Menjelang bulan suci Ramadan pada Selasa, 24 Februari 2026, suasana di Pasar Tanah Abang kembali menggeliat. Lorong-lorong pusat grosir terbesar di Asia Tenggara ini dipadati pembeli yang berburu stok untuk dijual kembali atau mencari busana terbaik untuk Hari Raya Idulfitri. Namun, Lebaran 2026 terasa sedikit berbeda dengan munculnya tren busana yang menarik perhatian.
Jika tahun lalu tren didominasi gamis penuh detail dan brokat mencolok, kini selera publik tampak bergeser. Selain model yang sempat viral dengan sebutan “gamis bini orang”, kini muncul pesaing kuat yang tak kalah diburu, yakni “gamis kebanggaan mertua”. Fenomena ini bukan sekadar urusan potongan kain, melainkan mencerminkan perubahan selera, dinamika media sosial, hingga cara masyarakat memaknai penampilan di hari kemenangan.
Fenomena “Gamis Bini Orang” dan “Kebanggaan Mertua”
Istilah “gamis bini orang” bermula dari percakapan warganet di media sosial, terutama TikTok dan Instagram. Sebuah video OOTD yang menampilkan gaya anggun dan minimalis memicu komentar seperti, “Vibes-nya istri orang banget.” Sejak itu, label tersebut melekat pada model gamis yang sederhana, jatuh rapi, dengan warna-warna lembut seperti sage green, mocca, dusty pink, hingga broken white.
Secara desain, model ini menonjolkan siluet yang bersih tanpa detail berlebihan. Tidak banyak payet atau bordir, tetapi tetap memberi kesan dewasa dan elegan. Harga yang relatif terjangkau, berkisar ratusan ribu rupiah di pusat grosir, membuatnya cepat habis diburu.
Di tengah popularitas tersebut, pedagang mulai memperkenalkan istilah baru “gamis kebanggaan mertua”. Jika “gamis bini orang” menonjolkan kesan effortless dan feminin, model kedua ini lebih menekankan tampilan rapi, terstruktur, dan terlihat “proper”.
Mengenal Gamis “Kebanggaan Mertua”
Secara visual, gamis “kebanggaan mertua” memiliki potongan yang lebih tegas. Struktur bahannya cenderung sedikit lebih tebal atau tampak premium, sehingga membentuk siluet yang kokoh dan anggun. Warna yang digunakan tetap bermain di palet lembut seperti cream, taupe, olive, atau pastel netral, namun keseluruhan tampilannya memberi kesan formal dan matang.
Detail kecil seperti aksen lipit di lengan, kancing tersembunyi, atau bordir tipis di bagian dada menjadi pembeda. Detail ini tidak mencolok, tetapi cukup memberi sentuhan eksklusif. Model ini disebut “kebanggaan mertua” karena dinilai sesuai untuk momen silaturahmi keluarga besar. Penampilan yang sopan, pantas, dan berkelas dinilai cukup untuk membuat orang tua merasa bangga melihatnya.
Pergeseran Selera: Dari Ramai ke Minimalis
Tren ini memperlihatkan kecenderungan masyarakat yang mulai meninggalkan gaya terlalu ramai. Setelah beberapa tahun busana Lebaran dipenuhi brokat tebal, payet besar, dan warna mencolok, kini banyak konsumen memilih desain yang lebih tenang. Perubahan ini selaras dengan konsep estetika minimalisme dalam mode.
Dalam buku The End of Fashion karya Teri Agins, dijelaskan bahwa industri mode selalu bergerak dalam siklus dari berlebihan menuju kesederhanaan, lalu kembali lagi. Minimalisme sering muncul sebagai respons terhadap kejenuhan visual. Hal serupa juga dikemukakan dalam Fashion as Communication karya Malcolm Barnard. Busana bukan hanya penutup tubuh, melainkan medium komunikasi sosial.
Pilihan warna lembut dan potongan sederhana dapat menyampaikan pesan kedewasaan, stabilitas, dan ketenangan. Dalam konteks Lebaran, pesan itu menjadi relevan. Hari Raya bukan hanya ajang tampil modis, tetapi juga momentum mempererat hubungan keluarga.
Peran Media Sosial dan Strategi Branding Pedagang
Tidak bisa dimungkiri, media sosial berperan besar dalam melambungkan dua istilah ini. Satu video yang viral dapat mengubah model biasa menjadi buruan nasional dalam hitungan hari. Pedagang di Tanah Abang pun cermat memanfaatkan momentum. Mereka memberi label unik agar mudah diingat pembeli.
Strategi ini sejalan dengan teori branding modern yang menekankan pentingnya diferensiasi nama untuk menciptakan daya tarik emosional. Nama yang unik membuat konsumen merasa membeli sesuatu yang “lagi hype”, bukan sekadar gamis biasa. Ada sensasi menjadi bagian dari tren.
Estetika, Kenyamanan, dan Prinsip Islami
Meski istilahnya menarik, faktor utama yang tetap menentukan pilihan adalah kenyamanan. Lebaran identik dengan aktivitas panjang dari salat Id, silaturahmi ke beberapa rumah, hingga sesi foto keluarga. Bahan yang adem, tidak mudah kusut, dan potongan yang memberi ruang gerak menjadi pertimbangan utama.
Dalam perspektif etika berpakaian Muslimah, busana yang sopan dan nyaman juga selaras dengan prinsip kesederhanaan yang diajarkan dalam Islam. Karena itu, baik gamis “bini orang” maupun “kebanggaan mertua” pada dasarnya menawarkan hal serupa: tampilan anggun tanpa berlebihan.
Tanah Abang: Barometer Tren Busana Lebaran
Meski belanja daring semakin mudah, Pasar Tanah Abang tetap menjadi rujukan utama tren busana Lebaran. Banyak pembeli memilih datang langsung untuk memastikan kualitas bahan dan melihat jatuh kain secara nyata. Harga yang kompetitif juga menjadi daya tarik. Dengan anggaran ratusan ribu rupiah, pembeli sudah bisa mendapatkan gamis yang terlihat eksklusif.
Tren Lebaran tahun ini memberi satu pesan sederhana: tampil cantik tidak harus rumit. Kesederhanaan justru memancarkan kesan dewasa dan berkelas. Apakah memilih gaya yang lembut dan effortless, atau model yang lebih terstruktur dan proper, pada akhirnya busana hanyalah medium. Yang membuatnya bersinar adalah rasa percaya diri dan kebahagiaan saat merayakan hari kemenangan.
Fenomena tren busana Lebaran 2026 ini diamati dari aktivitas perdagangan di Pasar Tanah Abang, Jakarta, menjelang bulan suci Ramadan.
