Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) secara intensif terbukti membawa dampak positif signifikan terhadap produktivitas kerja, keamanan, hingga tingkat penghasilan. Sebuah survei terbaru dari PwC Indonesia mengungkapkan bahwa 96 persen pekerja di Indonesia yang menggunakan AI setiap hari melaporkan adanya peningkatan produktivitas.
Dampak AI pada Produktivitas dan Kesejahteraan Pekerja
Hasil Global Workforce Hopes & Fears Survey 2025 yang dirilis PwC Indonesia menunjukkan bahwa pekerja yang memanfaatkan generative AI setiap hari merasakan manfaat yang jauh lebih besar. Secara global, 92 persen pengguna harian AI menyatakan produktivitas mereka meningkat, 58 persen merasa keamanan kerja lebih kuat, dan 52 persen melaporkan peningkatan gaji.
Sebaliknya, di antara pekerja yang hanya menggunakan AI secara sporadis, hanya 58 persen yang merasakan peningkatan produktivitas, 36 persen merasa lebih aman secara profesional, dan 32 persen melihat kenaikan gaji.
Pete Brown, Global Workforce Leader PwC, menegaskan, “Karyawan yang menggunakan AI setiap hari menuai hasilnya, yakni produktivitas yang lebih tinggi, keamanan kerja yang lebih baik, dan gaji yang lebih tinggi.” Ia menambahkan bahwa untuk memaksimalkan manfaat ini, bisnis harus melampaui pelatihan, merancang ulang pekerjaan, dan mendefinisikan ulang kemitraan manusia-mesin. “Keberhasilan dalam hal ini akan menentukan apakah GenAI menjadi mesin pertumbuhan dan inklusi yang sesungguhnya, atau hanya peluang yang terlewatkan,” imbuh Brown, dikutip pada Jumat (27/2/2026).
Tren Adopsi AI di Indonesia Ungguli Rata-rata Global
Di Indonesia, tren positif penggunaan AI bahkan lebih intensif. Sebanyak 96 persen pekerja Indonesia yang menggunakan AI setiap hari melaporkan peningkatan produktivitas. Angka ini diikuti oleh 82 persen yang merasa keamanan kerja mereka meningkat, dan 72 persen mengaku memperoleh kenaikan kompensasi atau gaji.
Bagi pekerja yang tidak menggunakan AI setiap hari di Indonesia, 75 persen tetap melaporkan peningkatan produktivitas, 63 persen merasa aman dalam pekerjaan, dan 52 persen menyatakan memperoleh kenaikan gaji.
Dari sisi adopsi, 69 persen responden di Indonesia telah menggunakan AI dalam pekerjaan mereka selama 12 bulan terakhir. Namun, hanya 16 persen yang menggunakan generative AI setiap hari, dan 8 persen menggunakan agentic AI secara harian. Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata global, di mana 54 persen responden telah menggunakan AI dalam setahun terakhir, dengan hanya 14 persen pengguna harian generative AI dan 6 persen pengguna harian agentic AI.
Ekspektasi Perubahan Besar dan Kesenjangan Keterampilan
Survei PwC juga menyoroti ekspektasi pekerja terhadap perubahan besar dalam beberapa tahun ke depan. Lita Dewi, Workforce Transformation Leader PwC Consulting Indonesia, menyatakan bahwa regulasi, teknologi, geopolitik, serta preferensi pelanggan akan menentukan masa depan pekerjaan.
Di Indonesia, hampir separuh pekerja yang disurvei (49 persen) memperkirakan dampak besar dari pergeseran regulasi, dan 45 persen mengantisipasi transformasi teknologi. Angka ini meningkat signifikan menjadi 74 persen di antara pengguna generative AI harian. Selain itu, 44 persen pekerja percaya bahwa konflik geopolitik dan perubahan preferensi pelanggan juga akan memengaruhi pekerjaan mereka dalam tiga tahun ke depan.
PwC juga mengidentifikasi adanya upskilling divide atau kesenjangan akses terhadap peluang pembelajaran dan pengembangan keterampilan. Secara global, hanya 51 persen non-manajer yang merasa memiliki sumber daya yang cukup untuk belajar dan berkembang, dibandingkan 66 persen manajer dan 72 persen eksekutif senior. Di Indonesia, kesenjangan ini juga terlihat, dengan 64 persen non-manajer, 78 persen manajer, dan 89 persen eksekutif senior merasa memiliki akses terhadap sumber daya pembelajaran.
Budaya Belajar dan Berbagi Ide di Tempat Kerja
Budaya organisasi turut memengaruhi kesiapan tenaga kerja dalam menghadapi perubahan. Secara global, 54 persen responden menyatakan bahwa tim mereka memperlakukan kegagalan sebagai kesempatan untuk belajar. Angka ini mencapai 65 persen di sektor teknologi, namun hanya 47 persen di sektor transportasi dan logistik.
Di Indonesia, 72 persen pekerja menyatakan bahwa kegagalan diperlakukan sebagai peluang belajar, bahkan mencapai 88 persen di sektor jasa keuangan. Selain itu, 76 persen pekerja Indonesia merasa nyaman berbagi ide dan saran di tempat kerja, lebih tinggi dari rata-rata global yang sebesar 62 persen.
Berdasarkan kelompok generasi, manajer Gen X di Indonesia mencatat tingkat kenyamanan tertinggi dalam menyampaikan pandangan, yakni 89 persen. Sementara itu, non-manajer Gen Z berada pada angka 68 persen, meskipun masih lebih tinggi dibandingkan rata-rata global untuk kelompok serupa, yaitu 55 persen.
Secara keseluruhan, Global Workforce Hopes & Fears Survey 2025 menggambarkan dinamika dunia kerja yang dipengaruhi percepatan adopsi teknologi, perubahan regulasi, kondisi geopolitik, serta tekanan finansial. Survei ini melibatkan hampir 50.000 pekerja di berbagai sektor industri dan negara, dengan penyesuaian data berdasarkan distribusi usia dan gender di masing-masing populasi tenaga kerja.
