Finansial

Sri Mulyani Ungkap Strategi Indonesia Tolak Klausul Beracun dalam Negosiasi Tarif Dagang dengan AS

Advertisement

Eks Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memberikan pandangannya terkait dinamika negosiasi tarif dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS). Ia menyoroti upaya Indonesia dalam menolak klausul-klausul yang berpotensi merugikan kepentingan nasional, termasuk yang dikenal sebagai “poison clauses” atau klausul beracun.

Strategi Indonesia di Tengah Keterbatasan Pilihan Global

Sri Mulyani menjelaskan bahwa dalam lanskap perdagangan global saat ini, banyak negara menghadapi keterbatasan pilihan dalam menentukan strategi negosiasi. Kondisi ini seringkali mendorong negara-negara untuk melakukan negosiasi secara bilateral.

“Setiap negara pada akhirnya tidak punya banyak pilihan selain bernegosiasi secara bilateral,” ujar Sri Mulyani dalam podcast Oxford Policy Pod, Kamis (26/2/2026).

Ia menambahkan, sistem perdagangan global sebelumnya dikoordinasikan oleh Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Meskipun belum sempurna, kerangka aturan WTO telah menjadi dasar bersama bagi aktivitas perdagangan internasional.

Dampak Kebijakan Tarif Sepihak AS

Kebijakan tarif yang diterapkan AS secara sepihak dinilai telah mengubah dinamika perdagangan global. Situasi ini menempatkan banyak negara pada posisi sulit, yakni memilih antara mengandalkan mekanisme multilateral WTO atau menempuh jalur negosiasi bilateral langsung dengan AS.

Bagi Indonesia, sejumlah hambatan perdagangan menjadi perhatian utama dalam pembahasan dengan AS. Isu-isu ini sejalan dengan agenda reformasi pemerintah untuk memperbaiki iklim usaha dan investasi di dalam negeri.

Advertisement

Memperkuat Daya Saing dan Hubungan Saling Menguntungkan

Upaya mengatasi hambatan perdagangan tersebut krusial untuk meningkatkan daya saing ekonomi nasional. Hal ini mencakup menarik investasi serta memperkuat basis industri domestik.

Di sisi lain, Indonesia memiliki komoditas yang dibutuhkan oleh AS, sementara Indonesia juga mengimpor berbagai produk dari AS, seperti daging, kedelai, produk hortikultura, serta minyak dan gas. Sektor penerbangan turut menjadi bagian dari diskusi dalam negosiasi kedua negara.

“Semua ini menjadi area yang bisa dimanfaatkan dalam negosiasi bukan semata-mata melihat tarif sebagai alat tekanan, melainkan sebagai cara memperkuat hubungan yang saling menguntungkan,” tutur Sri Mulyani.

Pentingnya Disiplin Fiskal di Tengah Gejolak Global

Menghadapi dinamika perdagangan global yang semakin kompleks, Sri Mulyani menekankan pentingnya disiplin dalam pengelolaan fiskal. Disiplin ini vital untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah gejolak global, termasuk yang dipicu oleh kebijakan tarif dagang resiprokal Presiden AS, Donald Trump.

Informasi lengkap mengenai pandangan Sri Mulyani ini disampaikan melalui wawancara dalam podcast Oxford Policy Pod yang dirilis pada Kamis, 26 Februari 2026.

Advertisement