Konflik berkepanjangan antara Rusia dan Ukraina tidak hanya mengubah lanskap geopolitik, tetapi juga memicu fenomena mengejutkan pada hewan domestik. Anjing-anjing yang hidup di garis depan pertempuran dilaporkan mengalami “domestikasi terbalik”, yaitu perubahan fisik dan perilaku yang membuat mereka semakin menyerupai serigala dalam waktu kurang dari setahun.
Fenomena ini terjadi akibat tekanan lingkungan ekstrem yang mengikis ciri-ciri hasil ratusan tahun hidup berdampingan dengan manusia. Temuan signifikan ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Evolutionary Applications, menyoroti dampak perang yang meluas hingga ke dunia satwa.
Fenomena Domestikasi Terbalik pada Anjing Ukraina
Penelitian yang dipimpin oleh Mariia Martsiv dari Ivan Franko National University of Lviv mendokumentasikan 763 anjing liar dan semi-liar di sembilan wilayah Ukraina. Hasil studi menunjukkan bahwa anjing-anjing di dekat zona pertempuran aktif mengalami perubahan drastis, mengadopsi ciri-ciri yang lebih adaptif untuk bertahan hidup di lingkungan yang keras.
Martsiv menjelaskan, “Anjing dengan fenotipe ‘liar’ sebenarnya lebih mungkin bertahan hidup di garis depan: telinga tegak, ekor lurus, bulu lebih sedikit warna putih.” Perubahan ini terjadi terlalu cepat untuk disebabkan oleh mutasi genetik baru, melainkan merupakan proses seleksi alam yang brutal.
Perubahan Fisik dan Perilaku yang Teramati
Anjing-anjing di garis depan menunjukkan kombinasi ciri fisik yang jarang terlihat dalam kondisi normal. Mereka memiliki telinga tegak, tubuh lebih ramping, moncong lebih panjang, ekor lurus, dan bulu dengan lebih sedikit warna putih. Perbedaan ini sudah tampak jelas antara anjing di garis depan dan anjing di wilayah barat Ukraina yang relatif aman dalam periode pengamatan 10 bulan.
Selain perubahan fisik, perilaku anjing juga beradaptasi. Dari 489 foto anjing liar yang dianalisis, peneliti menemukan bahwa anjing di dekat garis depan lebih jarang hidup sendirian. Mereka sering terlihat berpasangan atau bertiga, membentuk kelompok untuk mempertahankan makanan dan bergerak bersama melewati reruntuhan.
Seleksi Alam Brutal di Garis Depan
Perang memaksa jutaan warga Ukraina mengungsi, menyebabkan runtuhnya rutinitas perawatan hewan peliharaan. Banyak anjing ditinggalkan, dan mereka yang tersisa harus bergantung pada sisa makanan serta belas kasih orang asing. Dalam kondisi kekurangan pangan dan bahaya ledakan, hanya anjing dengan tubuh dan perilaku paling adaptif yang mampu bertahan.
Anjing berhidung pesek (brachycephalic) misalnya, lebih jarang ditemukan di garis depan. Masalah pernapasan yang umum pada ras berhidung pendek bisa menjadi hambatan fatal saat harus berlari menghindari ledakan. Demikian pula anjing bertubuh sangat panjang atau berkaki pendek yang memiliki keterbatasan gerak. Seiring waktu, bentuk-bentuk tubuh yang rentan menghilang, menyisakan populasi yang kurang beragam secara fisik.
Dampak Kelaparan Ekstrem dan Perubahan Pola Makan
Penurunan berat badan paling tajam ditemukan di zona perang aktif. Dari analisis perbandingan tinggi dan berat badan, sekitar 82% anjing tergolong sangat kurus dan kekurangan gizi. Anjing berukuran lebih kecil memiliki keuntungan tertentu, seperti lebih kecil kemungkinan memicu ranjau anti-tank dan lebih mudah bersembunyi di ruang sempit.
Analisis sampel rambut dari 97 anjing mengungkap riwayat pola makan mereka. Rambut menyimpan jejak kimia berupa isotop karbon dan nitrogen yang menunjukkan asupan protein hewani sangat rendah, dengan porsi makanan nabati lebih dominan. Ini adalah indikasi kuat kekurangan nutrisi. Dalam tiga kasus, peneliti bahkan mencatat anjing yang menggerogoti jasad manusia, meskipun anjing liar yang agresif cenderung menjaga jarak sehingga sulit diteliti lebih lanjut.
Adaptasi Sosial dan Risiko Kesehatan
Hidup berkelompok membantu anjing-anjing ini meningkatkan peluang bertahan hidup. Kelompok terbesar yang ditemukan berisi 11 ekor anjing, seluruhnya anak-anak anjing. Namun, peningkatan hidup berkelompok juga membawa risiko, seperti potensi gigitan yang meningkat dan penyebaran penyakit yang lebih mudah.
Menariknya, hanya sekitar 3% anjing di garis depan menunjukkan penyakit atau cedera yang terlihat. Hal ini bukan karena mereka lebih sehat, melainkan karena anjing yang sakit dan tua lebih cepat mati. Dengan akses dokter hewan yang terbatas, cedera seperti infeksi luka, penyakit kulit, atau kehilangan mata dapat dengan cepat mengakhiri hidup seekor anjing. Tingkat kematian yang tinggi ini juga memengaruhi reproduksi, di mana anjing dengan bentuk tubuh dan perilaku yang lebih adaptif memiliki peluang lebih besar untuk berkembang biak.
Implikasi Luas Perang terhadap Ekosistem
Anjing hanyalah salah satu contoh yang terlihat jelas dari dampak perang terhadap ekosistem. Perang juga mengubah ketersediaan makanan, tempat berlindung, dan interaksi antarspesies lainnya. Ketika manusia pergi, tempat pembuangan sampah hilang, lahan pertanian gagal panen, dan bangunan rusak menciptakan habitat baru yang memaksa hewan menjalani “ujian bertahan hidup” mendadak.
Mengamati perubahan hewan selama konflik tidak hanya membantu upaya penyelamatan dan pengendalian penyakit saat ini, tetapi juga membuka pemahaman tentang dampak ekologis jangka panjang perang. Penelitian ini menjadi pengingat bahwa perang tidak hanya mengubah sejarah manusia, tetapi juga arah evolusi makhluk hidup lain yang berbagi ruang dengan kita.
