Sains

Studi Global Ungkap Harapan Hidup Manusia Masih Bisa Bertambah, Namun Kesenjangan Regional Meningkat

Advertisement

Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan di Nature Communications menepis anggapan bahwa manusia telah mencapai batas biologis umur panjang. Penelitian skala besar di 450 wilayah Eropa Barat menunjukkan bahwa harapan hidup masih terus meningkat, terutama di beberapa negara maju, meskipun ada kekhawatiran mengenai perlambatan dalam beberapa tahun terakhir.

Selama lebih dari 150 tahun terakhir, harapan hidup manusia terus menunjukkan peningkatan signifikan, khususnya di negara-negara dengan ekonomi kuat. Lonjakan ini didorong oleh kemajuan medis, seperti penurunan penyakit infeksi dan pengobatan kardiovaskular yang pesat. Namun, melambatnya kenaikan harapan hidup di sejumlah negara Barat memicu pertanyaan tentang “langit-langit biologis” usia manusia.

Batas Umur Panjang Manusia Belum Tercapai

Studi yang dipimpin oleh Florian Bonnet dari INED dan World Inequality Lab, Paris School of Economics, ini menganalisis data dari 450 wilayah di 13 negara Eropa Barat, mencakup hampir 400 juta penduduk, selama periode 1992–2019. Hasilnya sangat jelas: “Batas umur panjang manusia belum tercapai.”

Wilayah-wilayah dengan harapan hidup tertinggi, seperti Italia Utara, Swiss, dan beberapa provinsi di Spanyol, masih menunjukkan peningkatan yang konsisten. Setiap tahun, wilayah-wilayah ini mencatat kenaikan sekitar 2,5 bulan untuk laki-laki dan 1,5 bulan untuk perempuan. Angka ini setara dengan laju peningkatan dekade-dekade sebelumnya, tanpa tanda-tanda perlambatan signifikan.

Di Prancis, wilayah seperti Paris, Hauts-de-Seine, Yvelines, Anjou, serta daerah perbatasan Swiss termasuk dalam kelompok unggulan. Pada tahun 2019, harapan hidup di wilayah-wilayah tersebut mencapai 83 tahun untuk laki-laki dan 87 tahun untuk perempuan. Data ini mengindikasikan bahwa masih ada ruang untuk peningkatan, meskipun sering muncul kekhawatiran mengenai batas maksimal usia.

Ketimpangan Regional Meningkat Sejak 2005

Namun, gambaran peningkatan harapan hidup ini tidak merata di seluruh Eropa. Pada tahun 1990-an hingga awal 2000-an, wilayah dengan harapan hidup yang tertinggal justru mengalami kenaikan sangat cepat, menciptakan konvergensi atau penyempitan kesenjangan antarwilayah.

Sayangnya, “masa keemasan” tersebut berakhir sekitar tahun 2005. Di wilayah seperti Jerman Timur, Wallonia (Belgia), beberapa bagian Inggris, dan sejumlah departemen di Hauts-de-France (khususnya untuk laki-laki), kenaikan harapan hidup melambat drastis, bahkan nyaris berhenti. Kini, Eropa seolah terbagi dua: wilayah pelopor yang terus mencatat kemajuan dan wilayah tertinggal yang mengalami stagnasi, bahkan kemunduran.

Advertisement

Usia 55–74 Tahun Jadi Penentu Utama

Peneliti menemukan bahwa perubahan drastis ini bukan disebabkan oleh kematian bayi atau kematian usia di atas 75 tahun, melainkan oleh kelompok usia 55–74 tahun, terutama sekitar usia 65 tahun. Pada tahun 1990-an, angka kematian kelompok ini turun cepat berkat akses pengobatan kardiovaskular dan perubahan perilaku berisiko.

Namun, sejak tahun 2000-an, penurunan tersebut melambat. Bahkan di beberapa wilayah, risiko kematian pada usia 55–74 justru meningkat dalam beberapa tahun terakhir, seperti yang terlihat pada perempuan di wilayah pesisir Mediterania Prancis dan sebagian besar wilayah Jerman. Kenaikan kecil dalam mortalitas usia 55–74 dapat menghentikan tren peningkatan harapan hidup secara keseluruhan.

Faktor Gaya Hidup dan Krisis Ekonomi Berperan

Meskipun studi ini tidak secara langsung mengidentifikasi penyebab pasti, beberapa faktor diduga kuat berperan. Kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, pola makan buruk, atau kurang aktivitas fisik umumnya mulai berdampak serius pada usia paruh baya.

Selain itu, krisis ekonomi tahun 2008 juga memperlebar kesenjangan antarwilayah di Eropa. Beberapa daerah mengalami dampak jangka panjang yang memengaruhi kesehatan penduduknya, sementara wilayah dengan konsentrasi pekerjaan berkualifikasi tinggi tetap mencatat pertumbuhan. Hal ini menegaskan bahwa umur panjang bukan hanya soal kemajuan medis, tetapi juga dipengaruhi faktor sosial dan ekonomi.

Masa Depan Umur Panjang Manusia: Tantangan Kesenjangan Regional

Laporan ini membawa pesan ganda. Di satu sisi, harapan hidup masih bisa terus meningkat, dibuktikan oleh wilayah-wilayah unggulan di Eropa yang tidak menunjukkan tanda-tanda “plateau biologis”. Di sisi lain, kemajuan ini tidak dinikmati semua orang.

Selama 15 tahun terakhir, sebagian Eropa tertinggal, terutama akibat kenaikan mortalitas pada usia sekitar 65 tahun. Peneliti menyimpulkan bahwa masa depan umur panjang manusia mungkin lebih bergantung pada kemampuan kita mengurangi kesenjangan regional daripada pada batas biologis semata. Pertanyaannya bukan lagi sekadar seberapa panjang manusia bisa hidup, melainkan wilayah mana yang memiliki peluang untuk mencapainya.

Advertisement