Nilai tukar rupiah di pasar spot kembali tertekan pada pembukaan perdagangan Rabu, 25 Februari 2026. Mata uang Garuda melemah 0,11 persen, mencapai level Rp 16.848 per dollar Amerika Serikat (AS), di tengah mayoritas mata uang regional Asia yang justru menunjukkan penguatan.
Pergerakan Mata Uang Regional Asia
Pada waktu yang sama, sejumlah mata uang di kawasan Asia terpantau menguat terhadap dollar AS. Dollar Taiwan memimpin dengan kenaikan 0,33 persen, diikuti peso Filipina yang terapresiasi 0,12 persen.
Yen Jepang menguat 0,08 persen, sementara baht Thailand juga menunjukkan apresiasi sebesar 0,07 persen. Dollar Singapura dan won Korea Selatan masing-masing naik 0,05 persen, serta yuan China turut menguat 0,05 persen. Dollar Hong Kong juga bertambah 0,02 persen.
Di sisi lain, ringgit Malaysia menjadi satu-satunya mata uang yang melemah bersama rupiah, meskipun koreksinya lebih tipis, yakni 0,03 persen terhadap dollar AS.
Analisis dan Proyeksi Rupiah
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa rupiah diperkirakan masih berada dalam tekanan terhadap dollar AS. Hal ini sejalan dengan menguatnya sentimen hawkish dari sejumlah pejabat Federal Reserve (The Fed).
Secara teknikal, Lukman memproyeksikan pergerakan rupiah akan berada dalam rentang Rp 16.750 hingga Rp 16.900 per dollar AS. “Rupiah diperkirakan melemah terhadap dollar AS, setelah beberapa pernyataan hawkish dari pejabat The Fed. Range Rp 16.750 – Rp 16.900,” ucap Lukman saat dihubungi Kompas.com pada Rabu pagi.
Informasi mengenai pergerakan nilai tukar rupiah dan mata uang regional ini disampaikan berdasarkan data pasar spot dan analisis dari Doo Financial Futures pada Rabu, 25 Februari 2026.
