Bursa saham Amerika Serikat, Wall Street, ditutup menguat tipis pada perdagangan Selasa (17/2/2026) waktu setempat. Kenaikan indeks utama tertahan oleh tekanan signifikan di sektor perangkat lunak (software) yang dipicu oleh kekhawatiran disrupsi kecerdasan buatan (AI).
Pergerakan Indeks Utama Wall Street
Berdasarkan data perdagangan, indeks S&P 500 naik 0,1 persen ke level 6.843,22. Nasdaq Composite menguat 0,14 persen menjadi 22.578,38, sementara Dow Jones Industrial Average bertambah 32,26 poin atau 0,07 persen ke posisi 49.533,19.
Penguatan terbatas ini terjadi di tengah rotasi dana investor dari saham-saham software yang sudah tertekan sepanjang tahun ke sektor keuangan. Hal ini mendorong saham Citigroup melonjak 2,6 persen dan JPMorgan menguat lebih dari 1 persen.
Tekanan di Sektor Perangkat Lunak
Sebaliknya, tekanan masih membayangi saham teknologi, khususnya penyedia perangkat lunak. ServiceNow turun lebih dari 1 persen dan telah melemah sekitar 31 persen sepanjang tahun 2026. Autodesk dan Palo Alto Networks masing-masing terkoreksi lebih dari 2 persen.
Pelemahan juga dialami oleh Salesforce dan Oracle yang masing-masing merosot hampir 3 persen dan 4 persen dalam sehari. ETF iShares Expanded Tech-Software Sector (IGV) turut merosot lebih dari 2 persen pada perdagangan Selasa, mencatatkan total penurunan 23 persen sepanjang tahun berjalan.
Dampak Disrupsi AI terhadap Valuasi
Sektor software tertekan oleh kekhawatiran bahwa teknologi AI berpotensi menggantikan sejumlah penyedia perangkat lunak khusus industri. Chief Investment Strategist Concurrent Investment Advisors, Leah Bennett, menyatakan pasar membutuhkan waktu untuk melihat dampak AI terhadap kinerja laba perusahaan.
“Kita hanya perlu waktu untuk melihat seperti apa kinerja laba dari sebagian perusahaan ini nantinya,” ujar Bennett. Ia menambahkan bahwa perusahaan tanpa keunggulan kompetitif atau “moat” bisnis yang jelas berisiko mengalami penurunan kinerja di era disrupsi.
Strategist saham AS Citi, Scott Chronert, menilai inovasi AI memunculkan pertanyaan terhadap valuasi jangka panjang di berbagai sektor. Menurutnya, investor kini lebih fokus pada risiko spesifik masing-masing industri dibandingkan eksposur pasar secara luas.
Fokus pada Data Inflasi dan Kebijakan The Fed
Di sisi lain, pasar mulai mencerna rilis data inflasi terbaru di mana indeks harga konsumen (CPI) Januari tercatat lebih rendah dari perkiraan ekonom. Pekan ini, investor menantikan rilis indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) pada Jumat, yang merupakan indikator inflasi favorit Federal Reserve.
Informasi lengkap mengenai pergerakan pasar modal ini dihimpun dari laporan resmi bursa saham AS dan pernyataan analis yang dirilis melalui CNBC pada Rabu (18/2/2026).
