Setiap malam ke-14 Ramadan, suasana di permukiman Oman mendadak riuh dengan keceriaan anak-anak. Mengenakan busana tradisional berwarna cerah, mereka berkelompok menyusuri gang-gang, mengetuk pintu rumah warga sambil melantunkan lagu khas. Tradisi turun-temurun ini dikenal sebagai Qaranqasho, sebuah perayaan yang menandai separuh bulan suci telah dilalui dengan semangat berbagi dan kebersamaan.
Di tengah kekhusyukan ibadah puasa, Qaranqasho menghadirkan sisi lain Ramadan: keceriaan, kebersamaan, dan semangat berbagi yang hidup di tengah masyarakat Oman.
Mengenal Lebih Dekat Tradisi Qaranqasho
Qaranqasho dirayakan pada malam sebelum tanggal 15 Ramadan. Tradisi ini menjadi penanda bahwa separuh bulan suci telah dilalui, memberikan apresiasi kepada anak-anak yang telah berpuasa selama dua pekan pertama. Anak-anak berkeliling dari rumah ke rumah untuk menyanyikan lagu tradisional.
Sebagai balasannya, tuan rumah memberikan hadiah berupa kacang-kacangan, kue, manisan, uang receh, hingga halwa khas Oman. Praktiknya sekilas mengingatkan pada Gargee’an yang populer di sejumlah negara Teluk seperti Kuwait dan Bahrain. Namun, Qaranqasho memiliki lirik lagu, irama, serta ekspresi budaya yang khas Oman.
Akar Sejarah dan Makna Sosial Qaranqasho
Sejumlah sejarawan budaya Teluk menyebutkan bahwa tradisi semacam ini tumbuh dari kultur masyarakat pesisir yang kuat dengan nilai komunal. Dalam buku Oman: Culture and Diplomacy karya Jeremy Jones, dijelaskan bahwa kehidupan sosial masyarakat Oman sejak dahulu dibangun atas prinsip solidaritas, penghormatan terhadap keluarga, dan transmisi nilai antar generasi.
Qaranqasho menjadi medium untuk mentransfer nilai tersebut. Anak-anak tidak hanya diajak bergembira, tetapi juga belajar tentang disiplin puasa, keberanian bersosialisasi, serta pentingnya menghargai tetangga. Tradisi ini memang bukan bagian dari ritual ibadah formal, namun dalam konteks sosial-keagamaan, ia memperkuat makna Ramadan sebagai bulan yang menumbuhkan empati dan kebersamaan.
Malam Penuh Keceriaan bagi Anak-anak Oman
Pada malam Qaranqasho, anak-anak mengenakan dishdasha kecil atau gaun tradisional dengan warna-warna cerah. Anak perempuan sering memakai aksesori rambut dan tas kecil untuk menampung hadiah, sementara anak laki-laki tampil dengan pakaian tradisional lengkap, mencerminkan identitas budaya Oman.
Suasana semakin semarak ketika keluarga telah menyiapkan paket camilan khusus untuk dibagikan. Ada yang membungkus kacang dan kismis dalam kantong kecil, ada pula yang membagikan halwa Oman, manisan legit kebanggaan kuliner negeri tersebut. Tawa dan nyanyian mereka memecah malam, menciptakan atmosfer yang berbeda dari hari-hari Ramadan biasanya yang cenderung hening setelah tarawih.
Ramadan sebagai Ruang Sosial dan Pelestarian Budaya
Dalam perspektif kajian Islam, Ramadan bukan hanya ibadah personal, tetapi juga momentum sosial. Dalam buku Haifa: Transformation of an Arab Society, 1918-1939 karya May Seikaly, disebutkan bahwa masyarakat Teluk memaknai Ramadan sebagai waktu memperkuat jaringan sosial, mempererat hubungan keluarga, dan menghidupkan kembali tradisi lokal.
Qaranqasho adalah cerminan nyata dari konsep tersebut. Ia menjadi sarana memperkenalkan generasi muda pada identitas kolektif mereka, sekaligus menghidupkan kembali interaksi antar tetangga di tengah modernitas. Di era ketika gawai dan media sosial kerap mendominasi kehidupan anak-anak, tradisi ini menghadirkan pengalaman nyata, berjalan bersama teman sebaya, berinteraksi langsung dengan warga, serta merasakan kegembiraan sederhana.
Keunikan Qaranqasho Dibanding Tradisi Serupa di Teluk
Tradisi pertengahan Ramadan sebenarnya tidak hanya ada di Oman. Negara-negara seperti Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab juga mengenal perayaan serupa dengan nama berbeda. Namun, Qaranqasho tetap memiliki karakter unik, terutama pada variasi lagu daerah yang berbeda di tiap wilayah Oman. Liriknya sering kali berisi doa, harapan, dan pujian kepada tuan rumah.
Keunikan lain terletak pada pendekatan keluarga yang sangat personal. Banyak keluarga Oman memanfaatkan momen ini untuk mengajarkan anak tentang sopan santun, cara menyapa orang tua, dan pentingnya mengucapkan terima kasih.
Menjaga Warisan Budaya di Tengah Modernisasi
Seiring perubahan zaman, sejumlah komunitas kini merayakan Qaranqasho secara lebih terorganisir, bahkan ada yang menggelarnya di halaman masjid atau pusat komunitas. Namun, esensinya tetap sama: merayakan kebersamaan dan menghargai usaha anak-anak dalam berpuasa.
Pemerintah dan komunitas budaya Oman juga mendorong pelestarian tradisi ini sebagai bagian dari warisan tak benda. Di tengah arus globalisasi, identitas lokal menjadi penopang karakter bangsa.
Tradisi Qaranqasho menegaskan bahwa kegembiraan dan kebaikan dapat berjalan beriringan di bulan suci. Anak-anak belajar tentang disiplin, masyarakat belajar tentang berbagi, dan generasi tua menyaksikan nilai lama tetap hidup di tangan generasi baru. Informasi mengenai tradisi ini banyak diulas oleh media dan kajian budaya terkait masyarakat Oman.
