Finansial

Rupiah Tergelincir: Pelemahan Mata Uang Garuda dan Asia Lainnya Dipicu Eskalasi Konflik Timur Tengah

Advertisement

Nilai tukar rupiah di pasar spot kembali menunjukkan pelemahan pada penutupan perdagangan Senin, 2 Maret 2026. Mata uang Garuda ditutup pada level Rp 16.868 per dollar Amerika Serikat (AS), terdepresiasi 0,48 persen dibandingkan penutupan Jumat (27/2/2026) yang berada di Rp 16.787 per dollar AS.

Pelemahan rupiah ini sejalan dengan tekanan yang dialami mayoritas mata uang Asia lainnya terhadap dollar AS. Situasi ini mencerminkan sentimen pasar global yang cenderung mengarah pada aset-aset yang dianggap lebih aman.

Mayoritas Mata Uang Asia Turut Tertekan Dollar AS

Data perdagangan menunjukkan bahwa won Korea Selatan mencatat pelemahan terdalam di kawasan, anjlok 1,51 persen. Diikuti oleh baht Thailand dengan penurunan 1,35 persen, serta peso Filipina yang melemah 0,90 persen.

Ringgit Malaysia juga terdepresiasi sebesar 0,89 persen, sementara yen Jepang turut tertekan 0,69 persen. Dollar Taiwan turun 0,62 persen, dan dollar Singapura melemah 0,61 persen. Rupee India tergelincir 0,53 persen, sedangkan yuan China turun 0,33 persen terhadap dollar AS pada sore hari.

Di tengah gelombang pelemahan ini, dollar Hong Kong menjadi satu-satunya mata uang Asia yang berhasil menguat tipis 0,02 persen terhadap the greenback.

Eskalasi Konflik Timur Tengah Picu Sentimen Risk Off

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa rupiah diperkirakan bergerak melemah terhadap dollar AS akibat meningkatnya sentimen risk off. Sentimen ini dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah yang menciptakan ketidakpastian geopolitik.

Menurut Lukman, ketidakpastian tersebut mendorong investor global untuk mengalihkan dana ke aset safe haven seperti dollar AS dan obligasi pemerintah AS. Perpindahan modal ini secara langsung menekan mata uang negara-negara berkembang (emerging markets), termasuk rupiah.

Advertisement

“Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dollar AS di tengah sentimen risk off dari eskalasi perang di Timur Tengah,” ujar Lukman saat dihubungi Kompas.com.

Bank Indonesia Diprediksi Lakukan Intervensi Stabilisasi

Meskipun demikian, Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan mengambil langkah stabilisasi. Lukman memaparkan bahwa BI kemungkinan akan melakukan intervensi di pasar valuta asing (valas) maupun pasar obligasi.

Upaya intervensi ini bertujuan untuk menjaga pergerakan rupiah tetap terkendali, meredam gejolak yang berlebihan, serta mempertahankan kepercayaan pasar terhadap stabilitas makroekonomi Indonesia.

“Namun BI diperkirakan akan mengintervensi,” tambahnya.

Informasi mengenai pergerakan nilai tukar rupiah dan analisis pasar ini disampaikan berdasarkan data perdagangan terkini pada 2 Maret 2026 dan pernyataan resmi analis Doo Financial Futures.

Advertisement