Survei global yang melibatkan hampir 50.000 pekerja di 48 negara, termasuk 812 responden dari Indonesia, menyoroti dinamika perubahan dunia kerja yang dipengaruhi teknologi dan ketidakpastian global.
Tekanan Finansial di Tengah Dinamika Global
Secara global, 55 persen pekerja melaporkan mengalami tekanan finansial, meningkat dari 52 persen pada tahun sebelumnya. Di kalangan Gen Z secara global, 42 persen bahkan mengaku merasa kewalahan secara finansial.
Di Indonesia, meskipun angkanya sedikit lebih rendah dari rata-rata global, tekanan finansial tetap signifikan. Sebanyak 49 persen pekerja Indonesia mengalami tekanan finansial, dengan 25 persen merasa kewalahan dan 41 persen melaporkan kelelahan terkait kondisi kerja mereka.
Dalam konteks kompensasi, 53 persen pekerja Indonesia menerima kenaikan gaji dalam 12 bulan terakhir, namun hanya 10 persen yang mendapatkan promosi. Ekspektasi pekerja terhadap peningkatan kesejahteraan juga masih tinggi, dengan 32 persen berencana meminta kenaikan gaji, 31 persen berharap promosi, dan 18 persen mempertimbangkan mencari pekerjaan baru.
Kenyamanan Berpendapat Lebih Tinggi dari Rata-rata Global
Di tengah tekanan finansial, survei PwC juga mencatat sisi positif dari lingkungan kerja di Indonesia. Sebanyak 76 persen responden pekerja Indonesia merasa nyaman mengungkapkan pendapat dan ide terkait pekerjaan kepada tim mereka. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata global yang berada di 62 persen.
Namun, terdapat perbedaan antar kelompok generasi dan level jabatan. Gen X di posisi manajerial mencatat tingkat kenyamanan tertinggi (89 persen), sementara Gen Z non-manajer mencatat angka terendah di Indonesia (68 persen), meskipun masih lebih tinggi dibanding rata-rata global untuk kelompok yang sama (55 persen).
Adopsi GenAI dan Dampaknya pada Pekerja
Peran generative AI (GenAI) menjadi temuan penting dalam membentuk persepsi pekerja terhadap produktivitas, keamanan kerja, dan kompensasi. Secara global, 54 persen pekerja telah menggunakan AI dalam 12 bulan terakhir, tetapi hanya 14 persen yang menggunakannya setiap hari.
Di Indonesia, tingkat adopsi relatif lebih tinggi, dengan 69 persen pekerja menyatakan telah menggunakan AI dalam setahun terakhir, dan 16 persen menggunakan GenAI setiap hari. Perbedaan frekuensi penggunaan ini berkorelasi dengan manfaat yang dirasakan.
Sebanyak 96 persen pekerja Indonesia yang menggunakan GenAI setiap hari melaporkan peningkatan produktivitas, dibandingkan 75 persen di antara pengguna tidak rutin. Dalam aspek keamanan kerja, 82 persen pengguna harian GenAI merasa lebih aman, dibandingkan 63 persen di kelompok pengguna tidak rutin.
Dari sisi finansial, 72 persen pengguna harian GenAI melaporkan peningkatan gaji, dibandingkan 52 persen pada kelompok yang tidak menggunakan GenAI secara rutin.
PwC Global Workforce Leader, Pete Brown, menyatakan, “Karyawan yang menggunakan AI setiap hari menuai hasilnya, yaitu produktivitas yang lebih tinggi, keamanan kerja yang lebih baik, dan gaji yang lebih tinggi. Tetapi untuk meningkatkan manfaat ini, bisnis harus melampaui pelatihan. Pekerjaan itu sendiri perlu dirancang ulang dan kemitraan manusia-mesin perlu didefinisikan ulang.”
Kesenjangan Akses Pembelajaran dan Budaya Belajar
Survei ini juga menyoroti aspek pengembangan keterampilan atau upskilling. Secara global, hanya 51 persen pekerja non-manajer yang merasa memiliki akses terhadap sumber daya pembelajaran yang memadai, dibandingkan 66 persen manajer dan 72 persen eksekutif senior.
Di Indonesia, tingkat akses relatif lebih tinggi di semua level: 64 persen non-manajer, 78 persen manajer, dan 89 persen untuk eksekutif senior. Meskipun demikian, perbedaan antar level tetap terlihat, menunjukkan kesenjangan pembelajaran yang dapat memengaruhi peluang pengembangan karier.
Budaya pembelajaran di Indonesia juga tercermin dalam persepsi terhadap kegagalan. Sebanyak 72 persen responden Indonesia mengatakan tim mereka melihat kegagalan sebagai kesempatan untuk belajar, jauh lebih tinggi dari angka global yang berada di 54 persen.
Informasi lengkap mengenai dinamika dunia kerja dan persepsi pekerja ini disampaikan melalui laporan Global Workforce Hopes & Fears Survey 2025 yang dirilis oleh PricewaterhouseCoopers (PwC).
