Research Institute of Socio-Economic Development (RISED) merilis temuan awal studi mengenai dampak Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) terhadap rumah tangga dan anak penerima manfaat pada Senin (16/2/2026). Studi yang melibatkan sekitar 1.800 orang tua ini menunjukkan bahwa program prioritas nasional tersebut berfungsi sebagai bantalan ekonomi (shock absorber) bagi pengeluaran harian keluarga.
Dampak Ekonomi dan Penghematan Rumah Tangga
Berdasarkan data penelitian, sebanyak 36 persen rumah tangga melaporkan adanya penurunan pengeluaran harian setelah program MBG berjalan. Penurunan ini terutama terlihat pada komponen biaya bekal makan dan uang saku anak. Meski demikian, sekitar 63 persen responden menyatakan bahwa besaran penghematan tersebut masih berada di bawah 10 persen dari total pengeluaran bulanan.
Temuan ini mengindikasikan bahwa MBG membantu menjaga stabilitas pengeluaran rutin keluarga, namun belum mengubah struktur ekonomi rumah tangga secara signifikan. Program ini dinilai lebih berperan dalam menjaga konsumsi harian dibandingkan menjadi instrumen peningkatan daya beli yang luas di tingkat mikro.
Dukungan Kuat dari Kelompok Rentan
Meskipun dampak ekonominya masih terbatas, tingkat dukungan terhadap program ini tergolong sangat kuat, terutama dari kelompok rumah tangga rentan. Peneliti RISED, M Fajar Rakhmadi, menjelaskan bahwa dukungan tersebut tidak hanya didasari oleh faktor finansial, tetapi juga aspek kepastian gizi.
“Sebanyak 81 persen orang tua dari rumah tangga rentan menyatakan mendukung keberlanjutan MBG. Menariknya, dukungan ini bukan semata soal penghematan uang, tetapi lebih pada rasa aman dan kepastian bahwa anak mereka mendapat akses makanan bergizi selama di sekolah,” ujar Fajar dalam keterangan resminya.
Data survei juga menunjukkan bahwa 84 persen orang tua menyebut MBG diterima secara konsisten setiap hari sekolah. Namun, tercatat 69 persen orang tua menyatakan anak mereka baru menerima program ini kurang dari enam bulan, sehingga dampak jangka panjangnya masih memerlukan pemantauan lebih lanjut.
Perubahan Kebiasaan Makan Anak
Selain aspek ekonomi, studi mencatat perubahan signifikan pada perilaku konsumsi anak penerima manfaat. Sebanyak 72 persen orang tua melaporkan anak mereka menjadi lebih rutin mengonsumsi makanan bergizi. Selain itu, 55 persen responden menyatakan anak kini lebih mudah menerima variasi jenis makanan yang berbeda.
RISED menegaskan bahwa temuan ini merupakan dampak awal dari implementasi program. Evaluasi jangka menengah dan panjang tetap diperlukan untuk memastikan apakah perubahan perilaku ini akan berakumulasi menjadi peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan status gizi secara objektif.
Analisis Ekonomi dan Surplus Konsumen
Ekonom Universitas Indonesia (UI), Fithra Faisal Hastiadi, menilai MBG efektif mengurangi tekanan pengeluaran harian, khususnya bagi kelas menengah yang rentan. Ia memberikan ilustrasi bahwa keluarga dengan dua anak bisa menghemat hingga Rp600.000 per bulan jika biaya bekal diasumsikan Rp15.000 per hari dengan 20 hari sekolah.
“Kalau ini persistent, ini akan berdampak lebih besar lagi. Ini akan menciptakan surplus konsumen (consumer surplus) bagi kelas menengah. Dengan berkurangnya biaya konsumsi anak, rumah tangga memiliki fleksibilitas anggaran yang lebih luas untuk dialihkan ke sektor produktif seperti pendidikan dan kesehatan,” ungkap Fithra.
Rekomendasi dan Penyempurnaan Kebijakan
RISED memberikan sejumlah catatan kritis untuk penyempurnaan kebijakan MBG ke depan. Lembaga ini menekankan pentingnya kejelasan posisi program, apakah sebagai program sosial, intervensi gizi, atau instrumen pembangunan SDM. Kejelasan ini krusial agar indikator keberhasilan dan desain evaluasi tetap konsisten.
Beberapa poin utama yang perlu diperhatikan meliputi:
- Konsistensi kualitas menu dan variasi gizi harian.
- Ketepatan waktu distribusi makanan kepada siswa.
- Kebutuhan evaluasi longitudinal untuk mengukur dampak jangka panjang terhadap SDM.
Informasi lengkap mengenai temuan awal studi dampak Program Makanan Bergizi Gratis ini disampaikan melalui laporan resmi Research Institute of Socio-Economic Development (RISED) yang dirilis pada 16 Februari 2026.
