Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga telah merilis buku berjudul “Kumpulan Kultum Ramadhan: Mutiara Nasihat Seribu Bulan”. Publikasi ini menjadi rujukan penting bagi umat Islam yang ingin mendalami makna puasa dan nilai-nilai Islami di bulan suci. Buku tersebut menyajikan puluhan materi kultum dari para akademisi dan dai, mencakup beragam tema mulai dari fiqh puasa hingga refleksi sosial.
Memahami Makna Puasa: Lebih dari Sekadar Menahan Lapar
Waryono Abdul Ghafur dalam pembahasan “Fiqh Puasa” menjelaskan bahwa puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, melainkan juga melatih menahan pandangan, lisan, dan hati dari dosa. Tujuan utama puasa, sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 183, adalah agar manusia mencapai derajat takwa.
Secara syar’i, puasa adalah menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari disertai niat yang benar. Namun, para ulama memperluas makna menahan diri (imsak ‘an) meliputi:
- Pandangan yang tidak terjaga.
- Lisan yang suka berbohong dan menggunjing.
- Pendengaran dari hal-hal yang dilarang.
- Tangan dan kaki dari perbuatan zalim.
- Bahkan menahan diri dari makan berlebihan saat berbuka.
Ini menunjukkan bahwa puasa adalah latihan pengendalian diri secara total, mendidik individu untuk merasa diawasi Allah (takwa) dan menumbuhkan empati sosial terhadap fakir miskin.
Ibadah Berkualitas Dimulai dari Diri Sendiri (Ibda’ Binafsika)
Andy Dermawan melalui kultum “Ibda’ Binafsika” menekankan pentingnya memulai perubahan dari diri sendiri untuk mencapai hasil Ramadan yang berkualitas. Prinsip “mulailah dari dirimu sendiri” menjadi kunci utama dalam perbaikan diri.
Kisah seorang pencuri yang berjanji kepada Rasulullah SAW untuk tidak berbohong menjadi ilustrasi kuat, menunjukkan bahwa perubahan besar seringkali berawal dari komitmen kecil yang dijaga sungguh-sungguh. Tiga langkah sederhana untuk ibadah berkualitas adalah:
- Mulai dari diri sendiri, tanpa menunggu orang lain berubah terlebih dahulu.
- Mulai dari hal kecil dan sederhana, seperti senyum, sedekah kecil, atau menjaga lisan.
- Mulai dari sekarang, tidak menunda kebaikan karena niat baik yang ditunda seringkali tidak terlaksana.
Fokus pada perbaikan diri sendiri, seperti kekhusyukan salat atau kelembutan hati, akan membawa dampak positif pada keluarga, masyarakat, dan bangsa.
Kejujuran: Fondasi Puasa yang Diterima
Masih dari tema “Ibda’ Binafsika”, Andy Dermawan menyoroti kejujuran sebagai nilai fundamental puasa. Puasa adalah ibadah personal yang hanya diketahui oleh individu dan Allah SWT, menjadikannya latihan kejujuran paling murni.
Kejujuran kepada Allah saat berpuasa diharapkan merambat ke aspek kehidupan lain, seperti jujur dalam berdagang, bekerja, berbicara, dan menepati janji. Puasa yang diterima bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menjaga lisan dari dusta dan hati dari niat buruk, membentuk pribadi yang bertakwa.
Ramadan dan Semangat Membaca (Iqra’)
Lathiful Khuluq dalam kultum “Puasa dan Minat Baca” menghubungkan Ramadan dengan perintah pertama Al-Qur’an, “Iqra’” (Bacalah). Ramadan, sebagai bulan turunnya Al-Qur’an, seharusnya menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas intelektual dan minat baca.
Membaca tidak hanya terbatas pada teks Al-Qur’an, tetapi juga membaca tanda-tanda alam (ayat kauniyah) dan realitas sosial. Puasa melatih disiplin, pengendalian diri, kesabaran, dan kepekaan sosial, namun juga harus meningkatkan asupan ilmu. Semangat “Iqra’” mengajak umat Islam untuk beralih dari sekadar membaca menjadi memahami, mengamalkan, dan menyebarkan ilmu.
