Teknologi

Soroti Privasi Data, Pengguna TikTok di Amerika Serikat Hapus Massal Aplikasi Usai Perubahan Kebijakan

Advertisement

Gelombang penghapusan akun TikTok dilaporkan tengah terjadi secara masif di Amerika Serikat (AS) menyusul pemberlakuan kebijakan layanan terbaru oleh platform tersebut. Para pengguna menyatakan kekecewaan terhadap perubahan ketentuan yang dinilai mengancam privasi data pribadi dan keamanan digital mereka.

Lonjakan Penghapusan Akun di Amerika Serikat

Berdasarkan data dari lembaga riset pasar Sensor Tower, rata-rata harian pengguna di AS yang menghapus aplikasi TikTok mengalami peningkatan hingga 150 persen. Lonjakan ini tercatat selama lima hari sejak kebijakan baru mulai diberlakukan, jika dibandingkan dengan periode tiga bulan sebelumnya.

Aksi hapus akun berjamaah ini ramai disuarakan melalui platform media sosial Threads. Sejumlah pengguna secara terbuka menyatakan ketidaknyamanan mereka terhadap entitas baru yang kini mengelola operasional TikTok di wilayah Amerika Serikat.

Pembentukan TikTok USDS Joint Venture LLC

Perubahan kebijakan ini berakar dari pembentukan entitas baru bernama TikTok USDS Joint Venture LLC. Langkah tersebut diambil perusahaan untuk mematuhi Perintah Eksekutif yang ditandatangani oleh Donald Trump pada September 2025 lalu.

Dalam pembaruan yang dirilis pada 23 Januari, TikTok menjelaskan bahwa entitas ini dibentuk agar lebih dari 200 juta warga dan 7,5 juta pelaku bisnis di AS tetap dapat mengakses aplikasi. Operasional perusahaan kini berada di bawah pengawasan ketat yang mencakup:

Advertisement

  • Perlindungan data pengguna Amerika Serikat secara menyeluruh.
  • Keamanan algoritma dan moderasi konten yang ditingkatkan.
  • Jaminan perangkat lunak melalui langkah-langkah keamanan siber.

Meskipun diklaim bertujuan untuk memperkuat keamanan nasional, banyak pengguna melaporkan bahwa pembaruan ketentuan layanan (terms of service) muncul secara otomatis tanpa opsi untuk menolak. Pengguna hanya diberikan pilihan untuk menyetujui aturan baru atau berhenti menggunakan aplikasi sepenuhnya.

Kontroversi Pengumpulan Data Sensitif

Kekhawatiran utama pengguna terletak pada rincian aturan privasi terbaru yang memungkinkan TikTok mengumpulkan lebih banyak data sensitif. Berbeda dengan kebijakan sebelumnya, platform kini memiliki akses terhadap informasi yang mencakup:

  • Lokasi presisi maupun perkiraan melalui layanan lokasi.
  • Status kewarganegaraan pengguna.
  • Orientasi seksual dan identitas gender.

Ketentuan ini memicu reaksi negatif karena pada aturan lama, TikTok secara tegas menyatakan tidak mengumpulkan data lokasi maupun informasi sensitif lainnya. Perubahan ini dianggap sebagai langkah mundur dalam transparansi perlindungan data pribadi pengguna di wilayah tersebut.

Informasi mengenai perubahan kebijakan dan reaksi pengguna ini dihimpun berdasarkan laporan resmi TikTok serta pemantauan aktivitas media sosial yang dirilis pada Februari 2026.

Advertisement