Islami

Wakil Menteri Nezar Patria: John Tobing Alumni Terbaik UGM, “Darah Juang” Cerminkan Keresahan Zaman

Advertisement

Sebelum lagu dinyanyikan bersama, para alumni menggelar doa untuk almarhum John Tobing, yang merupakan alumni Filsafat UGM angkatan 1986. Lirik-lirik yang selama puluhan tahun menjadi nyala semangat aksi mahasiswa, kini terdengar lebih dalam, penuh kehilangan sekaligus kebanggaan.

“Darah Juang” dan Warisan John Tobing

Dekan Fakultas Filsafat UGM, Siti Murtiningsih, alumni angkatan 1990, menyebut Fakultas Filsafat memiliki warisan kontribusi yang sering luput dari perhatian publik. Ia mengingatkan bahwa “Himne Gadjah Mada” pun diciptakan oleh alumni Filsafat.

Siti Murtiningsih menyoroti John Tobing, atau akrab disapa Bang Jon, sebagai sosok yang karyanya dikenal luas. Menurutnya, hampir tak ada generasi mahasiswa dari Aceh hingga Papua yang tak mengenal “Darah Juang“. Lagu itu hadir dalam aksi, orientasi kampus, hingga ruang-ruang diskusi, dengan lirik yang selalu menyentuh.

Nezar Patria: John Tobing, Sosok Intelektual dengan Ketajaman Hati

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital RI, Nezar Patria, alumni Filsafat 1990, turut berbagi kenangan. Ia menyebut John Tobing sebagai salah satu alumni terbaik UGM, gelar yang diberikan kampus pada tahun 2024.

Nezar mengenang John bukan semata sebagai sosok intelektual, melainkan pribadi dengan ketajaman hati yang luar biasa. “Dia mungkin bukan akademisi yang banyak menulis jurnal. Tapi dia menangkap kegelisahan zaman dengan sangat tajam. Itu yang membuat ‘Darah Juang’ terus relevan dari akhir 80-an, 90-an, hingga hari ini,” kata Nezar. Bagi Nezar, lagu tersebut adalah cermin keresahan, keberanian, dan harapan generasi.

Relevansi Filsafat di Tengah Arus Teknologi

Malam itu bukan hanya tentang nostalgia, tetapi juga diskusi mengenai masa depan. Nezar Patria menilai, di tengah derasnya arus kecerdasan buatan dan perubahan teknologi, filsafat justru menemukan relevansi baru. “Filsafat sekarang dibutuhkan untuk menjawab pertanyaan fundamental tentang kesadaran, etika, dan kecerdasan buatan,” ujarnya, menyebut bidang etika AI kini menjadi ruang kontribusi penting bagi para pemikir filsafat.

Advertisement

Fakultas Filsafat UGM sendiri, menurut laporan dekanat, kini semakin diminati. Banyak calon mahasiswa menjadikannya pilihan pertama, sebuah perubahan signifikan dibandingkan masa lalu. Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni UGM periode 2022–2027, Arie Sujito, menegaskan bahwa sejak awal, Filsafat termasuk fakultas yang memiliki pengaruh kuat di UGM.

Arie melihat Filsafat bukan sekadar ruang akademik, tetapi pusat diskursus yang memberi warna bagi komunitas Yogyakarta. Ia mengapresiasi para alumni yang terus menjaga budaya kebersamaan dan kontribusi nyata bagi bangsa, menekankan pentingnya nilai-nilai seperti keadilan dan kesejahteraan dalam setiap kemajuan teknologi.

Silaturahmi Lintas Generasi yang Menguatkan

Bukber malam itu terasa istimewa, menjadi kali pertama acara alumni Filsafat dihadiri Wakil Rektor UGM. Kehadiran para tokoh, termasuk sastrawan Eka Kurniawan, Ajar Edi (VP Presiden PT Indosat Tbk), dan Ketua Kagama Filsafat Aryaning Arya Kesra, menambah hangat suasana.

Momen paling membekas adalah ketika seluruh ruangan berdiri dan menyanyikan “Darah Juang” bersama. Tak ada panggung megah atau sorotan lampu berlebihan, hanya suara yang menyatu, mengalirkan kenangan dan semangat yang tak lekang oleh waktu. Para alumni sepakat bahwa silaturahmi adalah ruang merawat ingatan, memperkuat kohesi, dan menyalakan kembali api kontribusi untuk Indonesia.

Informasi mengenai acara ini disampaikan melalui laporan dan testimoni para alumni serta pejabat UGM yang dirilis pada Sabtu, 28 Januari 2026.

Advertisement