AI Seret Tokoh Publik dalam Skandal Epstein: Wali Kota New York dan Nikki Haley Jadi Korban Gambar Rekayasa
Kecerdasan buatan (AI) kembali menjadi sorotan setelah serangkaian gambar manipulatif beredar luas, secara keliru mengaitkan sejumlah politisi Amerika Serikat dengan mendiang terpidana kejahatan seksual, Jeffrey Epstein. Gambar hasil rekayasa AI ini sengaja disebarkan di media sosial untuk membangun narasi palsu, termasuk yang menyeret nama Wali Kota New York, Zohran Mamdani.
Penyebaran Disinformasi Berbasis AI
Lembaga pemantau disinformasi NewsGuard pada Selasa, 3 Februari 2026, melaporkan bahwa setidaknya tujuh gambar manipulatif telah beredar luas dan secara kolektif meraup lebih dari 21 juta tayangan di platform X. Temuan ini, sebagaimana dilansir BBC, menegaskan meningkatnya ancaman disinformasi berbasis teknologi yang semakin mengaburkan batas antara fakta dan fiksi.
Penyebaran konten palsu tersebut muncul tak lama setelah Departemen Kehakiman (DOJ) AS merilis kumpulan terbaru dokumen terkait kasus Epstein. Arsip tersebut mencakup lebih dari 3 juta dokumen, foto, dan video hasil penyelidikan terhadap Epstein, yang meninggal dunia pada 2019 dalam tahanan, dalam kasus yang dinyatakan sebagai bunuh diri.
Nama-nama yang Terseret dalam Rekayasa AI
Skandal Epstein memang menyeret sejumlah tokoh global ternama, mulai dari mantan Pangeran Andrew dari Kerajaan Inggris hingga Putri Mahkota Norwegia Mette-Marit. Namun, nama Zohran Mamdani maupun mantan kandidat presiden dari Partai Republik, Nikki Haley, tidak termasuk dalam daftar tersebut.
Meskipun demikian, sejumlah pengguna media sosial berhaluan konservatif menyebarkan tiga gambar yang seolah memperlihatkan Epstein berpose bersama Mamdani saat masih anak-anak. Dua gambar lainnya turut menampilkan Mira Nair, ibu Mamdani yang dikenal sebagai sutradara film peraih penghargaan.
NewsGuard menegaskan, gambar-gambar tersebut merupakan hasil rekayasa AI. Analisis menggunakan alat kecerdasan buatan milik Google, Gemini, menemukan adanya SynthID, tanda air digital tak kasat mata yang digunakan untuk mengidentifikasi konten buatan AI.
Salah satu gambar palsu itu bahkan dibagikan oleh tokoh teori konspirasi Alex Jones melalui akun X miliknya dan telah ditonton lebih dari 1,5 juta kali. Jones mengeklaim chatbot AI Grok menyebut gambar tersebut asli. Klaim ini kembali memicu kekhawatiran para peneliti soal ketidakandalan chatbot AI sebagai alat pemeriksa fakta.
Klaim Palsu Lainnya dan Kejanggalan Data
Selain gambar manipulatif, beredar pula tangkapan layar email yang diklaim dikirim Nikki Haley kepada Epstein. Dalam pesan tersebut, Haley disebut meminta pengaturan penerbangan dengan alasan membawa dua bayi. Namun, pencarian terhadap email itu dalam arsip Departemen Kehakiman AS tidak menemukan bukti keberadaannya.
Tangkapan layar tersebut juga memuat kejanggalan lain, termasuk penanggalan yang keliru. Email itu bertanggal 7 Januari 2014 dan disebut dikirim pada hari Sabtu, padahal tanggal tersebut jatuh pada hari Selasa. Haley belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar AFP. Sebelumnya, ia justru pernah mendorong pemerintahan Presiden Donald Trump untuk membuka seluruh dokumen Epstein kepada publik.
Ancaman Global Disinformasi AI
Kasus serupa juga muncul di Amerika Latin. Sebuah gambar yang diklaim memperlihatkan Epstein duduk berdampingan dengan tokoh oposisi Venezuela, Maria Corina Machado, pada ajang Hampton Classic Horse Show 2002, turut beredar luas. Hasil penelusuran NewsGuard menunjukkan gambar tersebut merupakan versi digital yang telah diubah dari foto Epstein bersama seorang miliarder AS.
Upaya manipulasi digital semacam ini bukan kali pertama terjadi. Tahun lalu, saat Mark Carney mencalonkan diri sebagai pemimpin Partai Liberal Kanada, gambar-gambar yang diklaim memperlihatkan dirinya bersama Epstein dan Ghislaine Maxwell juga beredar di media sosial. Pemeriksa fakta AFP menyatakan gambar tersebut memiliki ciri kuat sebagai konten buatan AI.
Fenomena ini memperlihatkan bagaimana teknologi kecerdasan buatan kian dimanfaatkan untuk menyebarkan disinformasi politik, terutama dalam isu sensitif yang melibatkan tokoh publik dan skandal global.
Informasi lengkap mengenai isu ini disampaikan melalui laporan lembaga pemantau disinformasi NewsGuard yang dirilis pada 3 Februari 2026.