Ketegangan geopolitik yang memanas di Timur Tengah kembali menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan pasar keuangan global, termasuk pasar saham Asia dan Indonesia. Eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran memicu peningkatan ketidakpastian global, mendorong investor bersikap lebih berhati-hati terhadap aset berisiko. Dalam kondisi tersebut, pasar domestik Indonesia menunjukkan pergerakan terbatas dengan volatilitas yang meningkat, sementara nilai tukar rupiah tercatat melemah.
Eskalasi Konflik di Timur Tengah dan Dampaknya
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah meningkat setelah AS dan Israel melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap sejumlah target strategis Iran. Serangan tersebut menyasar kompleks militer serta fasilitas yang diduga berkaitan dengan program rudal dan nuklir Iran dalam operasi yang disebut Operation Epic Fury.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, mengatakan eskalasi konflik tersebut menjadi salah satu faktor utama yang memicu ketidakpastian di pasar keuangan global. “Perkembangan geopolitik dan kebijakan ekonomi global kembali menjadi faktor utama yang memengaruhi sentimen pasar dan risiko domestik Indonesia,” kata Imam, dikutip pada Senin (2/3/2026).
Menurut Imam, ketegangan di Timur Tengah mencapai puncaknya setelah serangan udara gabungan tersebut menimbulkan korban jiwa yang signifikan di Iran. Laporan menyebutkan lebih dari 200 warga Iran tewas, termasuk puluhan anak sekolah, sementara ratusan lainnya mengalami luka-luka. Otoritas Israel pun menyatakan terdapat indikasi kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan rudal balistik ke sejumlah negara yang menjadi basis militer AS dan sekutunya di kawasan Teluk, termasuk Bahrain, Qatar, Kuwait, Arab Saudi, Yordania, dan Irak. Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan sembilan korban tewas dari kalangan sipil di beberapa wilayah.
Selat Hormuz Terancam Ditutup, Ganggu Pasokan Energi Global
Dampak konflik tidak hanya dirasakan secara politik dan keamanan, tetapi juga mulai menjalar ke sektor ekonomi global, terutama melalui potensi gangguan terhadap jalur distribusi energi dunia. Selat Hormuz menjadi salah satu titik krusial dalam dinamika konflik tersebut.
Jalur pelayaran strategis ini merupakan rute transit bagi sekitar 20 hingga 25 persen pasokan minyak mentah dan gas alam cair dunia setiap hari. Sebagai respons terhadap serangan gabungan AS dan Israel, Iran melalui Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan pembatasan atau penutupan akses terhadap Selat Hormuz.
Menurut pernyataan otoritas Iran, jalur tersebut dinilai “tidak aman untuk dilintasi”, sehingga aktivitas pelayaran dihentikan sebagai langkah pengamanan. Otoritas maritim AS juga memperingatkan kapal sipil agar menjauhi kawasan Teluk karena tingginya risiko konflik.
Penutupan atau gangguan terhadap jalur ini dinilai berpotensi mengguncang pasar energi global. Gangguan terhadap jalur tersebut dapat memicu lonjakan harga energi, mengganggu rantai pasok global, serta meningkatkan biaya asuransi pengiriman.
Dinamika Kebijakan Ekonomi AS dan Peringatan S&P Global Ratings
Selain konflik di Timur Tengah, dinamika kebijakan ekonomi AS juga menambah kompleksitas sentimen global. Imam mengatakan, Mahkamah Agung AS baru-baru ini membatalkan sebagian besar tarif impor global yang sebelumnya diberlakukan oleh pemerintahan Presiden Donald Trump.
“Mahkamah Agung AS membatalkan sebagian besar tarif impor global yang sebelumnya diberlakukan oleh pemerintahan Trump karena dianggap melampaui kewenangan hukum,” kata Imam. Keputusan tersebut memaksa pemerintah AS mencari dasar hukum baru untuk mempertahankan sebagian kebijakan tarif.
Menanggapi situasi tersebut, Trump mengumumkan rencana kenaikan tarif impor global menjadi 15 persen. Selain itu, Departemen Perdagangan AS juga menetapkan bea masuk anti-subsidi terhadap panel surya dari sejumlah negara, termasuk Indonesia, dengan kisaran tarif antara 86 persen hingga 143,3 persen.
Menurut Imam, kebijakan ini berpotensi menekan ekspor sektor energi terbarukan Indonesia ke pasar AS. “Ketentuan tarif tinggi ini dapat menekan ekspor sektor energi terbarukan Indonesia ke pasar AS dan menambah tekanan pada neraca perdagangan sektor terkait,” ujarnya.
Di dalam negeri, perhatian investor juga tertuju pada peringatan dari S&P Global Ratings terkait tekanan fiskal Indonesia. S&P memperkirakan rasio pembayaran bunga utang terhadap pendapatan negara telah atau berpotensi bertahan di atas 15 persen. Angka tersebut menjadi ambang penting dalam penilaian kesehatan fiskal suatu negara.
“Peringatan ini menambah kehati-hatian investor dan pembuat kebijakan dalam menanggapi gejolak global sambil mengelola tantangan fiskal domestik,” ucap Imam.