Puasa Melatih Kepedulian Sosial
Buku “Kumpulan Kultum Ramadhan” juga menjelaskan efek sosial puasa yang kuat, menjadikannya ibadah yang membangun kepedulian. Merasakan lapar dan haus saat berpuasa menumbuhkan empati terhadap saudara-saudara yang kurang mampu.
Adanya fidyah bagi yang tidak mampu berpuasa, yaitu memberi makan orang miskin, menegaskan bahwa puasa erat kaitannya dengan kepedulian sesama. Puasa mendidik agar tidak hidup hanya untuk diri sendiri, melainkan membuka tangan untuk berbagi, baik melalui sedekah, bantuan tenaga, atau perhatian.
Menjaga Lisan di Bulan Suci
Waryono Abdul Ghafur dalam “Fiqh Puasa” menekankan bahwa menahan diri dalam puasa juga berarti menjaga ucapan. Lisan yang tidak terjaga, seperti berbohong, menggunjing, atau berkata kasar, dapat menghilangkan pahala puasa.
Rasulullah SAW mengingatkan bahwa orang yang berpuasa bisa jadi hanya mendapatkan lapar dan haus jika lisannya tidak dijaga. Ramadan adalah madrasah pengendalian diri, melatih umat untuk lebih berhati-hati dalam berbicara, mengganti ghibah dengan doa, dan keluhan dengan syukur.
Hikmah Sabar dalam Puasa
Puasa melatih kesabaran secara mental dan spiritual, mulai dari sahur hingga berbuka. Kesabaran bukan berarti tidak marah, melainkan kemampuan mengendalikan diri saat emosi muncul. Puasa mendidik agar tidak reaktif terhadap emosi, bahkan dalam kondisi lemah.
Allah menjadikan tujuan puasa adalah takwa, dan salah satu ciri orang bertakwa adalah mampu menahan amarah serta memaafkan. Ramadan menjadi bulan latihan untuk menjadi pribadi yang lebih tenang dan tidak mudah tersinggung, membawa kesabaran ini ke bulan-bulan berikutnya.
Momentum Taubat dan Istighfar
Ramadan adalah bulan penyucian diri dan kesempatan untuk kembali kepada Allah melalui taubat dan istighfar. Setiap malam, pintu rahmat Allah terbuka lebar bagi hamba-Nya untuk memohon ampunan dan memperbaiki diri.
Taubat yang benar memiliki tiga tanda: menyesal atas dosa, berhenti dari perbuatan tersebut, dan bertekad tidak mengulanginya. Ramadan menjadi momentum untuk membersihkan hati, mengubah kebiasaan, dan tidak menunda taubat, mengingat tidak ada jaminan bertemu Ramadan berikutnya.
Kemenangan Sejati adalah Takwa
Tema “Hari Kemenangan Sejati” dalam buku tersebut mengajak untuk memahami Idulfitri bukan sekadar perayaan fisik, melainkan kemenangan spiritual. Kemenangan sejati adalah peningkatan kualitas ketakwaan setelah 30 hari berpuasa.
Idulfitri berarti kembali kepada fitrah dan kesucian, bukan hanya baju baru, tetapi hati yang baru. Perubahan diri, seperti shalat yang lebih khusyuk, lisan yang terjaga, atau sedekah yang ringan, adalah indikator kemenangan yang sesungguhnya.
Jadikan Ramadan Titik Perubahan
Ramadan digambarkan sebagai madrasah kehidupan, sarana pembentukan pribadi yang lebih baik. Selama sebulan penuh, umat Islam dilatih menahan diri, mengendalikan emosi, memperbanyak ibadah, dan meningkatkan sedekah.
Keberhasilan puasa diukur dari perubahan diri yang berkelanjutan setelah Ramadan berakhir. Jika kebiasaan baik seperti rajin shalat, membaca Al-Qur’an, menjaga lisan, dan peduli sesama tetap dipertahankan, itulah tanda puasa berhasil dan lulus dari madrasah Ramadan dengan predikat takwa.
Informasi mengenai berbagai tema kultum Ramadan ini disampaikan melalui buku “Kumpulan Kultum Ramadhan: Mutiara Nasihat Seribu Bulan” terbitan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga, yang dirilis sebagai panduan edukasi keagamaan.
