Finansial

Survei Deloitte 2025: Definisi Sukses Gen Z dan Milenial Bukan Lagi Mengejar Jabatan Tinggi

Advertisement

Pandangan mengenai kesuksesan karier kini mengalami pergeseran signifikan di mata generasi muda. Bagi generasi milenial dan Gen Z, pencapaian profesional tidak lagi diukur semata-mata dari jabatan tinggi atau posisi kepemimpinan, melainkan pada keseimbangan antara keamanan finansial, makna pekerjaan, dan kesejahteraan hidup.

Perubahan paradigma ini terangkum dalam Deloitte Global 2025 Gen Z and Millennial Survey yang melibatkan 23.482 responden dari 44 negara. Laporan tersebut memproyeksikan bahwa pada tahun 2030, kedua generasi ini akan mendominasi 74 persen tenaga kerja global dengan membawa nilai-nilai yang berbeda dari generasi pendahulunya.

Pergeseran Fokus dari Jabatan ke Pertumbuhan Keterampilan

Selama beberapa dekade, tangga korporasi menjadi tolok ukur utama keberhasilan. Namun, data Deloitte menunjukkan hanya 6 persen Gen Z yang menjadikan posisi kepemimpinan sebagai tujuan karier utama mereka. Meski demikian, hal ini bukan berarti mereka kehilangan ambisi.

Generasi ini justru lebih fokus pada pembelajaran dan pengembangan kompetensi. Tercatat sebanyak 70 persen Gen Z mengembangkan keterampilan baru setidaknya sekali dalam seminggu, sementara milenial berada di angka 59 persen. Banyak di antara mereka yang bahkan meluangkan waktu belajar di luar jam kerja resmi.

“Dulu, bagi saya, pertumbuhan karier berarti menaiki tangga karier yang semakin tinggi demi prestise dan gaji. Sekarang, pertumbuhan berarti memastikan saya selalu belajar dan memiliki peluang, namun tetap bersemangat dengan pekerjaan yang dilakukan,” ujar seorang responden milenial perempuan dalam survei tersebut.

Tiga Pilar Kebahagiaan Kerja: Uang, Makna, dan Kesejahteraan

Survei tersebut menemukan bahwa kebahagiaan kerja bagi milenial dan Gen Z kini bertumpu pada tiga faktor utama yang saling berkaitan: uang (money), makna (meaning), dan kesejahteraan (well-being). Tanpa keamanan finansial, responden cenderung memiliki tingkat kesejahteraan mental yang rendah.

Tujuan karier utama Gen Z adalah mencapai kemandirian finansial (22 persen), diikuti keseimbangan kerja dan kehidupan (17 persen), serta stabilitas pekerjaan (14 persen). Milenial memiliki prioritas serupa dengan fokus pada kemandirian finansial dan keseimbangan hidup yang masing-masing mencapai 20 persen.

Realitas Finansial dan Tekanan Biaya Hidup

Meski makna pekerjaan dianggap penting, stabilitas finansial tetap menjadi fondasi utama. Data menunjukkan 52 persen responden dari kedua generasi masih hidup dari gaji ke gaji (paycheck to paycheck). Selain itu, 48 persen Gen Z dan 46 persen milenial mengaku belum merasa aman secara finansial.

Advertisement

Kondisi keuangan ini berdampak langsung pada tingkat kebahagiaan. Sebanyak 60 persen Gen Z yang merasa aman secara finansial menyatakan mereka bahagia, berbanding terbalik dengan mereka yang merasa tidak aman secara finansial yang hanya mencapai 28 persen.

Makna Pekerjaan dan Keseimbangan Hidup

Faktor makna pekerjaan juga menjadi penentu loyalitas karyawan. Sebanyak 89 persen Gen Z dan 92 persen milenial menegaskan bahwa memiliki tujuan dalam pekerjaan sangat penting bagi kepuasan mereka. Bahkan, sekitar 44 persen responden mengaku pernah meninggalkan pekerjaan karena merasa tugas yang diberikan tidak memiliki tujuan yang jelas.

Di sisi lain, tantangan kesehatan mental masih membayangi. Sebanyak 40 persen Gen Z dan 34 persen milenial merasa stres atau cemas hampir sepanjang waktu. Jam kerja yang panjang dan kurangnya pengakuan menjadi pemicu utama tekanan di lingkungan kerja.

Pendidikan Formal dan Strategi Mobilitas Karier

Menariknya, pendidikan tinggi tidak lagi dipandang sebagai satu-satunya jalan menuju sukses. Sekitar 31 persen Gen Z dan 32 persen milenial memilih tidak melanjutkan pendidikan formal karena kendala biaya dan keraguan terhadap relevansi praktisnya. Mereka kini lebih memilih jalur alternatif seperti pelatihan vokasi atau magang.

Sebagai strategi mencapai keseimbangan, mobilitas karier menjadi pilihan. Sebanyak 31 persen Gen Z berencana berganti pekerjaan dalam dua tahun ke depan untuk mencari kompensasi yang lebih tinggi, fleksibilitas, dan peluang pertumbuhan yang lebih baik.

Informasi lengkap mengenai tren dunia kerja ini disampaikan melalui laporan resmi Deloitte Global 2025 Gen Z and Millennial Survey yang dirilis melalui kanal komunikasi resmi lembaga tersebut.

Advertisement