Pergerakan IHSG dan Proyeksi Pasar
Pada perdagangan Jumat (27/2/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat bergerak relatif datar. Berdasarkan catatan MNC Sekuritas, IHSG ditutup di level 8.235,49 atau menguat tipis 0,00 persen dengan tekanan jual investor asing yang cukup besar.
“MNC Sekuritas mencatat IHSG ditutup flat di level 8.235,49 pada Jumat (27/2/2026), di tengah net foreign sell sebesar Rp 694,22 miliar,” tulis riset MNC Sekuritas. Secara sektoral, penguatan indeks ditopang oleh sektor industri yang naik 4,48 persen, diikuti sektor cyclicals yang menguat 2,28 persen. Sebaliknya, sektor keuangan menjadi penekan utama indeks dengan penurunan 0,83 persen, disusul sektor infrastruktur yang melemah 0,36 persen.
MNC Sekuritas mencatat indeks sempat mengalami tekanan intraday hingga turun 1,72 persen setelah muncul peringatan dari lembaga pemeringkat S&P Global Ratings terkait kondisi fiskal Indonesia. Namun, IHSG kemudian berhasil pulih dan ditutup sedikit lebih tinggi sejalan dengan mayoritas pasar Asia. Meski demikian, risiko eksternal dinilai masih berpotensi menekan pergerakan pasar dalam jangka pendek.
Pada saat yang sama, nilai tukar rupiah tercatat melemah dan ditutup di level Rp 16.771 per dollar AS. MNC Sekuritas memperkirakan IHSG akan bergerak dalam rentang 8.187 hingga 8.281 pada perdagangan selanjutnya.
Dalam kondisi tersebut, IPOT memperkirakan IHSG berpotensi bergerak volatil dalam jangka pendek dengan kecenderungan konsolidasi. “IHSG pekan ini berpotensi bergerak volatile dengan kecenderungan konsolidasi dengan support di 8031 dan resistance di 8437,” kata Imam.
Dampak pada Sektor Ekonomi dan Arus Modal
Eskalasi konflik di Timur Tengah juga berpotensi memberikan dampak yang berbeda pada sektor-sektor tertentu di pasar saham. Menurut Imam, sektor energi dan komoditas menjadi sektor yang paling sensitif terhadap perkembangan konflik di kawasan tersebut.
Jika risiko gangguan pasokan energi berlanjut, harga minyak mentah berpotensi meningkat. Kondisi ini dapat memberikan keuntungan bagi emiten batu bara dan migas karena kenaikan harga jual rata-rata. “Kenaikan premi risiko juga biasanya mendorong penguatan harga emas, sehingga sektor tambang emas dan logam mulia berpotensi diuntungkan di tengah ketidakpastian global,” ujarnya.
Namun di sisi lain, lonjakan harga energi dapat menekan sektor yang padat energi seperti industri penerbangan serta sektor manufaktur yang bergantung pada impor bahan bakar. Di tengah kondisi global yang tidak pasti, aliran dana investor global juga berpotensi mengalami pergeseran.
Imam mengatakan ketidakpastian geopolitik dapat mendorong penguatan dolar AS dan kenaikan harga komoditas energi. Situasi tersebut biasanya memicu rotasi dana menuju aset yang dianggap lebih aman atau safe haven, sehingga arus modal ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, berpotensi tertekan.
Namun demikian, kenaikan harga komoditas juga dapat menjadi faktor penopang bagi pasar saham Indonesia, terutama melalui kinerja emiten berbasis sumber daya alam. Indonesia sebagai eksportir batu bara dan sejumlah komoditas energi berpotensi mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga tersebut melalui peningkatan harga jual rata-rata dan margin perusahaan.
Meski demikian, jika kenaikan harga energi berlangsung terlalu tajam dan berkepanjangan, risiko inflasi global dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah dapat meningkat. Kenaikan harga minyak yang signifikan berpotensi memperbesar tekanan pada neraca transaksi berjalan melalui peningkatan impor migas.
Data Makroekonomi yang Dinantikan
Arah pergerakan indeks sangat bergantung pada perkembangan konflik geopolitik dan dampaknya terhadap harga energi global. Di sisi lain, investor juga menunggu sejumlah data ekonomi penting yang akan dirilis pada awal Maret 2026, baik dari dalam negeri maupun dari ekonomi global.
Beberapa indikator yang dinantikan antara lain PMI Manufaktur Indonesia Februari 2026, neraca perdagangan Indonesia Januari 2026, inflasi Indonesia Februari 2026, serta PMI sektor manufaktur dan jasa AS. Selain itu, pasar juga menunggu data tenaga kerja AS seperti initial jobless claims, non-farm payrolls, serta tingkat pengangguran. Data lain yang menjadi perhatian adalah PMI yang dirilis Badan Statistik China serta posisi cadangan devisa Indonesia.
Informasi lengkap mengenai isu ini disampaikan melalui riset MNC Sekuritas dan PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) yang dirilis pada Senin, 2 Maret 2026.
