Tottenham Hotspur menghadapi periode krusial setelah menelan dua kekalahan beruntun di Liga Inggris 2025-2026, yang menempatkan mereka dalam ancaman serius degradasi. Situasi ini memicu potensi pemotongan gaji besar-besaran bagi para pemain bintang jika klub harus turun kasta ke Championship.
Performa Buruk dan Ancaman Degradasi
Kekalahan terbaru Tottenham terjadi saat bertandang ke markas Fulham di Stadion Craven Cottage pada Minggu, 1 Maret 2026, yang berakhir dengan skor negatif bagi Spurs. Hasil ini menandai kekalahan kedua secara beruntun bagi pelatih baru Igor Tudor sejak ia dilantik bulan lalu.
Sebelumnya, Tottenham juga takluk 1-4 dari rival sekota, Arsenal, di kandang sendiri. Rentetan hasil buruk ini membuat posisi The Lilywhites di klasemen sementara Premier League kian terancam, meskipun mereka masih berada di peringkat ke-16. Tottenham hanya terpaut empat poin dari West Ham United yang menempati zona degradasi di peringkat ke-18, serta dua poin dari Nottingham Forest di peringkat ke-17.
Dampak Finansial Jika Turun Kasta
Menurut laporan dari Sportbible, degradasi ke Championship akan menyebabkan Tottenham Hotspur kehilangan pendapatan signifikan, diperkirakan mencapai 260 juta poundsterling atau setara Rp5,8 triliun. Kerugian finansial yang masif ini akan berdampak langsung pada struktur keuangan klub.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, para pemain Tottenham memiliki klausul khusus dalam kontrak mereka yang memungkinkan pemotongan gaji hingga 50 persen. Kesepakatan ini dilaporkan telah dimasukkan ke dalam kontrak para pemain sebelum Daniel Levy meninggalkan klub pada September lalu, sebagaimana diungkap oleh The Athletic.
Saat ini, total pengeluaran gaji Tottenham diperkirakan mencapai 2,6 juta poundsterling (sekitar Rp58 miliar) per minggu, atau senilai 136,8 juta poundsterling (sekitar Rp3 triliun) per tahun, belum termasuk potensi bonus kinerja. Football 365 mencatat bahwa Tottenham merupakan tim dengan tagihan gaji tertinggi ketujuh di Premier League, bersanding dengan klub-klub besar seperti Aston Villa, Chelsea, Manchester United, Liverpool, Arsenal, dan Manchester City.
Pemain dengan Potensi Pemotongan Gaji Terbesar
Situs Capology melaporkan bahwa Xavi Simons adalah pemain dengan gaji tertinggi di Tottenham, menerima upah kotor sebesar 195.000 poundsterling (sekitar Rp4,4 miliar) per minggu, atau setara 10,15 juta poundsterling (sekitar Rp229 miliar) per tahun. Jika Spurs terdegradasi, pemain asal Belanda ini berpotensi mengalami pemotongan gaji mingguan menjadi sekitar 97.500 poundsterling (sekitar Rp2,2 miliar).
Namun, belum ada kepastian apakah Simons akan tetap bertahan di Tottenham jika klub bermain di Championship. Selain Simons, Cristian Romero juga dilaporkan menerima gaji yang serupa, meskipun ia kerap dikaitkan dengan transfer ke Barcelona dan Atletico Madrid.
Pemain Timnas Inggris, James Maddison, dan rekrutan Januari, Conor Gallagher, masing-masing mendapatkan 170.000 poundsterling (sekitar Rp3,8 miliar) dan 160.000 poundsterling (sekitar Rp3,6 miliar) per minggu. Sementara itu, Randal Kolo Muani dan Mohamed Kudus juga menerima bayaran mahal, dengan masing-masing mengantongi 150.000 poundsterling (sekitar Rp3,3 miliar) per minggu.
Informasi mengenai potensi pemotongan gaji dan dampak degradasi Tottenham Hotspur ini dihimpun dari berbagai laporan media olahraga terkemuka seperti Sportbible, The Athletic, Football 365, dan Capology.
