Liga Universitas atau UniLeague 2026 menghadirkan kampanye kesehatan mental di sela pertandingan UMJ melawan UKI di Stadion UMJ, Tangerang, beberapa hari lalu. Melalui booth Mind Corner, penyelenggara mengajak suporter dan peserta lebih sadar terhadap kondisi emosional mereka sekaligus membawa pesan perdamaian lewat slogan #Football4MentalHealth dan tagar Play For Peace.
Booth Mind Corner menjadi salah satu hal baru yang dihadirkan dalam kompetisi ini. Aktivasi tersebut dirancang untuk menegaskan bahwa di balik setiap pertandingan, ada manusia dengan perasaan yang perlu didengar.
Mind Corner Ajak Suporter Jujur pada Perasaan
Di booth tersebut, suporter diajak mengenali dan mengakui perasaan mereka melalui aktivasi Mood Check Board. Pengunjung dapat menyampaikan apakah mereka datang dengan energi penuh, rasa bahagia, perasaan netral, atau bahkan kecemasan.
Selain itu, tersedia Peace Pledge Wall yang memuat ajakan menuliskan komitmen sederhana. Komitmen itu berupa janji untuk lebih peduli, lebih suportif, dan menciptakan lingkungan yang lebih damai, baik di dalam maupun di luar lapangan.
Sejumlah Tamu Hadir dalam Laga UMJ vs UKI
Kampanye ini juga menarik perhatian sejumlah tamu yang hadir dalam pertandingan UMJ vs UKI. Mereka antara lain Kepala Perwakilan PBB di Indonesia Gita Sabharwal, Dirjen Informasi dan Diplomasi Publik Kemenlu RI Heru Hartanto, Staf Ahli Bidang Sosial Budaya dan Pembangunan Manusia Kemenlu RI Kamapradipta Isnomo, serta praktisi sepak bola Ratu Tisha Destria.
Heru Hartanto menilai sepak bola memiliki daya jangkau yang luas untuk membawa pesan bersama, termasuk soal perdamaian dan kesehatan mental.
“Sepakbola merupakan bahasa universal, di mana pertandingan menunjukkan sportivitas dan penghormatan kepada pemain yang lainnya. Di tribun kita juga melihat ada koneksi antara penonton suporter maupun seluruh pihak yang terlibat dan di sini semua mengembangkan satu misi bersama bahwa perdamaian ini membawa pesan universal untuk semua kalangan. Saya juga melihat secara real, opportunity mereka untuk mengembangkan kesehatan mental sebagai bagian dari permainan,” ucap Heru Hartanto dalam keterangan persnya.
UniLeague Jadi Ruang Riset dan Pengembangan Sepak Bola
Ratu Tisha Destria menyebut UniLeague bukan hanya ajang pertandingan, tetapi juga platform riset ilmiah. Menurut dia, sejumlah mahasiswa memanfaatkan UniLeague sebagai bahan riset disertasi di level Master maupun PhD atau Doctor of Philosophy.
Hasil riset tersebut, kata Tisha, akan dipresentasikan dalam jurnal mereka pada National Conference of Football Science pada September 2026.
“Jadi ajang UniLeague ini tidak hanya ada di lapangan, tapi nanti kita take it to the next level research dan teknologi. Untuk para coaches, karena ini adalah berupa liga, gunakan kesempatan ini semaksimal mungkin untuk menerapkan apa yang kita impikan di dalam teknikal sepakbola yaitu bermain, istirahat, evaluasi, latihan, bermain lagi. Terus berulang sampai dengan nanti liganya selesai. Karena konsistensi dan repetisi yang berarti dari sebuah kedisiplinan dalam olahraga dimulai dari lingkungan Universitas ini,” jelas Tisha.
Dukungan Kemenpora untuk UniLeague 2026
UniLeague juga mendapat dukungan dari Kemenpora RI. Sebelumnya, Menteri Pemuda dan Olahraga RI Erick Thohir, yang juga menjabat Ketua Umum PSSI, menyambut positif penyelenggaraan kompetisi sepak bola mahasiswa nasional tersebut.
“Saya menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang mengadakan kompetisi sepakbola mahasiswa nasional, UniLeague 2026. Kompetisi ini menjadi ruang tumbuh bagi generasi muda Indonesia. Melalui semangat Play For Peace #Football4MentalHealth, kita diingatkan bahwa olahraga dapat menjadi medium untuk membangun empati, memperkuat karakter serta saling menguatkan di tengah dinamika kehidupan,” kata Erick Thohir pada bulan lalu.
Melalui rangkaian aktivasi di Stadion UMJ, UniLeague 2026 menempatkan sepak bola kampus bukan hanya sebagai arena kompetisi, tetapi juga ruang untuk memperkuat empati, perdamaian, dan kesadaran akan kesehatan mental di lingkungan universitas.
