Kondisi perang yang berkepanjangan memicu kelelahan di kalangan warga sipil Ukraina. Banyak warga mulai meragukan itikad baik Rusia dalam setiap sesi perundingan damai yang digelar. Keyakinan publik terhadap hasil nyata dari pertemuan-pertemuan diplomatik ini dilaporkan terus menurun seiring dengan intensitas serangan udara yang tidak kunjung reda.

Informasi lengkap mengenai perkembangan perundingan ini didasarkan pada laporan resmi delegasi Ukraina dan pernyataan pemerintah Rusia yang dirilis pada 18 Februari 2026.

Advertisement