Finansial

Survei Deloitte 2025: Tekanan Finansial Jadi Pemicu Utama Stres Milenial dan Gen Z di Dunia Kerja

Advertisement

Kesehatan mental di lingkungan kerja kini menjadi isu krusial bagi generasi milenial dan Gen Z di tengah meningkatnya tekanan biaya hidup dan ekspektasi karier. Berdasarkan survei global Deloitte bertajuk Deloitte Global Gen Z and Millennial Survey 2025, kesejahteraan mental menjadi faktor inti yang menentukan kebahagiaan serta produktivitas tenaga kerja masa kini.

Laporan tersebut melibatkan 23.482 responden dari 44 negara untuk memetakan prioritas generasi yang diproyeksikan mencakup 74 persen tenaga kerja dunia pada tahun 2030. Hasilnya menunjukkan bahwa keseimbangan hidup dan kesehatan mental bukan lagi sekadar aspek sekunder, melainkan kebutuhan utama dalam pengalaman profesional mereka.

Tingkat Stres dan Kecemasan di Tempat Kerja

Data survei menunjukkan bahwa hanya 52 persen Gen Z dan 58 persen milenial yang menilai kesehatan mental mereka dalam kondisi baik atau sangat baik. Kondisi ini mengindikasikan hampir separuh dari responden merasa tidak memiliki kesejahteraan mental yang optimal selama menjalankan pekerjaan mereka.

Sebanyak 40 persen Gen Z dan 34 persen milenial mengaku merasa stres atau cemas sepanjang waktu. Dari kelompok tersebut, sekitar sepertiga responden secara spesifik menyebutkan bahwa pekerjaan merupakan sumber utama tekanan mental yang mereka alami. Beberapa faktor pemicu stres yang diidentifikasi meliputi:

  • Masa depan finansial jangka panjang
  • Kondisi keuangan sehari-hari
  • Kesehatan dan kesejahteraan keluarga
  • Hubungan personal dan kesehatan fisik
  • Tekanan beban pekerjaan

Tekanan Finansial sebagai Pemicu Utama

Ketidakpastian ekonomi menjadi faktor paling dominan yang menggerus kesehatan mental. Deloitte menemukan bahwa 48 persen Gen Z dan 46 persen milenial merasa tidak aman secara finansial. Bahkan, 52 persen dari kedua generasi ini mengaku hidup dari gaji ke gaji (paycheck to paycheck).

Seorang responden perempuan dari generasi Gen Z mengungkapkan dampak nyata kenaikan biaya hidup terhadap kondisi mentalnya. “Cicilan perumahan saya telah meningkat beberapa kali tahun ini dan harga bahan makanan menjadi sangat mahal. Tanpa kenaikan gaji, saya harus menggunakan sebagian besar gaji untuk membayar tagihan,” tuturnya.

Senada dengan hal tersebut, responden milenial laki-laki menyoroti beban inflasi yang memengaruhi rumah tangga. Ia menyatakan bahwa kenaikan biaya hidup berdampak buruk pada kesehatan mental karena orang-orang mulai khawatir tentang kelangsungan hidup dan masa depan anak-anak mereka.

Advertisement

Korelasi Kesejahteraan Mental dan Kebahagiaan Kerja

Terdapat hubungan langsung antara kondisi mental dengan tingkat kebahagiaan di kantor. Di kalangan Gen Z yang memiliki kesehatan mental baik, sebanyak 62 persen merasa bahagia. Namun, angka tersebut merosot tajam menjadi hanya 19 persen bagi mereka yang memiliki kesehatan mental buruk.

Lingkungan kerja dan gaya kepemimpinan juga memegang peranan penting. Jam kerja yang panjang serta kurangnya pengakuan dari atasan sering kali menjadi pemicu stres. Banyak responden berharap manajer dapat memberikan bimbingan dan dukungan nyata, bukan sekadar melakukan pengawasan tugas rutin.

Seorang responden Gen Z laki-laki menceritakan pengalamannya mengenai perubahan lingkungan kerja. “Pemimpin saya saat ini ingin kami mencoba hal-hal baru dan mengambil risiko. Lingkungan yang mendukung ini telah mengubah segalanya bagi pengembangan profesional saya,” ungkapnya.

Pergeseran Prioritas Karier dan Makna Pekerjaan

Menariknya, ambisi untuk mencapai posisi kepemimpinan bukan lagi menjadi prioritas utama. Hanya 6 persen Gen Z yang menargetkan posisi pimpinan dalam karier mereka. Sebaliknya, mereka lebih fokus pada stabilitas finansial, peluang pengembangan diri, dan work-life balance.

Selain itu, rasa memiliki makna dalam pekerjaan turut memengaruhi kondisi psikologis. Sebanyak 44 persen Gen Z dan 45 persen milenial mengaku pernah meninggalkan pekerjaan karena merasa tugas yang mereka jalankan tidak memiliki tujuan atau dampak yang jelas bagi lingkungan sekitar.

Informasi lengkap mengenai tren tenaga kerja dan kesehatan mental ini bersumber dari laporan resmi Deloitte Global Gen Z and Millennial Survey 2025 yang dirilis melalui kanal publikasi resmi lembaga tersebut.

Advertisement