Kota-kota tuan rumah Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat masih menanti kepastian pencairan dana keamanan federal senilai 625 juta dollar AS atau sekitar 10,5 triliun rupiah. Ketidakjelasan ini muncul saat turnamen akbar tersebut hanya menyisakan sekitar 100 hari lagi, menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan pejabat lokal terkait kesiapan keamanan.
Dalam pertemuan terbaru dengan Gugus Tugas Gedung Putih untuk Piala Dunia 2026 yang dipimpin Andrew Giuliani, perwakilan kota tuan rumah meminta kejelasan mengenai hibah keamanan yang telah dijanjikan. Namun, mereka hanya menerima penjelasan tentang “penundaan administratif” tanpa jadwal pencairan yang pasti.
Kekhawatiran Kota Tuan Rumah
Komite Tuan Rumah Piala Dunia 2026 telah mengirimkan surat kepada Gugus Tugas Gedung Putih, menegaskan urgensi penyelesaian persoalan administratif terkait distribusi dana tersebut. Mereka menyatakan bahwa dana tersebut merupakan elemen penting untuk menghadirkan turnamen yang aman dan sukses.
“Dengan hanya 106 hari sebelum kompetisi dimulai, kami ingin menegaskan pentingnya finalisasi dan penyelesaian kekhawatiran administratif terkait distribusi hibah keamanan Piala Dunia FIFA,” tulis Komite Tuan Rumah dalam suratnya.
Tantangan Keamanan Menjelang Turnamen
Kondisi ini diperparah oleh penutupan sebagian pemerintahan federal (partial government shutdown) serta perlambatan penyaluran dana kepada Federal Emergency Management Agency (FEMA). Departemen Keamanan Dalam Negeri AS dan FEMA diketahui tanpa dana sejak 13 Februari 2026, yang semakin memperumit tantangan keamanan menjelang turnamen.
Kongres AS sebelumnya telah menyetujui alokasi dana keamanan sebesar 625 juta dollar AS dalam undang-undang anggaran tahun lalu. Komite tuan rumah telah mengajukan aplikasi sesuai tenggat Desember, dengan target pengumuman penerima dana paling lambat 30 Januari 2026.
Hambatan Kontrak dan Pengadaan
Tenggat waktu pengumuman penerima dana telah terlewati hampir sebulan tanpa kepastian resmi terkait status pendanaan. Pejabat komite tuan rumah menegaskan bahwa dana tersebut sangat dibutuhkan segera untuk memenuhi persyaratan pengadaan dan pembelian peralatan keamanan sebelum pertandingan dimulai.
“Kami harus mulai membuat komitmen sekarang untuk menandatangani kontrak, mengirim permintaan proposal, hingga memproses pesanan,” ujar salah satu eksekutif komite tuan rumah. Ia menambahkan, tanpa konfirmasi pencairan dana, proses tersebut sulit dilakukan.
Dampak Shutdown dan Respons Pejabat
Isu ini juga mencuat dalam sidang House Homeland Security Committee, di mana pejabat lokal memperingatkan potensi gangguan serius pada koordinasi keamanan. Chief Operating Officer Miami Host Committee, Ray Martinez, menyatakan bahwa keterlambatan dana bisa berdampak besar terhadap perencanaan.
“Tanpa menerima dana ini, hal tersebut bisa menjadi bencana bagi perencanaan dan koordinasi kami,” kata Martinez. Menteri Keamanan Dalam Negeri Kristi Noem menjelaskan bahwa FEMA telah berada pada tahap akhir peninjauan aplikasi ketika shutdown terjadi, menyebabkan sebagian staf FEMA harus menjalani cuti administratif.
Noem menyebut penutupan sebagian pemerintah federal sebagai penyebab utama keterlambatan pencairan dana. “Semakin lama pendanaan Departemen Keamanan Dalam Negeri terhenti, kesiapan menghadapi ancaman selama Piala Dunia dan perayaan America 250 dapat terganggu,” tuturnya.
Informasi lengkap mengenai isu ini disampaikan melalui pernyataan resmi Komite Tuan Rumah Piala Dunia 2026 dan pejabat terkait yang dirilis pada Jumat, 27 Februari 2026.
