Islami

Diaspora Indonesia Galang Dana untuk Keluarga WNI Korban Kecelakaan di Chinatown Singapura

Advertisement

Gelombang dukungan terus mengalir bagi keluarga Ashar Ardianto (30) dan Raisha Anindra Pascasiswi (31), pasangan Warga Negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban kecelakaan di kawasan Chinatown, Singapura, pada 6 Februari 2026. Komunitas diaspora hingga Ikatan Alumni Universitas Indonesia (Iluni UI) kini bergerak serentak melakukan penggalangan dana untuk membantu biaya pengobatan serta pemulihan keluarga tersebut.

Saat ini, Raisha masih menjalani perawatan intensif di High Dependency Unit (HDU) Rumah Sakit Umum Singapura (SGH). Kondisinya menjadi perhatian luas, terutama setelah diketahui bahwa Raisha merupakan lulusan Sastra China Universitas Indonesia angkatan 2017. Hal ini memicu aksi solidaritas dari rekan-rekan alumninya melalui peluncuran kampanye donasi resmi.

Aksi Solidaritas Alumni dan Diaspora

Selain Iluni UI, Forum Komunikasi Masyarakat Indonesia di Singapura (FKMIS) turut berperan aktif menyebarkan informasi untuk mengetuk pintu hati para donatur. Pemimpin FKMIS, Reynilda Hendryatie, menyatakan bahwa pihaknya bertugas memfasilitasi penyebaran informasi mengenai kondisi terkini keluarga korban kepada masyarakat luas.

“Di FKMIS, kami hanya menyebarkan informasi tentang kondisi keluarga tersebut,” ujar Reynilda sebagaimana dikutip dari Channel News Asia. Ia menjelaskan bahwa donasi dikumpulkan melalui perwakilan keluarga, yakni Ibu Cornelia, dan akan disalurkan langsung untuk melunasi tagihan rumah sakit yang terus berjalan.

Dukungan Penuh dari KBRI Singapura

Pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Singapura memberikan perhatian khusus terhadap kasus ini. Duta Besar RI untuk Singapura, Hotmangaradja Pandjaitan, memberikan izin bagi Ashar Ardianto untuk tinggal sementara di kediaman resminya. Langkah ini diambil agar pihak kedutaan dapat memantau dan merespons cepat kebutuhan Ashar yang masih dalam kondisi syok berat.

Wakil Kepala Misi KBRI Singapura, Thomas Ardian Siregar, mengungkapkan bahwa meski secara fisik Ashar tampak baik, luka emosional akibat kehilangan putrinya sangat mendalam. “Untuk saat ini, Ashar tinggal di Kediaman Duta Besar, sementara kami menunggu perawatan istrinya di rumah sakit,” tutur Thomas.

Advertisement

Pendampingan Hukum dan Status Penyelidikan

Selain bantuan logistik dan tempat tinggal, KBRI Singapura telah menyiapkan bantuan hukum pro bono untuk mendampingi keluarga korban. Hingga saat ini, Kepolisian Singapura (SPF) masih melanjutkan penyelidikan terkait insiden yang terjadi di South Bridge Road, dekat Kuil Relik Gigi Buddha tersebut.

Pengemudi mobil listrik yang menabrak korban, seorang wanita berusia 38 tahun, sempat ditangkap namun kini telah dibebaskan dengan jaminan. Pihak KBRI menegaskan akan terus menjalin kontak dengan SPF untuk mendapatkan informasi terbaru mengenai proses hukum yang berjalan.

Kecelakaan maut ini terjadi saat keluarga tersebut sedang menyeberang jalan. Sebuah mobil listrik dilaporkan keluar dari tempat parkir dan berbelok tajam hingga menabrak mereka. Ashar selamat karena berjalan sedikit di depan sambil mendorong kereta bayi putra bungsunya, namun putri mereka, Sheyna, meninggal dunia dan telah dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta, pada 8 Februari lalu.

Informasi lengkap mengenai perkembangan bantuan dan kondisi korban disampaikan melalui pernyataan resmi KBRI Singapura dan perwakilan komunitas diaspora yang dirilis pada Februari 2026.

Advertisement