Finansial

Randstad Ungkap Fenomena Gen Z di Dunia Kerja: Durasi Singkat, Fleksibilitas, dan Prioritas Tujuan Karier

Advertisement

Generasi Z, yang lahir antara tahun 1997 hingga 2007, menunjukkan pola karier yang sangat dinamis di tengah lanskap pasar tenaga kerja global yang terus berubah. Sebuah laporan terbaru dari Randstad berjudul The Gen Z Workplace Blueprint: Future Focused, Fast Moving mengungkapkan bahwa rata-rata Gen Z hanya bertahan 1,1 tahun dalam pekerjaan pertama mereka selama lima tahun awal karier.

Studi ini melibatkan 11.250 responden dari 15 pasar global serta analisis lebih dari 126 juta lowongan pekerjaan di seluruh dunia, memotret bagaimana Gen Z membangun karier di tengah penurunan lowongan kerja entry-level, percepatan adopsi teknologi, dan perubahan ekspektasi terhadap pekerjaan.

Mobilitas Tinggi Gen Z: Bukan Sekadar Loyalitas

Durasi rata-rata Gen Z bertahan dalam satu pekerjaan pada lima tahun pertama kariernya yang hanya 1,1 tahun ini jauh lebih rendah dibandingkan generasi sebelumnya. Sebagai perbandingan, generasi milenial rata-rata bertahan 1,8 tahun, Gen X 2,8 tahun, dan Baby Boomers 2,9 tahun pada fase awal karier mereka.

Laporan Randstad menekankan, fenomena ini tidak serta-merta mencerminkan rendahnya loyalitas, melainkan berkaitan dengan aspirasi pertumbuhan. Sekitar satu dari tiga pekerja Gen Z menyatakan berencana pindah pekerjaan dalam 12 bulan ke depan. Alasan utamanya bukan hanya kompensasi, tetapi juga kurangnya perkembangan karier dan tujuan pekerjaan yang jelas.

Penyusutan Lowongan Kerja Entry-Level

Mobilitas tinggi Gen Z terjadi di tengah perubahan struktural pada pasar kerja. Analisis terhadap 126 juta lowongan pekerjaan menunjukkan posisi entry-level (nol hingga dua tahun pengalaman) mengalami penurunan 29 persen poin sejak Januari 2024.

Penurunan ini terjadi di berbagai sektor, dengan industri teknologi mencatat penurunan 35 persen, logistik 25 persen, dan keuangan 24 persen. Kondisi ini berarti pintu masuk ke dunia kerja formal semakin menyempit bagi Gen Z, yang akses terhadap pekerjaan pertamanya tidak lagi seluas generasi sebelumnya.

Banyak pekerjaan awal yang sebelumnya menjadi batu loncatan karier kini berkurang, baik karena otomatisasi, restrukturisasi organisasi, maupun efisiensi berbasis teknologi.

Fleksibilitas dan ‘Side Hustle’ Jadi Pilihan

Laporan tersebut juga mencatat bahwa hanya 45 persen Gen Z saat ini berada dalam pekerjaan penuh waktu tradisional. Dari kelompok yang bekerja penuh waktu tersebut, 31 persen memilih mengombinasikan pekerjaan utama dengan pekerjaan lain atau side hustle.

Fenomena ini mencerminkan pendekatan karier yang lebih fleksibel, di mana side hustle tidak hanya dilihat sebagai tambahan penghasilan, tetapi juga sebagai cara membangun portofolio keterampilan dan memperluas jaringan profesional. Pendekatan ini sejalan dengan karakter Gen Z yang tumbuh di era digital, dengan peluang kerja freelance, ekonomi kreator, dan ekonomi gig yang semakin mudah diakses.

Prioritas Gen Z: Gaji, Fleksibilitas, dan Tujuan Kerja

Laporan Randstad menunjukkan, Gen Z memprioritaskan tiga hal utama dalam pekerjaan, yakni gaji, fleksibilitas, dan tujuan kerja (purpose). Meskipun kompensasi tetap menjadi faktor penting, fleksibilitas kerja dan makna pekerjaan memiliki bobot signifikan dalam pengambilan keputusan karier.

Gen Z cenderung mencari perusahaan yang menawarkan jalur perkembangan yang jelas, lingkungan kerja fleksibel, serta nilai perusahaan yang selaras dengan nilai pribadi mereka. Ketidakjelasan jenjang karier menjadi salah satu faktor utama yang mendorong niat pindah kerja.

Advertisement

Adopsi AI dan Kesenjangan Pelatihan

Sebagai generasi yang lahir dan tumbuh bersama teknologi digital, Gen Z menunjukkan tingkat adopsi kecerdasan buatan (AI) yang tinggi. Menurut laporan tersebut, 75 persen Gen Z menggunakan AI untuk meningkatkan keterampilan (upskilling).

Selain itu, 55 persen memanfaatkan AI untuk memecahkan masalah di tempat kerja, dan 50 persen menggunakannya dalam proses pencarian kerja. Angka ini lebih tinggi dibandingkan generasi lainnya. Namun, laporan tersebut juga mencatat adanya kesenjangan akses pelatihan AI.

Pekerja pria dilaporkan lebih banyak menerima pelatihan AI dibandingkan pekerja perempuan. Selain itu, pekerja white-collar memiliki akses lebih besar dibandingkan pekerja blue-collar, menunjukkan distribusi akses terhadap pelatihan formal belum merata.

Tantangan dan Rekomendasi untuk Perusahaan

CEO Randstad, Sander van ’t Noordende, menyampaikan bahwa Gen Z memasuki dunia kerja di tengah transformasi besar. “Gen Z memasuki dunia kerja di tengah transformasi, bukan hanya menanggapi perubahan, tetapi juga mendorongnya. Mereka ambisius, mudah beradaptasi, dan mencari pertumbuhan,” tutur van ‘t Noordende.

Ia menambahkan, “Perusahaan yang ingin mempertahankan mereka harus memikirkan kembali cara mereka merancang karier awal dan membangun kepercayaan melalui tujuan dan kemajuan.” Pernyataan ini menegaskan mobilitas Gen Z terjadi dalam konteks perubahan struktural yang lebih luas, termasuk transformasi digital, perubahan model bisnis, serta dinamika global pascapandemi.

Dengan berkurangnya lowongan kerja entry-level dan meningkatnya ekspektasi terhadap keterampilan digital, Gen Z menghadapi tantangan ganda: dituntut memiliki kemampuan teknologi dan adaptasi tinggi, namun akses terhadap pengalaman kerja formal pertama menjadi lebih terbatas.

Randstad mengidentifikasi beberapa langkah yang dapat dipertimbangkan pemberi kerja:

  • Mendesain ulang pekerjaan entry-level sebagai jalur perkembangan yang jelas.
  • Membangun kepercayaan melalui transparansi jalur karier dan tujuan organisasi.
  • Memastikan akses pelatihan, terutama dalam teknologi dan AI, tersedia secara merata.

Pendekatan ini dinilai penting untuk menjembatani kesenjangan antara ekspektasi Gen Z dan realitas pasar kerja.

Informasi lengkap mengenai dinamika Gen Z di dunia kerja ini disampaikan melalui laporan resmi Randstad berjudul The Gen Z Workplace Blueprint: Future Focused, Fast Moving yang dirilis pada Februari 2026.

Advertisement