Finansial

Rupiah Menguat Tajam: Keputusan MA AS Batalkan Tarif Trump Dorong Apresiasi Mata Uang Asia

Advertisement

Nilai tukar rupiah dibuka menguat pada awal perdagangan Senin, 23 Februari 2026, mencatatkan kenaikan 0,13 persen ke level Rp 16.868 per dollar Amerika Serikat (AS). Penguatan ini terjadi seiring apresiasi mayoritas mata uang Asia terhadap dollar AS, didorong oleh sentimen global yang positif.

Penguatan Mata Uang Asia

Mayoritas mata uang di kawasan Asia turut terapresiasi terhadap dollar AS. Yen Jepang mencatatkan penguatan tertinggi dengan melonjak 0,54 persen.

Diikuti oleh Ringgit Malaysia dan dollar Taiwan yang masing-masing naik 0,41 persen. Peso Filipina menguat 0,38 persen, sementara dollar Singapura naik 0,2 persen dan baht Thailand terapresiasi 0,19 persen. Won Korea Selatan juga menunjukkan kenaikan 0,15 persen terhadap dollar AS.

Namun, dollar Hong Kong menjadi satu-satunya mata uang Asia yang melemah tipis, dengan penurunan 0,01 persen terhadap the greenback.

Analisis Pasar dan Sentimen Global

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa rupiah berpotensi menguat terhadap dollar AS menyusul pelemahan tajam mata uang Negeri Paman Sam tersebut.

“Rupiah berpotensi menguat terhadap dollar AS yang melemah tajam setelah data pertumbuhan ekonomi yang jauh di bawah ekspektasi,” ujar Lukman.

Advertisement

Tekanan terhadap dollar AS semakin diperkuat oleh keputusan Mahkamah Agung (MA) AS yang menganulir kebijakan tarif Presiden Donald Trump. Keputusan ini dinilai menurunkan tensi perang dagang dan mengurangi permintaan terhadap aset safe haven berbasis dollar.

Proyeksi Pergerakan Rupiah

Kombinasi faktor fundamental dan sentimen global tersebut membuka ruang penguatan rupiah dalam jangka pendek, terutama jika aliran dana asing kembali masuk ke pasar emerging markets.

Secara teknikal, rupiah diperkirakan akan bergerak dalam kisaran Rp 16.800 hingga Rp 16.950 per dollar AS.

Informasi mengenai pergerakan nilai tukar rupiah dan analisis pasar ini disampaikan berdasarkan data perdagangan dan pernyataan analis pada Senin, 23 Februari 2026.

Advertisement