Ahli Ungkap Fakta di Balik Mitos Suhu AC 16 Derajat: Benarkah Bikin Tagihan Listrik Melonjak?
Sebuah unggahan video di TikTok baru-baru ini memicu diskusi publik mengenai penggunaan optimal pendingin udara (AC). Unggahan dari akun @feli****** pada 10 November 2025 tersebut menyoroti klaim bahwa menyetel suhu AC pada 16 derajat Celsius dapat menyebabkan peningkatan signifikan pada tagihan listrik bulanan. Menanggapi fenomena ini, seorang pakar teknik elektro dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) memberikan penjelasan komprehensif.
Penjelasan Ahli Mengenai Suhu AC Ideal
Dosen Pendidikan Teknik Elektro UNY, Toto Sukisno, membenarkan bahwa pengaturan suhu AC di 16 derajat Celsius memang berpotensi memicu pemborosan energi. Menurut Toto, kondisi ini memaksa kompresor unit AC bekerja lebih keras dan dalam durasi yang lebih lama untuk mencapai suhu ruangan yang diinginkan. “Betul, saat setting suhu di 16 derajat, artinya kita memaksa kompresor pada unit AC bekerja lebih keras untuk mengondisikan ruang, sehingga konsumsi energinya meningkat,” jelas Toto kepada Kompas.com pada Selasa, 27 Januari 2026.
Ia menambahkan, jika kompresor terus-menerus bekerja di bawah tekanan tinggi, konsumsi listrik akan melonjak drastis dan berisiko memperpendek usia pakai perangkat AC. Toto menekankan bahwa fungsi utama AC adalah menciptakan kenyamanan termal, bukan mendinginkan ruangan hingga batas maksimal. Rentang suhu yang ideal untuk kenyamanan termal berada di kisaran 22 hingga 26 derajat Celsius.
Oleh karena itu, Toto menyarankan suhu AC yang paling efisien dan nyaman adalah sekitar 24 derajat Celsius. “Artinya, jika setting remote di bawah 24 derajat, maka akan mengakibatkan konsumsi energi yang lebih besar bila dibanding setting di 24 derajat Celcius,” paparnya. Ia juga merekomendasikan pengaturan suhu dilakukan secara bertahap, dimulai dari suhu yang lebih tinggi kemudian diturunkan perlahan hingga mencapai tingkat kenyamanan.
Dampak Kebiasaan Mematikan dan Menyalakan AC
Selain pengaturan suhu, Toto Sukisno juga menyoroti kebiasaan sering mematikan dan menyalakan AC sebagai penyebab lain pemborosan listrik. Setiap kali AC dinyalakan kembali, sistem memerlukan energi ekstra untuk mendinginkan ruangan dari kondisi awal. Toto mengilustrasikan, kompresor akan bekerja penuh hingga target suhu tercapai.
Pada AC konvensional, kompresor akan mati setelah suhu stabil dan menyala kembali saat suhu meningkat. Namun, jika AC sering dimatikan dan dinyalakan, kompresor harus selalu memulai kerja dari awal, yang berujung pada konsumsi energi lebih besar. Dampak serupa juga terjadi pada AC inverter, di mana kebiasaan ini dapat mengurangi efisiensi kinerja kompresor. “Kalau AC dihidup-matikan, maka sistem akan memulai kerja dari awal lagi. Ini membutuhkan energi lebih besar untuk mengondisikan udara sesuai suhu yang diinginkan,” pungkas Toto.
Informasi lengkap mengenai efisiensi penggunaan AC ini disampaikan melalui pernyataan resmi Dosen Pendidikan Teknik Elektro UNY, Toto Sukisno, yang dirilis pada 27 Januari 2026.