Banyak ibu hamil yang ingin menjalankan ibadah puasa Ramadhan kerap khawatir akan dampak terhadap janin dan risiko kekurangan gizi atau dehidrasi. Namun, sebagian besar tetap bertekad untuk berpuasa dengan aman dan sehat. Pemilihan menu sahur yang tepat menjadi kunci krusial untuk menjaga kesehatan ibu dan janin selama berpuasa.
Dosen Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Izzatul Arifah, memberikan penjelasan komprehensif terkait puasa dan kesehatan ibu hamil. Ia menekankan pentingnya keseimbangan nutrisi dan kecukupan cairan.
Puasa Aman bagi Ibu Hamil
Izzatul Arifah menjelaskan bahwa hasil penelitian menunjukkan puasa tidak selalu berdampak negatif bagi janin. “Hasil kajian sistematis penelitian tentang efek puasa pada janin menunjukkan bahwa pada ibu hamil yang sehat, puasa tidak mempengaruhi kesehatan bayi dalam kandungan,” jelasnya kepada Kompas.com pada Sabtu (28/2/2026).
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa risiko tetap dapat muncul apabila ibu mengalami kekurangan cairan dan energi selama berpuasa. Oleh karena itu, konsumsi makanan harus diperhatikan dengan saksama. “Tetapi jika ibu mengalami dehidrasi dan kurang kalori karena kurang konsumsi makanan, dapat mempengaruhi kondisi janin. Jadi meski sedang berpuasa ibu tetap dapat memastikan konsumsi makanan tetap harus mencukupi kebutuhan ibu hamil,” tambahnya.
Sahur Jadi Waktu Makan Paling Penting
Izzatul menegaskan bahwa sahur merupakan waktu makan paling penting bagi ibu hamil yang berpuasa. “Nah, asupan saat sahur menjadi poin penting. Ibu hamil yang akan berpuasa harus makan sahur. Tidak boleh skip,” tegasnya.
Sahur berperan vital dalam menjaga kestabilan energi, mencegah lemas berlebihan, serta mengurangi risiko dehidrasi sepanjang hari. Melewatkan sahur dapat berdampak negatif pada kondisi ibu dan janin.
Rekomendasi Menu Sahur untuk Ibu Hamil
Izzatul merekomendasikan menu sahur dengan komposisi gizi seimbang yang mencakup karbohidrat kompleks, protein, serat, serta lemak baik.
Karbohidrat Kompleks, Protein, Serat, dan Lemak Baik
“Menu sahur direkomendasikan dengan menu karbo yang kompleks, seperti kentang, atau ubi manis,” ujarnya. Karbohidrat kompleks membantu menyediakan energi yang lebih tahan lama bagi ibu hamil selama menjalani ibadah puasa.
Selain itu, asupan protein, serat, dan lemak juga harus menjadi perhatian utama. “Wajib ada protein seperti telur, daging ayam, tempe maupun susu, ditambah buah atau sayur untuk kebutuhan serat agar tidak mudah konstipasi, dapat pula ditambah dengan lemak baik seperti alpukat,” jelasnya. Protein berperan dalam mendukung kebutuhan nutrisi ibu dan perkembangan janin, sementara serat membantu mencegah konstipasi yang sering dialami ibu hamil.
Cukupi Kebutuhan Cairan dan Atur Suplemen
Selain makanan padat, kecukupan cairan bagi ibu hamil juga menjadi perhatian utama saat sahur. “Usahakan minum 2-3 gelas air saat sahur agar mencegah dehidrasi, hindari kopi dan teh dan makanan asin saat sahur karena dapat meningkatkan pengeluaran cairan tubuh lewat kencing,” jelas Izzatul.
Ia juga menambahkan bahwa ibu hamil tetap dapat mengonsumsi suplemen tambahan, namun harus sesuai anjuran tenaga medis. “Ibu hamil juga dapat mengonsumsi suplemen yang direkomendasikan oleh dokter saat sahur.” Khusus suplemen zat besi, waktu konsumsi dapat disesuaikan untuk mengurangi efek samping. “Untuk suplemen yang mengandung kandungan zat besi, dapat diminum saat berbuka saja untuk mengurangi rasa mual.”
Dengan pengaturan menu sahur yang tepat dan memperhatikan kebutuhan nutrisi ibu hamil saat puasa, kesehatan ibu dan janin tetap dapat terjaga selama Ramadhan. Informasi mengenai topik ini disampaikan melalui pernyataan Dosen Kesehatan Masyarakat UMS, Izzatul Arifah, yang dirilis pada Sabtu, 28 Februari 2026.
