Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Kamis (12/2/2026) pagi di level Rp 16.818 per dollar AS. Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda mengalami penurunan sebesar 32 poin atau setara 0,19 persen dibandingkan posisi penutupan hari sebelumnya di angka Rp 16.786.
Dampak Data Tenaga Kerja Amerika Serikat
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah dipicu oleh penguatan kembali mata uang Negeri Paman Sam. Kondisi ini terjadi setelah rilis data tenaga kerja nonfarm payrolls (NFP) Amerika Serikat yang tercatat lebih kuat dari ekspektasi pasar.
“Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dollar AS yang rebound setelah data pekerjaan AS NFP yang lebih kuat dari perkiraan,” ujar Lukman. Situasi tersebut mendorong minat investor terhadap dollar AS meningkat, sehingga menekan mata uang negara berkembang termasuk rupiah.
Proyeksi Pergerakan Rupiah dan IHSG
Untuk perdagangan sepanjang hari ini, nilai tukar rupiah diproyeksikan akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Lukman memperkirakan rentang pergerakan mata uang berada di kisaran Rp 16.750 hingga Rp 16.850 per dollar AS.
Di sisi lain, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru mencatatkan penguatan tipis sebesar 13,961 poin atau 0,17 persen ke posisi 8.304,928. Sejak pembukaan sesi, indeks bergerak dinamis dengan menyentuh level tertinggi di 8.334,022 dan titik terendah pada 8.258,977.
Data Perdagangan Saham
Aktivitas perdagangan di bursa menunjukkan volume transaksi mencapai 10,980 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp 5,650 triliun. Berikut adalah rincian pergerakan emiten pada pembukaan perdagangan:
| Status Saham | Jumlah Emiten |
| Menguat | 282 |
| Melemah | 254 |
| Stagnan | 186 |
Informasi mengenai pergerakan nilai tukar dan pasar modal ini merujuk pada data perdagangan Bloomberg dan Bursa Efek Indonesia yang dirilis pada Kamis, 12 Februari 2026.
