Kue kering klasik menjadi sajian wajib di meja tamu saat perayaan Idulfitri di Indonesia. Tradisi menyajikan aneka kue kering ini berkembang seiring menguatnya budaya silaturahmi dan open house pada masa kolonial hingga awal kemerdekaan. Berbagai kajian sejarah kuliner menunjukkan bahwa budaya baking di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh Eropa, khususnya Belanda, yang kemudian beradaptasi dengan bahan lokal Nusantara.
Asal-usul Tradisi Kue Kering Lebaran
Meskipun tidak semua kue memiliki catatan sejarah tertulis yang rinci, kemiripan bentuk, nama, dan teknik pengolahan mengindikasikan adanya proses akulturasi budaya. Sejarawan kuliner Fadly Rahman, dalam bukunya Jejak Rasa Nusantara: Sejarah Makanan Indonesia (2016), menjelaskan bahwa perkembangan industri gula, tepung terigu, dan mentega pada abad ke-19 mendorong tumbuhnya tradisi baking di Hindia Belanda, khususnya di kalangan masyarakat perkotaan.
Sri Owen, melalui karyanya The Indonesian Kitchen (1976), juga mencatat kuatnya pengaruh dapur kolonial dalam pembentukan kuliner Indonesia modern. Banyak hidangan Indonesia modern lahir dari proses adaptasi resep kolonial dengan bahan lokal, sebagaimana dijelaskan Petty Pandean-Elliott dalam The Indonesian Table (2016). Berikut tujuh kue kering klasik yang sering dikaitkan dengan pengaruh sejarah tersebut.
Tujuh Kue Kering Klasik dengan Jejak Sejarahnya
Nastar: Adaptasi Tart Nanas Belanda
Nastar secara etimologis diyakini berasal dari gabungan kata Belanda ananas (nanas) dan taart (tart). Kue ini memiliki kemiripan dengan pineapple tart yang dikenal dalam tradisi Eropa. Dalam konteks tersebut, pineapple tart kemungkinan mengalami lokalisasi menjadi nastar berukuran kecil dengan selai nanas khas Nusantara.
Kastengel: Warisan Kaasstengels Eropa
Nama kastengel memiliki kemiripan dengan kata Belanda kaasstengels yang berarti batang keju. Bentuk dan bahan dasarnya serupa dengan kue keju Eropa yang populer pada abad ke-19. Sri Owen mencatat bahwa resep-resep berbasis mentega dan keju berkembang luas di Hindia Belanda melalui pengaruh rumah tangga kolonial. Kastengel diduga merupakan adaptasi lokal dari tradisi tersebut yang kemudian menjadi bagian dari suguhan Lebaran karena daya simpannya yang lama.
Putri Salju: Mirip Vanillekipferl Eropa Tengah
Putri salju memiliki kemiripan dengan kue Eropa bernama Vanillekipferl, yakni kue mentega berbentuk bulan sabit dengan balutan gula bubuk. Dalam The Oxford Companion to Food (Alan Davidson, 2014), Vanillekipferl disebut sebagai bagian dari tradisi kue mentega Eropa Tengah. Versi Indonesia diduga berkembang dari inspirasi serupa, lalu diberi nama “putri salju” yang lebih sesuai dengan konteks budaya lokal.
Lidah Kucing: Jejak Kattentongen Belanda
Lidah kucing memiliki kemiripan bentuk dengan kattentongen atau cat’s tongue cookies dalam tradisi Belanda. Bentuk tipis memanjang dan teksturnya yang renyah menunjukkan kesamaan teknik. Sri Owen menyebut bahwa teknik memanggang adonan tipis menjadi populer di lingkungan Indo-Eropa pada awal abad ke-20. Dari situ, resep kemungkinan menyebar dan menjadi bagian dari tradisi kue kering Lebaran.
Sagu Keju: Perpaduan Lokal dan Kolonial
Sagu keju menunjukkan proses lokalisasi yang lebih jelas karena menggunakan tepung sagu, bahan asli Nusantara, yang dipadukan dengan teknik baking kolonial. Fadly Rahman menjelaskan bahwa akulturasi kuliner sering terjadi melalui penggabungan teknik Eropa dengan bahan lokal. Sagu keju dapat dipahami sebagai hasil proses adaptasi tersebut.
Kue Semprit: Adaptasi Butter Cookies
Kue semprit memiliki kemiripan dengan butter cookies Eropa yang dicetak menggunakan spuit. Teknik pencetakan adonan mentega dikenal luas dalam tradisi baking Eropa. Catatan sejarah kuliner menunjukkan bahwa praktik baking mentega berkembang di Hindia Belanda seiring ketersediaan bahan impor. Versi Indonesia kemudian menambahkan selai sebagai variasi rasa.
Kacang Telur: Akulturasi Tionghoa-Peranakan
Kacang telur berbeda karena berbasis teknik penggorengan, bukan oven. Teknik membalut kacang dengan adonan tepung dikenal dalam berbagai tradisi kuliner Asia. Catherine Earl dalam Food Culture in Southeast Asia (2013) mencatat bahwa camilan berbasis kacang lazim hadir dalam tradisi jamuan Asia Tenggara karena daya simpannya yang lama. Di Indonesia, kacang telur kemudian menjadi bagian dari suguhan Lebaran karena praktis dan mudah diproduksi dalam jumlah besar.
Makna Budaya di Balik Sajian Lebaran
Tradisi menyajikan kue kering saat Lebaran tidak hanya berkaitan dengan rasa, tetapi juga simbol keramahan dan keterbukaan rumah bagi tamu. Jejak pengaruh Eropa, Tionghoa, dan bahan lokal Nusantara memperlihatkan bahwa kue kering klasik Lebaran merupakan hasil proses akulturasi panjang. Meskipun tidak semua memiliki dokumentasi sejarah yang detail, kemiripan teknik dan nama menunjukkan adanya pertemuan budaya yang membentuk identitas kuliner Idulfitri di Indonesia.
Informasi mengenai topik ini disampaikan melalui kajian sejarah kuliner dan pernyataan para sejarawan yang dirangkum dari berbagai sumber pada Senin, 23 Februari 2026.
