Islam, agama dengan lebih dari dua miliar pengikut global, awalnya tumbuh di Mekkah pada awal abad ke-6 Masehi. Sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa kondisi iklim ekstrem, khususnya kekeringan panjang, memainkan peran signifikan dalam perubahan sosial dan politik di Jazirah Arab yang mendahului kemunculan agama ini. Penelitian ini menyoroti runtuhnya Kerajaan Himyar yang kuat di Arabia Selatan sebagai titik balik sejarah.
Kekeringan Ekstrem Hantam Kerajaan Himyar di Jazirah Arab
Sebelum kemunculan Islam, kawasan Timur Tengah berada dalam periode Late Antiquity yang penuh gejolak politik dan ketegangan antaragama. Kerajaan Himyar di Arabia Selatan, yang awalnya menganut paganisme lalu beralih ke monoteisme dengan Yudaisme di kalangan elite, menjadi kekuatan penting di wilayah tersebut.
Namun, menjelang abad ke-6, kerajaan ini menghadapi serangkaian tekanan berat, termasuk kekeringan panjang, konflik politik internal, dan perang dengan kerajaan tetangga seperti Aksum dari Afrika Timur Laut. Tekanan-tekanan ini secara bertahap melemahkan Himyar hingga akhirnya runtuh.
Studi Stalagmit Ungkap Bukti Kekeringan Dekadean
Tim peneliti yang dipimpin oleh Dominik Fleitmann menganalisis stalagmit dari Gua Al Hoota di Oman untuk merekonstruksi kondisi curah hujan masa lampau. Struktur mineral ini menyimpan catatan kimia dan isotop yang menjadi indikator kuat perubahan iklim.
Fleitmann menjelaskan, “Bahkan dengan mata telanjang Anda dapat melihat dari stalagmit itu bahwa pasti pernah terjadi periode yang sangat kering yang berlangsung selama beberapa dekade.” Pertumbuhan stalagmit yang menyempit mengindikasikan penurunan drastis curah hujan selama periode tersebut.
Untuk memastikan akurasi, tim menggabungkan data iklim dari stalagmit dengan sumber sejarah, catatan geologis, dan kajian arkeologis. “Ini sedikit seperti kasus pembunuhan: kita memiliki sebuah kerajaan yang telah mati dan sedang mencari pelakunya. Selangkah demi selangkah, bukti-bukti membawa kami semakin dekat pada jawabannya,” ujar Fleitmann.
Air sebagai Kunci Stabilitas dan Runtuhnya Peradaban
Bagi kerajaan semi-gurun seperti Himyar yang sangat bergantung pada sistem irigasi canggih berupa terasering dan bendungan, kekeringan panjang terbukti menjadi pukulan mematikan. “Air adalah sumber daya yang paling penting. Jelas bahwa penurunan curah hujan, terlebih lagi beberapa tahun kekeringan ekstrem, dapat mengguncang stabilitas sebuah kerajaan semi-gurun yang rentan,” kata Fleitmann.
Para peneliti menyimpulkan bahwa kekeringan ekstrem tersebut melemahkan ketahanan sosial dan politik Himyar. Dalam studi mereka, tim menulis, “Kami berpendapat bahwa kekeringan semacam itu melemahkan ketahanan Himyar dan dengan demikian turut berkontribusi pada perubahan sosial yang darinya Islam kemudian muncul.”
Kekeringan dan Pencarian Harapan Baru
Runtuhnya Himyar bukan sekadar akhir sebuah kerajaan, melainkan titik balik yang membuka ruang bagi transformasi besar di Jazirah Arab. Saat masyarakat menghadapi penderitaan akibat kelaparan dan perang, kebutuhan akan harapan baru semakin kuat.
Fleitmann menambahkan, “Penduduk mengalami penderitaan besar akibat kelaparan dan perang. Hal ini membuat Islam menemukan lahan yang subur: masyarakat sedang mencari harapan baru, sesuatu yang dapat mempersatukan mereka kembali sebagai sebuah komunitas. Agama baru itu menawarkan hal tersebut.”
Informasi mengenai peran iklim dalam sejarah Arab ini disampaikan melalui studi terbaru yang dipublikasikan oleh tim peneliti yang dipimpin Dominik Fleitmann, dengan data dari stalagmit Gua Al Hoota di Oman.
