Islami

Ulama Terangkan Makna Hadis 70 Ribu Pengikut Dajjal, Bukan Pertanda Langsung Konflik Global

Advertisement

Isu mengenai tanda-tanda kiamat kembali menjadi perbincangan hangat di tengah berbagai konflik global yang memanas. Sebagian warganet mengaitkan angka “70 ribu” dalam hadis tentang pengikut Dajjal dengan sejumlah peristiwa kontemporer, memicu pertanyaan tentang pemahaman hadis tersebut dalam tradisi keilmuan Islam.

Para ulama dan kitab-kitab klasik telah mengulas hadis ini secara mendalam, menegaskan bahwa penafsiran harus dilakukan secara hati-hati dan tidak spekulatif. Hadis ini berbicara tentang peristiwa akhir zaman yang belum terjadi dan tidak bisa disimpulkan waktunya secara pasti.

Hadis tentang 70 Ribu Pengikut Dajjal

Dalam hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda: “Dajjal akan diikuti oleh tujuh puluh ribu orang Yahudi dari Isfahan, mereka memakai thiyalisah (selendang atau pakaian khas).” (HR. Muslim).

Hadis ini tercantum dalam Shahih Muslim pada Kitab al-Fitan wa Asyrath as-Sa’ah (Kitab Fitnah dan Tanda-Tanda Kiamat). Riwayat ini juga dikutip dan dijelaskan oleh banyak ulama hadis, termasuk Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim.

Menurut an-Nawawi, penyebutan “70 ribu” dalam hadis tersebut menunjukkan jumlah besar secara spesifik, bukan simbolik. Namun, ia menegaskan bahwa hadis itu berbicara tentang peristiwa akhir zaman yang belum terjadi dan tidak bisa disimpulkan waktunya secara pasti.

Siapa Dajjal dan Mengapa Ia Termasuk Tanda Besar Kiamat?

Kemunculan Dajjal termasuk dalam kategori tanda besar (asyraṭ al-kubra) kiamat. Dalam banyak hadis, Dajjal digambarkan sebagai sosok pembawa fitnah terbesar sepanjang sejarah manusia.

Dalam buku Al-Nihayah fi al-Fitan wa al-Malahim, karya Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa fitnah Dajjal adalah ujian keimanan paling dahsyat. Ia memiliki kemampuan luar biasa atas izin Allah, seperti menurunkan hujan atau menghidupkan kembali sesuatu yang tampak mati, sehingga banyak manusia tertipu.

Rasulullah SAW bahkan memerintahkan umatnya untuk membaca sepuluh ayat pertama Surah Al-Kahfi sebagai perlindungan dari fitnah Dajjal (HR. Muslim). Dalam kajian akidah Ahlus Sunnah, kemunculan Dajjal diyakini sebagai peristiwa nyata yang akan terjadi menjelang hari kiamat, bukan sekadar simbol atau metafora.

Urutan Tanda-Tanda Besar Kiamat

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan juga tercantum dalam riwayat Muslim, Rasulullah SAW menyebutkan sepuluh tanda besar kiamat, di antaranya:

  • Munculnya Dajjal
  • Turunnya Nabi Isa AS
  • Keluarnya Ya’juj dan Ma’juj
  • Terbitnya matahari dari barat
  • Munculnya asap (dukhan)
  • Keluarnya hewan melata (dabbah)

Dalam buku Ensiklopedi Hari Akhir karya Umar Sulaiman Al-Asyqar, dijelaskan bahwa tanda-tanda besar ini terjadi secara berurutan dan relatif berdekatan waktunya. Namun, tidak ada satu pun hadis sahih yang menyebutkan tanggal, tahun, atau indikator politik tertentu sebagai penentu kemunculannya.

Advertisement

Tentang Angka 70 Ribu dan Kaitannya dengan Peristiwa Kontemporer

Belakangan, angka “70 ribu” dalam hadis tentang pengikut Dajjal dikaitkan oleh sebagian pihak dengan jumlah tentara dalam konflik modern, termasuk isu pengerahan 70 ribu tentara dalam ketegangan Israel dan Iran.

Namun, para ulama mengingatkan agar umat tidak tergesa-gesa menafsirkan hadis secara spekulatif. Dalam Fathul Bari, syarah Shahih Bukhari karya Ibnu Hajar al-Asqalani, dijelaskan bahwa hadis-hadis fitnah akhir zaman harus dipahami secara hati-hati dan tidak boleh dipaksakan pada realitas tertentu tanpa dalil yang jelas.

Angka dalam hadis bisa jadi benar-benar angka literal yang akan terjadi pada waktunya, tetapi bukan berarti setiap kemunculan angka serupa di dunia modern otomatis merupakan penggenapannya.

Kapan Kiamat Terjadi?

Pertanyaan yang paling sering muncul adalah apakah semua ini pertanda kiamat sudah dekat? Alquran secara tegas menyatakan bahwa hanya Allah yang mengetahui waktu kiamat. Dalam Surah Al-A’raf ayat 187 disebutkan bahwa ilmu tentang kiamat adalah rahasia Allah semata.

Dalam buku Aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah karya Syekh Shalih al-Fauzan, ditegaskan bahwa sikap seorang Muslim terhadap tanda-tanda kiamat bukanlah berspekulasi tentang waktunya, melainkan memperkuat iman dan memperbanyak amal saleh.

Antara Kewaspadaan dan Sensasi

Mengkaji tanda-tanda kiamat adalah bagian dari iman kepada perkara gaib. Namun, menjadikannya sebagai alat untuk menghubungkan setiap konflik global dengan nubuwat hadis tanpa landasan ilmiah justru berpotensi menimbulkan ketakutan yang tidak proporsional.

Ulama sepakat bahwa kemunculan Dajjal adalah tanda besar kiamat yang pasti terjadi. Akan tetapi, mengaitkan angka 70 ribu pengikut Dajjal dengan peristiwa militer modern saat ini hanyalah asumsi yang belum memiliki dasar kuat dalam literatur klasik maupun kontemporer. Yang lebih penting adalah pesan moral di balik hadis tersebut, yaitu agar umat Islam memperkuat akidah, menjaga keimanan, dan tidak mudah terpengaruh fitnah. Karena pada akhirnya, pertanyaan “apakah kiamat sudah dekat?” bukanlah tentang kalender sejarah, melainkan tentang kesiapan spiritual masing-masing manusia.

Informasi mengenai topik ini disampaikan melalui rujukan hadis sahih dan penjelasan ulama terkemuka dalam kitab-kitab klasik serta kajian kontemporer.

Advertisement